HTTP 404

HTTP 404
Bab #52


__ADS_3

Suasana di depan Leonna sekarang, bukan main canggungnya. Pelajaran ke empat hari ini kurang beruntungnya hanyalah belajar sendiri (baca; self-studi).


Pak Ron yang seharusnya berjaga di kelas mereka pun, entah kenapa setelah keluar di lima menit pertama bel berdering tadi sampai sekarang belum menampilkan kembali batang hidungnya.


“Jadi itu yang katanya akan menikah dengan Pangeran Es kita?” Penggosip RW II {Rank Warrior; kepo, kuy!}.


“Benar. Aku mendengarnya sendiri tadi saat melewati kelas C-2.” Penggosip REp I {Rank Epic; sang penemu dan narasumber kawakan}.


“Kau yakin dia bicara seperti itu? Pangeran Es kita kan tidak akan mungkin tiba-tiba saja menikah dengan anak baru itu. Oh, apa jangan-jangan keluarga mereka yang menjodohkan?” Penggosip RGrM IV {Rank Grand Master; ahli pembuat spekulasi}.


“Tidak mungkin. Tetapi, memang kalau dipikir-pikir lagi. Rumor yang akhir-akhir ini tengah beredar dan hangat-hangatnya di sekeliling Reid, bukannya selalu saja membawa-bawa gadis itu?” Penggosip MyG II {Rank Mythical Glory; gali terus, sampai mentok!}.


“Cih! Rentetan cerita-cerita menggelikan yang kalian dengar, paling hanya buah kreasi si gadis murah itu sendiri.” Penggosip RL III {Rank Legend; komentar sepedas Carolina Reaper tingkat 2.200.000 SHU}.


Gendang telinga Leonna rasanya tidak hanya akan terbakar, melainkan bisa jadi akan meledak dan berakhir menjadi ia yang tuli mendadak. Syukur, Oh Min-Ju di sebelahnya tidak memilih ikut nimbrung.


Memang sih, saat ia baru sekali tiba di kelas. Gadis yang berasal dari negeri yang terkenal sekali dengan standardisasi kecantikannya itu, tiba-tiba saja bertanya ‘ada apa’ dan apa yang telah terjadi, sampai-sampai ia ini bisa menjadi bahan gosip utama di kalangan para pelajar Stuyvesant.


Namun, mungkin karena memang Oh Min-Ju notabene-nya adalah orang yang mudah peka. Gadis itu tidak lagi bertanya begitu Leonna tidak langsung menjawab pertanyaannya dan hanya menanggapi dengan senyum paksa.


“Kau baik-baik saja kan?” Oh Min-Ju tiba-tiba buka suara. Leonna lantas menengok dan menjawab pendek, “Ya. Aku baik.”


“Kau yakin?” Oh Min-Ju bertanya lagi.


“Itu—” Leonna berpikir sejenak. Diam-diam menimbang untuk mengeluarkan sedikit curahan hatinya atau tidak. “—aku sedang datang bulan. Jadi, perut dan pinggangku sedikit sakit dan pegal.”


Oh Min-Ju refleks membelalakkan kedua mata sipitnya. Ia lalu mengangguk-angguk pengertian. Kemudian berkata, “Pantas saja wajahmu pucat dan cara dudukmu kelihatan tidak nyaman. Kau ternyata sedang datang bulan.”

__ADS_1


Leonna sontak terkekeh pelan mendengar tanggapan simpel Oh Min-Ju. Mereka berdua pun saling bertukar tanya, tanggapan, dan cerita hingga jarum jam dinding kelas menunjukkan sepuluh menit terakhir sebelum bel istirahat ke dua berbunyi.


“Apa?! Biasmu juga Kim Taehyung? Benarkah? Serius?” Tanya Oh Min-Ju super semangat.


“Ya. Aku pernah menonton konser band-nya bulan Juli tahun lalu. Oh, apa kau juga tahu Dowoon?” Binar mata Oh Min-Ju semakin berbinar cerah. Ia kelihatan sekali amat tertarik dengan deretan kalimat Leonna sekarang.


“Aku mendengar salah satu lagu grupnya di platform Chillaxin’ dan boom! Aku langsung jatuh cinta begitu mendengar permainan drum, juga bagaimana alunan musik serta suara mereka yang terdengar begitu segar dan tidak membosankan,”


Leonna berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Ia kemudian melanjutkan kata-katanya dengan nada bicara yang lebih kalem, “Meski, jika aku boleh jujur. Aku sebenarnya bukan termasuk penggemar musik bergenre pop-rock. Tapi, intinya. Aku menyukai lagu-lagu mereka.”


