HTTP 404

HTTP 404
Bab #31


__ADS_3

Reid terus bergumam sambil beberapa kali menghembuskan nafas panjang. Tubuh dengan bobot amat ringan Leonna ia bopong menuju ruang tengah. Ia mendadak kembali menghela nafas. Di setiap mata memandang hanya ada barang berserakan dan sampah.


“Bahkan sofa mahalmu juga sama kotornya. Leonna, kau betul-betul sesuatu.”


Kaki panjang Reid melangkah cepat menuju salah satu ruangan yang bisa jadi merupakan kamar Leonna. Gadis itu sesuai dengan prediksinya terserang demam. Ia yang memang masih merasa bersalah tentu tidak bisa meninggalkan begitu saja Leonna. Apalagi setelah ia tahu dengan keadaan Leonna yang hanya tinggal seorang diri.


“Tidak ada tempat di apartemenmu yang tidak kacau. Bahkan kamarmu saja sebegini pengapnya.”


Ruangan kamar berukuran spektakuler tersuguh di depan Reid. Lantai dan kondisi seprei yang berantakan dapat dipastikan merupakan betul kamar milik gadis di gendongannya ini.


Tubuh lemas tidak berdaya Leonna kemudian Reid paksakan untuk duduk di bangku kecil dekat pintu masuk. Ia jujur tidak tega. Tetapi, ia tidak mau menjadikan ranjang Leonna ikut banjir. Jadi, hanya untuk sementara waktu tidak apa-apa kan?


“Leonna, bangun. Leonna, kau dengar aku? Pakaianmu terlalu basah. Aku tidak bisa membaringkanmu kalau begini. Istirahatmu nanti akan tidak nyaman.”


Pipi Leonna dengan lembut Reid tepuk-tepuk. Ia tidak bisa membaringkan Leonna dengan benar, jika pakaian gadis itu masih basah kuyup.


Gadis di hadapannya ini juga perlu sedikit bersih-bersih terlebih dahulu. Bukan karena Leonna kotor atau apa. Namun, kalau Leonna langsung tidur dalam keadaan buruk seperti ini, yang ada nanti sakitnya malah tambah parah karena tidak dapat seratus persen tidur dengan nyaman.


“Eunghhh...”


Kelopak mata Leonna masih terpejam. Ia tidak dapat mendengar dengan jelas kalimat macam apa yang dibisikkan lembut di telinganya. Ia bahkan tidak dapat lagi berpikir dengan jernih.


Entah, siapa gerangan pemilik suara serak-serak basah ini? Leonna tentu ingin tahu. Tapi masalahnya, ia betul-betul tidak sanggup untuk lama-lama berkutat menggunakan kepalanya yang tengah pening maksimal.


Lain lagi dengan reaksi seorang Reid. Cowok yang masih sama kuyupnya dengan Leonna itu terpaksa dikagetkan dengan rangkulan tiba-tiba Leonna. Debar jantungnya mendadak menggila.


“Eh? Bukan. Maksudku, kau bangunlah dulu. Pergi mandi sebentar dan berganti dengan pakaian kering.”


Mata Leonna menyipit sangat kecil. Dalam penglihatan Leonna ia hanya bisa melihat bayangan kusut. Ia tiba-tiba teringat dengan Leo. Kakak kembarnya itu selalu ada setiap kali Leonna merasa tidak enak badan.


Ia juga seringkali dibiarkan bermanja-manja oleh Leo ketika jatuh sakit. Kata kakaknya, perhatian lebih nan halus bisa sedikit mengurangi rasa sakit dan menjadi obat penenang paling mutakhir bagi kesehatan mental.

__ADS_1


“Dingin.” Gumam Leonna seraya semakin erat mengalungkan dekapannya pada lengan kekar Reid.


“Hei, hei, Leonna! Jangan tidur lagi. Kau harus berganti pakaian dulu.”


Kepanikan Reid semakin menjadi. Ia tidak biasa diperlakukan seperti ini oleh orang lain. Apalagi jika itu seorang gadis. Pelukan dan wajah bersemi Leonna sontak membuat Reid menelan air ludahnya kasar.


“Aku dingin.” Gumam lagi Leonna. Kali ini jauh lebih terdengar dan agak—sedikit menggelitik rasionalitas Reid.


Tiga menit berlalu.


Reid masih mematung karena tiba-tiba saja perasan mengerikan itu datang. Ia berani bersumpah, kalau ia tidak pernah dengan sengaja maupun berhasrat untuk menonton tayangan-tayangan dewasa seperti yang umumnya membuat penasaran remaja sebaya dirinya dan Leonna.


Hanya saja, sesuatu di balik celana pendek hitamnya seketika menegang. Benda itu bangun dengan segar dan tanpa permisi. Reid sebagai empunya hanya dapat menatap horor.


