
Tok... Tok... Tok...
“Leonna, aku membawakan bubur dan obat demam.”
“...” Tidak ada jawaban. Reid mengetuk lagi pintu kamar Leonna. Namun, setelah ia menunggu sekitar tiga puluh detik, Leonna masih belum juga bergeming.
“Baiklah. Maaf mengganggu sebelumnya. Aku akan masuk.”
Gerak-gerik Reid sekarang mirip sekali dengan sosok pelayan. Rajin bersih-bersih, sapu-pel, cuci piring, memasak (bubur), dan yang paling penting, berbicara super sopan serta mengetuk pintu super lembut. Sedangkan peran Leonna sendiri tidak perlu ditanya. Gadis Rusia itu jelas-jelas berprofesi sebagai seorang Nyonya Besar atau Master, mungkin.
KLAK!
Pintu kamar Leonna dibuka dengan amat hati-hati. Debar jantung Reid memang masih belum seratus persen tenang. Tetapi, ‘pelayanannya’ tidak akan selesai-selesai kalau ia hanya terus-menerus bermeditasi. Karena sesuai kata pepatah, ‘sekarang atau tidak sama sekali.’
“Leonna, bangun. Kau perlu mengisi perutmu meski sedikit sebelum minum obat.”
Leonna menggeliat pelan. Tepukan dan beberapa kali colekan jemari Reid di pipi tirus Leonna, agaknya mulai berhasil membuat tidur cewek itu terganggu. Tiga kali tepukan lalu Reid layangkan kembali. Leonna yang sepertinya sudah benar-benar tidak tahan, perlahan membuka kelopak matanya.
“—Reid?”
Leonna mengerjap beberapa kali. Ia malu dan canggung sekali ketika mendapati wujud ganteng Reid dengan apron. Pemuda jangkung itu bahkan sampai membuatkan bubur untuknya.
“Ya, aku—maksudku. Ini makanlah dulu. Kemudian minum obat.”
“Terima kasih.”
Nampan berisikan semangkuk bubur dengan campuran sedikit potongan beberapa jenis sayuran Reid letakkan tepat di atas paha Leonna. Jari-jemari Leonna kemudian mulai mengambil sendok dan menyuap sedikit demi sedikit isi mangkuk. Reid yang tidak sadar tengah memperhatikan gerak-gerik Leonna mendadak mengernyitkan alisnya runyam.
“Kau perlu bantuan? Aku bisa, ehm, menyuapi sebentar kalau kau merasa kesulitan.”
“—Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri.”
__ADS_1
Leonna syok? Jelas. Baru kali ini ada orang selain orang tuanya dan Leo yang pernah berkata seperti itu. Apalagi hingga sibuk-sibuk merawat dan membuatkan bubur.
Leonna jadi heran sendiri. Kebaikan macam apa yang pernah ia buat di kehidupan sebelumnya sampai bisa sangat beruntung seperti ini? Lebih lagi, diperlakukan manis oleh cowok menawan sejenis Reid, perempuan dari galaksi mana yang tidak suka?
“Kau yakin?” Tanya Reid memastikan.
Leonna pun balas mengangguk mantap. Ia sebenarnya hanya ingin agar Reid buru-buru saja lenyap dari kamar. Sebab, bukan apa. Wajah Leonna sudah tidak hanya sekadar hangat, melainkan telah amat panas mendidih.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan menunggu di luar sampai kau selesai. Baru setelah itu—aku, ehm, aku akan pulang.”
Reid berdeham kecil. Ia baru sadar kalau perlakuannya terhadap Leonna bisa jadi malah membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Tetapi, ia tidak tahu pula apa masalahnya. Ia hanya ingin berada di sini lebih lama dan—memastikan keadaan ‘rekan’ kerja kelompoknya juga. Mungkin saja kan, alih-alih kondisi Leonna membaik yang ada malah tiba-tiba memburuk lagi.
“Maaf banyak merepotkanmu.”
CKLEK!
Pintu kamar Leonna tertutup. Atmosfer di ruangan yang telah bersih berkilau itu akhirnya menjadi lebih lengang. Leonna lega. Namun, jujur. Setelah kepergian Reid, ia malah merasa kalau mungkin akan lebih menyenangkan jika cowok itu tetap tinggal.
...🐣🐣🐣...
Masih ada sekitar lima puluh menit sebelum jam masuk kerja paruh waktu Reid di bar. Ia tadi karena sudah lebih dahulu berkata akan menunggu Leonna sampai selesai makan, jadi masih tetap tinggal di apartemen gadis itu.
