HTTP 404

HTTP 404
Bab #73


__ADS_3

Reid membentak Leonna cukup kencang. Leonna refleks tergugu takut. Bulu kuduknya ikut meremang tegang, lebih lagi setelah melirik kecil ke kanan dan ke kiri. Hanya ada deru bisik-bisik dari rimbun pepohonan, begitu sepi dan tidak tahu dari mana berhasil membuat Leonna berpikiran macam-macam.


‘Apa Reid berniat membalaskan dendam dan meminta ganti rugi karena peristiwa tidak mengenakkan pagi kemarin? Tapi kalau begitu, mana mungkin juga Reid mau berbaik hati membantuku dari tabrakan pengendara sepeda motor pada jam pulang sekolah setelahnya?’


“Cepat! Apa kau mau seharian berdiri di sana?!”


Leonna sontak berhenti melamun. Mulutnya menganga lebar, amat terkejut dengan pemandangan anti-mainstream beberapa meter dari jaraknya berdiri. Tampak Reid dengan kalem maksimal sudah berjongkok di atas tembok tanpa cat alias murni hanya dalam balutan semen kasar dan kelihatan begitu usang lagi jelek, setinggi hampir atau bisa jadi lebih dari tiga meter.


Tidak jelas pula sejak kapan dan bagaimana Reid sudah berada di atas sana. Tapi lebih membuat Leonna heran, karena tidak ada setitik pun bulir keringat yang sekedar bertengger apalagi sibuk-sibuk berseluncur turun dari pelipis Reid.

__ADS_1


Apa mungkin akan masuk akal kalau makhluk bernama Reid ini ternyata memiliki sebuah kekuatan super? Semacam jaring laba-laba Peter Parker dalam film fiktif dari Marvel, Spider-Man? Atau lebih realistis, para traceur dan traceuse—praktisi parkur generasi pertama? Yah intinya, Leonna benar-benar tidak habis pikir dengan metode Reid bisa sampai di atas dinding sana.


“Apa yang sedang kau lakukan?! Apa kau sudah bosan hidup?!”


Leonna berteriak cemas. Horor sekali dalam bayangannya kalau harus sampai-sampai menjadi satu-satunya saksi mata dari tragedi mati konyol seorang siswa kelas dua belas yang harus meregang nyawa gara-gara terjatuh dari atap tembok dan semakin memalukan, karena di latar belakangi kelalaiannya sendiri yang datang terlambat ke sekolah dan tetap memaksa ingin masuk, meski dengan cara tidak lazim pun tidak dianjurkan demi keselamatan jiwa serta terutama, bagi reputasi emas institusi pendidikan mereka.


“Terserah kau mau ikut atau tidak, tidak ada ruginya juga kalau kau tidak ikut.”


Kedua mata biru Leonna membelalak ngeri. Tenggorokannya ikut sakit setelah berteriak beberapa detik lalu, sebab siapa yang dapat menyangka, hanya dalam satu tarikan dan dirinya kini sudah berada di atas tembok, di sebelah Reid dengan jemari dingin yang terselip di antara lapisan epidermis kasar telapak tangan mayor Reid.

__ADS_1


“Lompat. Cepat lompat! Apa yang kau lakukan, hei! Apa kau tuli?!”


Detak memekakkan, sensasi panas dan kejutan listrik pada aliran darah juga syaraf-syaraf Leonna saking ributnya hingga menjadikan fokusnya buntu dan baru sadar setelah kata tuli keluar dari mulut setajam silet Reid.


“E-eh? Aku? Lompat? Tidak mungkin aku...”


Leonna menggeleng-geleng enggan dengan kedua lengan memeluk erat-erat kaki mulus tidak berbulunya sembari menenggelamkan grogi setengah wajahnya di balik tempurung lutut yang agak lengket keringat akibat terik matahari yang semakin panas mengudara di angkasa bersih tanpa kabut gelap dan hanya sedikit dihiasi gumpalan awan putih tipis di sana-sini.


.

__ADS_1


.


To be continue...


__ADS_2