
Wajah Reid tampak kusut. Pakaiannya juga kusut. Namun syukur, hatinya belum kusut seratus persen. Dan jelas, kekusutannya ini bukanlah tanpa sebab. Ia di pelajaran ke tiga tadi, terpaksa atau memang ia yang sejatinya memaksa datang telat empat puluh menit tujuh detik.
Meski begitu, rada aneh kalau ia cocokkan dengan tempramen guru-guru berlabel ‘killer’ di Stuyvesant. Ia memasuki kelas kelewat terlambat, tidak meminta ijin, dan tidak pula sempat memberikan alasan mengapa ia tiba saat bel pergantian pelajaran yang tidak ada setengah jam lagi akan berbunyi.
“Aku pikir kau akan membolos sampai mata pelajaran terakhir.”
Noah Thatcher membuka bungkusan permen rasa jeruknya dengan gerakan lambat. Ia dan Reid setiap minggu memang hanya akan dua kali satu kelas dalam pelajaran kimia praktik dan fisika teori.
Tapi, jangan tanya mengapa anak jurusan sosial sepertinya harus repot-repot mengikuti pelajaran fisika dan kimia. Apalagi fisikanya adalah fisika praktik. Sebab singkatnya, itu bisa dikatakan akibat kelalaiannya sendiri ketika masih duduk di tingkat satu.
Yup. Kredit standardisasi kelulusannya ada beberapa yang belum tercukupi dan persentase absensinya juga terdapat minus tiga poin.
“Aku kan sudah bilang hanya ijin telat di pelajaran ke tiga. Dan lagipula, tidak ada waktu juga untuk tingkat akhir seperti kita keseringan membolos.”
Kalimat terlampau dingin Reid menohok telak urat rasionalitas Noah. Ia tahu kalau pemuda yang tidak pernah absen bertengger di peringkat satu angkatan mereka ini, memang berkepribadian anti-mainstream dan rada ‘alot’.
Walau begitu, siapa yang dapat menyangka jikalau kealotan (baca; sifat membosankan) Reid ini akan teramat luar ‘binasa’?
“Apa kau sedang datang bulan? Kenapa sensitif sekali?” Kali ini Reid yang hatinya mendadak seperti tersengat tawon atau kalajengking, mungkin.
Meski masih lumayan beruntung pula agaknya. Karena Reid tadi tidak sedang mengunyah makanan atau menenggak air minum. Jikalau sialnya, iya. Pasti semua larutan dan makanan itu tanpa tahu malu akan langsung menyembur bak air mancur. Atau air terjun malah.
“Reid kau ini benar-benar sedang datang bulan rupanya,” Noah mengangguk-angguk sok mengerti, seraya menampakkan mimik muka konyol andalannya.
Ia lalu berujar lagi, namun kali ini dengan ekspresi yang super serius, “Mau kubelikan pembalut? CD baru? Obat pereda nyeri? Aku pinjamkan celana olahraga?”
__ADS_1
Sial seribu sial.
Air muka Reid spontan berubah hambar. Kata-kata gila Noah barusan, jelas amat persis dengan yang ia katakan dan realisasikan beberapa waktu lalu kepada Leonna. Ia pun mendadak menjadi bertanya-tanya sendiri. Apa beragam aksi yang ia lakukan untuk Leonna kala itu adalah hal kelewat umum bagi remaja seusianya?
Ia bingung parah. Kenapa ucapan Noah bisa sama persis begitu? Apa karena memang ada buku panduannya? Video tutorial? Atau malah terdapat materi pembelajarannya di Stuyvesant ini?
“Tunggu. Kenapa raut muka terlalu tampanmu jadi menjijikkan seperti itu. Jangan bilang kau ini benar-benar—” Nafas Reid sontak tercekat. Ia cemas sekali dengan kalimat Noah selanjutnya. “—datang bulan?”
“Apa semua saraf dan cabang-cabang semua saraf di otakmu itu terkena serangan virus? Apa mereka seluruhnya konslet? Rusak? Tidak lagi ingin berfungsi?” Curcol Reid sekenanya.
Ia sungguh tidak habis pikir dengan cara berpikir dan bercanda Noah yang kelewat kolot. Apa mungkin bocah ini tidak sama sekali pernah mengikuti materi biologi tentang reproduksi manusia?
Bagaimana bisa ia yang seorang pejantan murni dan tidak dibuat-buat, apalagi sintesis ini seenak mulutnya dicap tengah datang bulan? Sungguh. Noah sepertinya benar-benar sudah tidak waras.