Namun, agak beruntung untuk malam ini. Barista senior dan bosnya beberapa waktu lalu bilang agar ia mengambil saja libur satu dua hari. Jangan khawatir juga kata mereka. Gajinya hari itu akan tetap dibayar.
“Apa aku cuti saja malam ini? Aku benar-benar lelah.”
Reid bergumam pelan. Sofa panjang dan empuk di ruang tengah Leonna yang tadi sempat ia duduki, kini sudah berubah menjadi tempat tidur darurat. Reid berbaring sebentar untuk merilekskan otot-ototnya yang agak kaku. Kelopak matanya juga ikut memejam.
“Empuk dan sunyi.”
Diam-diam, Reid ingin sekali terus merasakan sensasi tenang seperti ini. Tidak perlu melakukan apa-apa dan hanya berbaring. Pasti enak sekali kalau ia tiba-tiba saja menjadi milyader. Atau trilyuner?
__ADS_1
Tapi, jelas itu sama sekali tidak mungkin. Ia saja terlahir ke dunia tanpa tahu-menahu siapa gerangan yang seharusnya berperan sebagai ayah dan ibunya. Meski begitu, suatu kali Bibi Skyle Harrison pernah berkata, kalau ia ini adalah anak yang teramat istimewa. Bagaimana tidak istimewa?
Seorang bayi yang bahkan belum mencapai dua bulan dapat bertahan hidup setelah terlantar ekstrem selama kurang lebih dua jam di antara hamparan salju dan temperatur rendah di bawah 13 derajat Celsius. Memang, tanah Macau ketika memasuki bulan Desember tidak terlalu dingin. Hanya saja, akan lain ceritanya jika itu adalah seorang bayi.
Syukur, pagi itu Bibi Skyle dan mantan suami berengseknya, Jett Keagan, tidak sengaja menemukan Reid (bayi). Dan setelah melewati banyak percekcokan serta hubungan yang kian lama kian kusut, Bibi Skyle dengan dermawan akhirnya memutuskan untuk betul-betul merawat Reid.
Kini Reid Cutler sudah besar dan Bibi Skyle juga sudah bertempat permanen di kota New York. Panti asuhan yang ditinggalkan oleh mendiang kakak Bibi Skyle pun sekarang sudah mendapat pengakuan resmi oleh Lembaga Adopsi dan Keselamatan Anak di Amerika Serikat.
Yayasan atas nama keluarga Harrison itu juga telah mendapat donasi bulanan rutin dengan nominal cukup besar dari beberapa pihak. Baik itu merupakan bantuan langsung dari suatu lembaga resmi pemerintah, himpunan dana dari beberapa perusahaan swasta, atau bahkan, uang dalam bentuk cek dari keluarga konglomerat di dalam atau luar Negeri Paman Sam.
“Cuti—tidak. Sepertinya aku datang telat saja malam ini. Tidak apa mungkin, hanya untuk dua puluh menit. Atau setengah jam?”
Reid dengan malas merogoh saku celananya. Ponsel pintar hasil pemberian Bibi Skyle tiga tahun delapan bulan lalu itu masih sampai sekarang ia gunakan. Layar ponsel yang sudah retak di beberapa tempat kemudian ia geser ke atas. Ia lalu langsung berseluncur menuju kotak pesan.
...[ Penerima: Bos Lyden Valve ]...
...Maaf sebelumnya bos. Ada beberapa hal darurat yang sedang aku kerjakan. Jadi, jika anda tidak keberatan. Mungkin aku akan datang telat sekitar tiga puluh menit. Sekali lagi maaf dan terima kasih banyak, bos....
Pesan dengan nama penerima Bos Lyden Valve tanpa ada satu pun revisi kemudian Reid kirim. Ia lalu memasukkan kembali ponsel pintarnya ke dalam saku celana. Balasan bosnya tidak perlu ia tunggu. Karena telah jelas sekali, mengingat bagaimana karakter ceria dan bebas bosnya itu. Responnya pasti hanya berupa kata ‘oke' atau ‘iya’ dengan sedikit banyak embel-embel emoji dan tanda seru.
“Leonna sepertinya masih belum selesai. Kalau begitu aku akan tidur sepuluh—atau lima belas menit? Ya. Lima belas menit saja.”
Reid tidak mau membuang-buang waktu. Ia tadi juga sudah memutuskan untuk menumpang tidur lima belas menit di sofa empuk Leonna. Enam menit berlalu cepat. Reid yang berbaring dalam keadaan miring menghadap ruang tengah kini pun telah pulas. Deru nafas beraturannya mengisi sepi apartemen Leonna.
“Reid? Kau bisa—”
.
.
Bersambung...
__ADS_1