HTTP 404

HTTP 404
Bab #21


__ADS_3

“Kenapa tidak diangkat?! Ayolah Kak Leo!”


Panggilan yang lama Leonna tunggu akhirnya mati sendiri. Remaja tujuh belas tahun itu kian runyam saja memandangi layar ponsel. Ia menelepon kakak kembar yang berbeda jenis kelamin dengannya itu berulang kali dan tanpa jeda. Tapi, naas. Seluruh panggilan teleponnya tidak ada satu pun yang Leo angkat.


“Apa Kak Leo benar-benar sangat sibuk?”


Leonna dengan tergesa-gesa lalu keluar dari forum GCD! Ia beralih menuju mesin pencarian utama Mbah Giggle. Ia kemudian mengetikkan sesuatu dengan teramat kilat. Laman baru Mbah Giggle pun muncul. Nafas panjang dan agak kasar refleks keluar dari organ terluar pernafasannya itu.


Benar, perkiraan Leonna. Berita teratas tentang saudara laki-lakinya itu tertera banyak di laman pertama Mbah Giggle. Foto Presiden Direktur dan ahli waris utama perusahaan M&G tampak tengah mengadakan konferensi besar. Senyum khas para pelaku bisnis terlukis di wajah tampan Bryant Mileková dan Leo Mileková.


“Peluncuran AnthraxCYB oleh M&G Corp., ponsel 7G keluaran perusahaan IT terbesar dari anak besutan M&G, potret menawan Leo Mileková pada konferensi internasional energi terbarukan di UEA, fakta ahli waris Singa Bisnis Dunia dari Rusia: Leo Mileková.”


Gerakan menggulir dan membaca dengan agak lantang Leonna terhenti. Ia mendengus pasrah dan berganti membuka kotak pesan.


“Kak Leo, tolong telepon Leonna kembali setelah membaca pesan ini. Oh, dan—apa perlu aku tulis juga tentang forum GCD! ini?”


Jari-jemari Leonna berhenti mengetik. Ia dilema. Apakah harus menjelaskan sekarang alasan ia menelepon tadi atau tidak. “Baiklah tulis saja.”


...[ Penerima: Kak Leo ]...


...Kak Leo! Tolong segera telepon kembali Leonna, jika kakak membaca pesan ini. Untuk tadi, kenapa Leonna terus menelepon. Forum GCD! Leonna tiba-tiba kebanjiran pengikut, suka dan komentar. Ada banyak tagar mengerikan juga di sana. Kalau bisa, Leonna minta tolong supaya Kak Leo mencari tahu apa penyebab akun Lion.Me milik Leonna seperti ini. Terima kasih Kak Leo dan selamat malam. Jempol juga untuk konferensinya👍🏻....


Leonna membaca dan mengedit beberapa kali pesannya sebelum dikirim ke Leo. Ia memutuskan untuk memberitahu saja masalah terlampau janggal pada akunnya di forum GCD!


Gadis dengan piyama bermotif anak ayam itu, setelah lama melamun—memikirkan berbagai macam hal, akhirnya menarik kembali selimut. Penutup mata bernuansa hijaunya ia pasang dengan benar. Ia pun beranjak tidur, meski belum sama sekali merasakan kantuk.

__ADS_1


‘Menyedihkan. Aku ternyata tidak jadi tidur nyenyak dan mimpi indah malam ini.’


...🐣🐣🐣...


Dering alarm sudah sejak sepuluh menit lalu berbunyi. Bukan Leonna belum bangun atau apa. Ia semalaman tidak bisa tidur. Kepalanya pening memikirkan perihal akun GCD! nya yang kebanjiran pengikut, suka dan komentar.


Sekali lagi, hari di mana ia harus berangkat ke sekolah dengan mata panda terjadi. Untungnya, Leonna memang sudah peka, kalau situasi memusingkan seperti ini bisa terjadi kapan saja. Jadi, telah tersedia krim wajah yang amat ampuh menutupi kantong hitam tebalnya itu.


“Satu lagi hari yang menyebalkan. Rasanya aku ingin berbaring saja seharian. Mana Kak Leo belum menelepon balik lagi.”


Jam beker Leonna sudah menunjukkan pukul enam lewat lima menit. Kalau pagi ini hujan, mungkin ia bisa beralasan terhalang hujan. Demam atau alasan-alasan rasional lain. Tetapi, dunia seolah tengah menjadikan dirinya sebagai bulan-bulanan.


