HTTP 404

HTTP 404
Bab #110


__ADS_3

“Tidak. Ya, maksudku,” Reid membalikkan tubuhnya seraya agak menundukkan kepala, memandang grogi Leonna. “Aku hanya bisa mengajarimu di jam istirahat, selepas pulang sekolah atau sore hari setelah aku menyelesaikan kerja paruh waktuku di swalayan.”


Wajah Leonna rasanya menghangat. Ia kaget sekali ketika Reid tiba-tiba menatap tepat ke dalam dua iris biru safirnya. “Aku tidak masalah. Kau sudah mau membantuku saja, aku sudah sangat terbantu. Maksudku, aku lemah sekali dalam matematika. Tapi, kalau kau tidak merasa terbebani...”


Reid menengguk air liurnya susah payah. Sesuatu di balik relung dadanya seketika saja berdesir ketika melihat ekspresi Leonna yang entah kenapa begitu, ehm, ‘Menggemaskan.’


“...aku punya banyak waktu kosong. Jadi, kapan saja aku oke.” Tukas Leonna. Sontak merasa malu saat ia tidak sengaja tertangkap basah tengah mencuri pandang ke arah paras ganteng Reid.


Sementara Reid dengan perasaan membuncah dan sangat asing, kemudian hanya bisa mengangguk seraya tersenyum keki. Ia setelah sedikit kalem lalu berujar, “Baik. Aku akan mengirimkan pesan nanti. Dan, kau,”


Netra Reid memandang tidak fokus ke arah tembok bercat putih di belakang Leonna. Ia tadi tidak sengaja melirik jam tangan dan baru sadar kalau Leona juga belum makan siang seperti dirinya.


“Mau makan siang bersama? Tapi aku hanya ada ini. Dan, ehm, jika kau tidak mau tidak apa-apa. Aku bisa menemanimu ke kafetaria sekarang.”

__ADS_1


Bungkusan plastik yang entah sejak kapan berada di jinjingan Reid, oleh empunya itu lantas diselipkan ke balik jaket. Ia pun tanpa menunggu respons Leonna, refleks buru-buru berputar arah menuju kafetaria.


Sedangkan Leonna yang tersentak, spontan menghentikan pergerakan Reid yang baru terhitung satu langkah. Ia lalu berseru agak kelewat bersemangat, “Aku! Aku ingin makan roti dan susu rasa cokelat!”


Tawa renyah sontak terlontar dari bibir menggoda Reid. Ia terkejut memang, tapi lebih mengejutkan dengan cara bicara Leonna yang mendadak gagap. Lucu dan menggemaskan, pikirnya.


“Aku sedang ingin makan roti. Dan tadi pagi pun aku tidak sempat minum—” Leonna mengurut ibu jari tangan kanannya tidak nyaman. “—susu. Oh, dan tenang, aku akan gantian mentraktirmu lain waktu. Namun, jika kau lapar sekali, aku tidak ap—”


Reid tiba-tiba menariknya untuk duduk bersebelahan di bangku taman. Ia walau rada kaget dengan pasrah menurut. Kemudian Reid meski masih agak ragu, beranjak mengeluarkan cepat belanjaan murahnya dari dalam plastik.


“Kau ingin susu rasa cokelat atau stroberi? Apa mungkin kau lebih suka yang rasa stro—be—ri—” Leonna seketika sudah berada di jarak super berbahaya dengan Reid.


Ia yang awalnya hanya berniat ingin menyabet susu kotak rasa stroberi dari tangan Reid, tidak tahu bagaimana, malah terpeleset dan berakhir tidak elit menubruk dada bidang cowok di depannya.

__ADS_1


“O—oh...”


Nafas Reid mendadak tercekat. Bau parfum lembut bercampur aroma manis dan segar yang menguar dari pucuk kepala Leonna, seolah habis melayangkan sejumput sihir dengan ia yang malangnya sebagai target.


Mereka berdua untuk beberapa detik lantas mematung. Membeku konyol bagaikan dua ekor ikan yang terjebak di dalam balok es di perairan dingin kutub utara.


‘Kejadian memalukan apalagi ini?! Yak, Leonna! Apa kau sekarang sedang berlatih menjadi seorang Devka?! Mengerikan.’


.


.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2