Hening. Sunyi. Senyap. Oh Min-Ju tidak langsung menanggapi. Gadis itu yang ada malah ternganga konyol, sembari kedua bola matanya membulat lucu. Ia kemudian setelah mungkin, mengatur keterkejutannya itu, lantas berkomentar dengan kelewat ribut.


“Daebak! Kau yang tinggal di Rusia pun bisa tahu dengan grupnya? Aku tidak percaya ini. Kalau begitu, kau pasti sudah mendengar lagu mereka yang berjudul Zombie, kan?”


Hati Leonna yang bermenit-menit lalu terasa berat dan begitu tertekan, perlahan mulai kembali tenang dan jauh lebih lega. Ia kemudian dengan nada riang, namun volume rendah, menyanyikan sedikit bagian chorusnya.


“I feel like I became a zombie~”


“Bagaimana kalau Baekhyunie? LEOY? Mingyu? Wonwoo? Apa kau pernah mendengar nama mereka? Juga, Heechan? Mark? Ethan Lee? Felix? Apa kau pernah?” Bombardir Oh Min-Ju.


Leonna yang mendadak kembali gugup dan tidak nyaman, refleks mengurut jari-jemarinya dengan terlampau bertenaga.


Padahal suasana hati dan pikirannya tadi itu sudah terasa sangat ringan lagi jernih. Namun sekarang, satu per satu siswa-siswi, baik yang sekadar iseng, memang penasaran, atau hanya karena refleks saja. Fokus mereka serta merta terlihkan dan mendarat ke arahnya juga Oh Min-Ju.


Ia kesal? Jelas. Tapi, ia akan tampak amat egois. Jika, ia dengan terang-terangan malah memarahi Oh Min-Ju yang sejujurnya hanya sedang kelebihan dosis maniak pada para oppa Korea itu.


Toh, percakapan mereka juga kan, bisa jadi tidak ada yang paham. Pengecualian sih, kalau memang ada yang sama-sama gila K-Pop seperti mereka ini.

__ADS_1


“Apa kau ini multi fanatik fans? Mengapa kau memiliki banyak bias dalam band yang berbeda? Jangan bilang kau ini hanyalah penggemar musiman?” Cemooh Leonna penuh canda.


Sementara Oh Min-Ju yang seratus persen tidak secuil pun merasa tersinggung, spontan berucap dengan tanda baca, ralat, bicara yang amat tidak konsisten di akhir kalimatnya.


“Oh, aku tentu saja penggemar yang setia. Dan karena mereka juga mau tidak mau harus melakukan poligami dengan seluruh penggemar mereka. Aku jelas tidak boleh diam-diam saja dan menjadi pasif. Benar, kan?”


“Pasif? Apa maksudmu?”


Oh Min-Ju membisu sebentar. Ia lalu sibuk merogoh-rogoh tas jinjingnya. Kemudian mengeluarkan sebuah pulpen dan buku catatan warna-warni berukuran mini.


“Ya, kau tahu kan. Kita sebagai penggemar dan perempuan juga memiliki yang namanya kasus poliandri. Jadi, supaya dukunganku tidak memudar akibat cemburu dan bosan. Aku perlu sekali kan, mencari bias baru sebagai sampingan?”


Lembar halaman bernuansa kuning yang sebelumnya kosong, kini telah sesak corat-coret tidak karuan tinta biru Oh Min-Ju. Leonna yang mendengar penjelasan ‘unik’ kawannya, sontak tidak tahan untuk tidak berkomentar.


“Jadi dari daftar bias nomor duamu ke bawah, semuanya hanyalah sampingan? Paruh waktu, begitu?”


“Hehe, kau terlalu blak-blakan.” Tawa renyah meluncur bebas dari bibir tipis Oh Min-Ju.


KRINGGG!!!


Meski atmosfer antara si gadis transfer Rusia dan si Korea Selatan begitu menyenangkan dan ceria, percakapan ramah-tamah mereka terpaksa harus berhenti sampai di situ. Sebab, tidak ada tiga detik setelahnya, dering bel tanda istirahat ke dua akhirnya berbunyi.


Namun, bukan hanya sorak-sorai gembira cacing-cacing diperut Leonna dan Oh Min-Ju yang terdengar heboh. Melainkan kurang mujurnya juga, sahut-menyahut jerit tertahan dari para pelajar perempuan, ketika mereka mendapati kunjungan dadakan dari dua pemuda dalam daftar ‘Pacar Idaman Gadis-Gadis Gen 5.0’.


“Apa Leonna Mileková ada?”


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2