Langit dari balik kaca jendela yang terbuka sedikit itu tampak teramat cerah. Tidak ada tanda-tanda awan mendung yang punya niatan licik untuk menutupi cahaya mentari. Betul-betul kondisi yang sangat tepat untuk para makhluk hidup memulai hari.


Bangun lebih awal, mandi, gosok gigi, tidak lupa sarapan ditemani secangkir teh atau kopi hangat dan berolahraga sedikit jikalau sempat. Kemudian melakukan rutinitas seperti biasa. Bekerja di perusahaan, belajar di sekolah, bersibuk-sibuk mengurus pasien di rumah sakit dan banyak profesi lain yang, ehm, author, tidak bisa sebutkan satu per satu.


“Mandi. Gosok gigi. Sarapan. Meluncur ke halte bis. Sekolah. Pulang lagi. Menyedihkan. Kenapa monoton sekali alur hidupku? Butuh libur! Aku ingin liburan!!!”


Setelah berceloteh sesuka hati. Leonna mendudukkan dirinya sebentar. Ia bahkan belum habis satu minggu tinggal dan bersekolah di kota New York. Tapi, memang dasar Leonna! Ia selalu begini, jika tertimpa masalah. Saraf-saraf di otaknya seolah menerjemahkan informasi dengan kata-kata bosan, monoton, butuh libur, malas, dan berbagai macam huruf-huruf mengandung zat negatif dan penuh tanda seru imajiner lainnya.


“Apa aku benar-benar tidak bisa mendapatkan liburan? Coba, mari kita lihat. Siapa tahu aku mempunyai kontak sekolah.”


Jari-jemari Leonna meraba lemas ke atas nakas. Ponsel pintarnya kemudian dengan macet-macet ia tarik. Buku nomor panggilan sontak ia buka. Bola mata birunya bergulir teliti. Namun, nihil. Tidak ada satu pun kontak yang bisa ia hubungi. Padahal buku nomor teleponnya itu berjumlah lima ratus kontak.


Tapi, tentu. Bagaimana bisa ia menghubungi pihak sekolah, kalau buku kontaknya hanya berisikan nomor para penyanyi, pemain drama dan puluhan model tampan asal Negeri Ginseng.

__ADS_1


Semakin perlu diacungi jempol lagi. Karena seluruh nomor para selebritas Korea Selatan itu adalah nomor pribadi mereka masing-masing. Terkait bagaimana cara gadis obsesif ini mendapatkannya, hanya Leo dan Tuhan yang tahu. Hehehe...


“Yo! Everything sucks~”


Alunan merdu melesat hambar dari bibir Leonna. Lagu yang sedang populer karya seorang pembuat video TikTok dari Jacksonville, Florida, Amerika Serikat itu ia modifikasi sepahit suasana hatinya. Kaki jenjangnya kemudian beranjak turun dari atas ranjang.


Leonna berjalan amat loyo. Tubuhnya yang sudah kurus, kian mirip saja dengan potongan bambu yang dibelah panjang menjadi sepuluh. Begitu tidak semangat untuk menjalani hari.


“Mandi air hangat. Lalu—berangkat sekolah~”


Gadis yang kini bisa dikatakan resmi menjadi selebritas fenomenal GCD! itu mandi dengan teramat lambat. Kukang bahkan bisa jadi lebih cepat dari gerik-geriknya. Tujuh menit pun berlalu. Waktu Leonna semakin tipis untuk berleha-leha di apartemen. Ia kini sudah selesai mandi.


Namun, tidak seperti kebiasaannya yang lama dalam menentukan pakaian. Leonna sekarang hanya asal ambil. Ia lalu agak sedikit mempercepat gerakan dan akhirnya, ia sudah rapi dengan hoodie abu-abu kebesaran dan celana hitam selutut. Tampak sangat suram gaya berpakaiannya Kamis ini.


“Sereal. Kopi hitam. Apa aku perlu membeli makanan manis di jalan nanti?”


Gumam Leonna pelan. Binar matanya kosong. Sendu meratapi betapa tidak manisnya hidup hingga ia harus terpaksa mengunyah makanan manis yang sebisa mungkin selalu ia hindari karena tidak suka.


PING!


“Apa aku sekarang berhalusinasi? Bunyi ‘ping'? Sial! Pasti notifikasi menyebalkan itu.”


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2