Ia kemudian setelah menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali, seraya juga merapalkan mantra berjudul ‘Rileks Oh, Hawa Nafsu!’ akhirnya bisa kembali normal.


Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Leonna sekarang sudah betul-betul pulas. Reid sontak menjerit dalam hati. Ia bingung dan bimbang. Pikiran menguras jiwa raga itu lagi-lagi menyembul. Sekarang harus bagaimana? Apa adegan eksplisit terpaksa harus terjadi?


Tenang. Bukan pikiran macam ‘itu’ yang tengah merasuki otak Reid. Ia hanya tidak tahu harus melakukan apa agar Leonna bisa berbaring dengan pakaian baru dan tentunya tidak basah. Demam berengsek itu akan semakin parah, jika Leonna terus-menerus dalam keadaan semrawut.


“Baiklah. Aku tidak akan melihat. Hanya—hanya sedikit. AKH! Ini demi kebaikan Leonna!”


Jari-jemari Reid bergetar hebat. Siapa pun tahu kalau ia ini adalah jelas seseorang berjenis kelamin jantan. Bahkan tadi ketika sampai di depan lobi gedung apartemen Leonna, seorang satpam yang sepertinya amat mengenali wajah Leonna hampir saja mengusirnya.


Reid seharusnya bersyukur karena bisa jadi, ia tidak akan mungkin terjebak dalam keadaan memusingkan macam sekarang. Tetapi, agaknya ia tadi itu memang tengah dirasuki makhluk idiot.


Bukannya langsung pergi dan menyerahkan Leonna dengan senang hati. Reid yang ada malah berbohong kalau ia adalah Ketua OSIS yang ditunjuk kepala UKS sekolah untuk mengantarkan Leonna pulang!


Oh, betapa bagus plot Reid sampai-sampai satpam itu percaya dan lebih dermawan lagi, ia juga dibantu untuk mendapatkan kartu masuk darurat ke apartemen Leonna.


“Eunghhh.... Reid—?”

__ADS_1


Reid tersentak dari lamunannya. Acara mengganti pakaian Leonna yang sudah setengah jalan pun ikut terhenti. Gadis yang terbaring tidak elite di bangku di depannya tiba-tiba membuka mata. Ia kemudian mengerjap satu dua kali. Tidak jelas apa yang sebetulnya dilihat insan cantik itu. Tetapi, pakaian serba hitam? Ia pikir orang yang berdiri kaku ini adalah Reid. Atau bukan?


“Tidak! Aku—akan membeli obat dan memasak bubur untukmu. Ya. Aku tidak melihat apa-apa. Aku tidak, tsk! Aku akan kembali lagi nanti.”


Kalimat panjang lebar dan terlalu buru-buru Reid faktanya tidak sama sekali tertangkap pendengaran Leonna. Pusing dan hawa menggigil yang kian tidak manusiawi menyerang Leonna, tentu akan lebih penting daripada sosok yang kini hanya berupa bayangan hitam.


Tentu. Tidak benar-benar berupa bayangan. Sebab pikiran Leonna sekarang tidak ada satu persen pun bisa dipercaya. Ia terlalu tidak stabil dan lemah.


CKLEK!


Pintu kamar Leonna ditutup dari luar. Sesuatu di dalam relung dada Reid lagi-lagi bersorak kencang. Dentum musik disko dan suhu panas ikut meramaikan seluruh wajah, telinga, hingga tengkuknya. Ia kemudian spontan menampar kedua pipinya sendiri.


“Kau benar-benar bajing*n Reid Cutler!”


...🐣🐣🐣...


Bubur istimewa Reid telah hampir matang. Ruangan super besar yang pertama kali cowok ganteng itu tapaki juga sudah bersih berkilau. Pakaian serta piring kotor yang menggunung pun telah rapi dan berada di tempat yang semestinya.


Sekarang, ia hanya perlu memberikan obat demam yang tadi sempat ia beli di apotek terdekat kepada nona pasien pemilik apartemen ini. Bubur yang tidak perlu waktu lama sudah jadi kemudian Reid tuang ke dalam mangkok.


Reid yang sudah mandi dan berganti kostum dengan pakaian baru—alias benar-benar baru ia beli saat dalam perjalanan pulang membeli obat, perlahan menarik menghela nafas sebentar. Ia kemudian melirik sedikit ke arah pintu kamar Leonna.


“Aku tidak ingin melakukannya. Tetapi, apa boleh buat. Aku tahu aku bisa. Ya. Reid Cutler pasti bisa menangani masalah sepele seperti ini.”


Reid melangkah sepelan mungkin. Ia tahu, ia nanti juga akan membangunkan Leonna. Hanya saja, ia butuh waktu untuk kembali melihat wujud gadis itu. Rasa grogi dan palpitasi mengerikan ini perlu sekali musnah sebelum ia melewati pintu kamar Leonna. Sebab, bisa super gawat darurat kan, jika kejadian kurang dari satu jam lalu terulang lagi?


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2