“Tsk! Lidahmu itu pedas sekali. Apa kau menyantap cabe rawit untuk makan tiga kali sehari dan setiap ngemil?” Kesal Noah. Menghancurkan permen berwarna oranye di mulutnya hingga bertransformasi menjadi serbuk kasar.
“Coba kau pikir. Memangnya ada selain aku yang mau dengan susah payah berlari-lari dan melaporkan kesibukan ‘misteriusmu’ itu ke guru piket?”
Noah berhenti sejenak. Menghela nafas. Ia lalu berucap pendek dan terdengar agak ambigu di gendang telinga Reid, “Beruntung Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS kita berhati malaikat surga.”
“Apa hubungannya kepenatanmu dengan Axle dan Angus?” Reid bertanya tidak senang.
Ia bukannya ingin berprasangka jelek dengan duo anggota TTS itu. Tapi, mendengar dari banyaknya rumor tidak baik yang beredar tentang mereka, bahkan hingga di kalangan anak-anak nakal Stuyvesant. Pasti tidaklah bisa dianggap sepele. Lebih lagi jika relasi mereka ada sangkut pautnya dengan Leonna.
“Tentu saja ada. Mereka berdua yang dengan dermawannya membantuku memberitakan perihal keterlambatanmu dan gadis itu ke guru piket,” Noah mendengus sebal. Ia yang sudah menghabiskan permen di mulutnya, kini beralih merogoh-rogoh ke dalam saku jaket bombernya.
__ADS_1
“Lagipula, mana mungkin guru piket akan percaya jika aku yang mengatakannya. Apalagi kalau yang berjaga adalah Wakil Kepala Sekolah. Tidak mungkin sekali ucapanku akan dipercayai olehnya.” Jelas Noah sembari mempoutkan bibirnya tidak asik, setelah ia mendapati permen favoritnya ternyata sudah habis tak bersisa.
Kontras sekali dengan air muka Reid yang mendadak garang. Ia entah mengapa seketika begitu tidak tenang dan marah. Agak tidak masuk akal memang, dengan perubahan mood suram yang tidak beralasannya ini.
“Sebentar,” Reid mengurut batang hidung mancungnya kelewat bertenaga. “Jadi maksudmu adalah, bukan kau yang sebetulnya memintakan ijin. Tapi melainkan Axle dan Angus?”
Noah yang tipikalnya merupakan orang yang tidak suka ambil pusing dalam permasalahan apa pun, refleks menganggukkan kepala mantap. Ia kemudian berujar dengan senyum terkembang. “Aku sangat beruntung, kan?”
Alih-alih rentetan pujian yang didapatkan oleh Noah, sebuah gebrakan lumayan kencang pada permukaan meja dan disambung seruan penuh amarah yang malah mendadak dilontarkan oleh Reid. “Berengsek! Kesialan apalagi ini?”
Atmosfer di ruang kelas mendadak sunyi senyap dan memanas. Aura merah membara yang secara tidak langsung dapat dirasakan seluruh pelajar di dalam kelas blok lima lantai dua itu pun, mau tidak mau membuat bulu kuduk mereka serta merta meremang horor.
“Hei, Bung. Hentikan raut muka menyeramkanmu itu,” Noah yang diam-diam bergidik ngeri, dengan keberanian kelas teri lalu menepuk-nepuk ringan bahu tegang Reid. Ia kemudian berbisik lagi dengan suara terlampau kecil.
“Aku memang tidak tahu apa masalahmu dengan Axle, Angus, TTS atau bahkan Leonna sekalipun. Tapi, sekali lagi. Berhenti mempertunjukkan aura malaikat mautmu itu. Kau menjadikan kita berdua sebagai pusat perhatian, tahu!”
Netra Reid sontak menatap ke sekeliling. Benar kata Noah. Semua pasang mata kini tengah memandang penasaran ke arah mereka berdua. Ia yang memang tidak pernah terlalu mempedulikan bagaimana pandangan orang-orang terhadapnya, yang ada malah bergumam sinis.
“Berhenti menceramahiku,”
Reid yang baru saja akan beranjak ke luar kelas, spontan menghentikan kembali langkahnya. Ia yang kekesalannya sudah berada di ujung tanduk, kemudian tiba-tiba melayangkan ekspresi dingin lagi datar. “Sore nanti aku tidak akan jadi datang untuk latihan. Dan kalau Pak Kuda itu tetap keras kepala dan memaksa, katakan saja padanya, ‘Reid akan datang berlatih, kalau ia sedang ingin.’ Tapi, ingat. Aku tidak janji.”
.
.
__ADS_1
Bersambung...