HTTP 404

HTTP 404
Bab #36


__ADS_3

Jantung Leonna tiba-tiba berdetak kencang. Ia mendadak lagi-lagi teringat dengan bagaimana baik hati dan dermawan (romantisnya) Reid yang tidak langsung menelantarkan dirinya setelah tiba di apartemen semalam. Namun, alasan itu bahkan belum terhitung dengan perlakuan idiotnya ketika cowok ganteng itu tengah tertidur.


Leonna tiba-tiba gugup sendiri memikirkan bagaimana nanti, jika ia dan Reid tidak sengaja berpapasan? Ia tentu tahu betul, ucapan terima kasih wajib sekali untuk diutarakan. Tapi, kata maaf—apa ia juga perlu bilang maaf? Hmm. Kalimat ‘maaf karena telah menyusahkan’, mungkin alibi yang bagus. Cukup jelas dan ambigu secara bersamaan, kan?


^^^[ SHS? Serius? Aku pikir otak udangmu tidak akan sanggup mengikuti ujian program bergengsi sekolah elite itu. ]^^^


“Ya, ya. Otakmu memang yang paling genius.”


Kepala Leonna menunduk sedikit. Di dalam lemari pendingin yang iseng-iseng ia buka ternyata betul-betul ada banyak sekali makanan sehat. Brokoli mengerikan bahkan ada di sana. Ia refleks menghela nafas sebentar. Kemudian mengambil kotak-kotak makanan dan meletakkan 3-4 kotak ke dalam microwave.


^^^[ Jadi, sekarang kamu tinggal di New York? Seorang diri? ]^^^


Setelah mengatur waktu memanaskan makanan di microwave, Leonna beranjak menuju kompor dan memanaskan lauk lain bersama dengan bubur di panci. Ia lalu beralih ke teko listrik, mencolokkannya ke stop kontak dan mengatur beberapa menit durasi untuk memanaskan minuman spesial buatan Reid.


“Sialnya, iya. Hari ini sudah genap satu minggu.”


^^^[ Satu minggu? Kiamat pasti sudah dekat kalau begini. Jadi, di mana kamu tinggal? Kondominium? Studio? Apartemen? Atau jangan-jangan mansion baru, lagi? ]^^^


Leonna spontan berkacak pinggang kesal. Bagaimana bisa hanya karena pindah satu tahun di New York, papi tercintanya sampai harus repot-repot membuatkan mansion? Di Rusia sana saja, mansion keluarga Mileková yang sudah direnovasi berulang kali itu megahnya bukan main.


Ya, meskipun kalau kata Chris, tiga persen saham dari Ardour-C grup saja tidak akan habis tujuh turunan. Tetap saja. Papi dan maminya itu tidak gila tanah. Begitu pun dirinya dan Leo yang sekarang ini tidak lebih dari sekadar anak SMA.


“Berlebihan. Aku tinggal di apartemen. Di The Beliquent Rozz.”


^^^[ Kamu gila! Cepat katakan! Berapa nomor apartemenmu? ]^^^

__ADS_1


Alis Leonna mengernyit tidak mengerti. Kenapa anak satu-satunya keluarga Wilde ini tiba-tiba saja menjadi begitu bersemangat hingga dengan begitu santai mengatainya dengan kata ‘gila’? Memangnya ada apa dengan apartemen yang ia tinggali sekarang? Apa mungkin itu gara-gara usaha retail keluarganya kini juga menanam saham di apartemen hasil rekomendasi kolega papinya sebulan lalu?


“Berhenti menyumpahiku. Aku tidak gila. Lagi pula, untuk apa kamu ingin tahu nomor apartemenku? Seperti kamu tahu saja di mana itu.”


^^^[ Tsk! Katakan saja, berapa nomor apartemenmu? ]^^^


Leonna berpikir sejenak. Betul-betul tidak ada alasan bagi seorang Christian Wilde untuk mengetahui dengan detail di mana ia tinggal. Apalagi ini kan New York, bukan Moskwa. Super aneh. Oh, apa jangan-jangan cowok terlampau haus belajar itu ingin memberikan kejutan lagi?


“411. Puas?!”


^^^[ Berengsek. Aku tinggal hanya satu blok di sebelah kananmu. ]^^^


“Apa?”


Mesin di otak Leonna mendadak begitu macet. Ia yakin gendang telinganya pasti salah memproses. Tentu. Bagaimana bisa ia tinggal dalam satu kompleks apartemen yang sama, di lantai dan lorong yang sama dan lebih buruk, bertetangga? Demamnya pasti terlalu tinggi semalam hingga indra pendengarannya agak kacau.


“Sial. Skenario macam apa ini? Apa kamu menguntitku? Jangan bilang kamu juga yang mengacaukan akun kesayanganku?”


Oke. Pemuda di seberang telepon itu realitasnya benar-benar tidak bercanda. Namun, berkat akun GCD! nya yang tiba-tiba ramai di halaman beranda forum dan pengikut serta jumlah sukanya yang ikut membludak. Tentu. Pernyataan Chris barusan patut untuk dicurigai. Walau tidak mungkin sekali sepertinya, jika makhluk yang tidak pernah begitu tertarik dengan sesuatu mendadak menjadi penguntit.


^^^[ Menguntit? Seperti aku tidak punya pekerjaan lain saja! Tapi, tenang. Aku sedang di luar sekarang dan, oh! Bajingan! Kalian dari mana saja, hah? Aku menunggu sejak tadi dan kalian~ Maaf, Leonna. Aku akan mengunjungimu saja nanti! ]^^^


^^^[ Apa itu dia? Kau benar-benar berpacaran dengannya? Hei, Tuan Wilde! Cepat katakan! Tidak perlu menutup-nutupi begitu. Tuan Wil~ ]^^^


TUT!

__ADS_1


Panggilan telepon diputus secara sepihak. Leonna menatap layar ponselnya yang kini sudah kembali menghitam. Ia lantas mengacak pucuk kepalanya dengan gusar.


“Tahu dari dulu makhluk robot itu adalah tetangga. Kejadian memalukan semalam pasti tidak akan pernah terjadi. Oh, Leonna bodoh~!”


Bunyi ‘ting’ beberapa detik kemudian dari microwave, sontak mengakhiri perhelatan jiwa dan pikiran Leonna akibat tragedi kecup-kecup hantu tadi malam. Ia pun mau tidak mau beranjak mengeluarkan lauk pauk dalam microwave. Makanan lain yang dipanaskan menggunakan kompor juga serta merta ia matikan dan pindahkan ke mangkuk dan piring.


Semua makanan tidak butuh waktu lama telah tersaji dengan ‘sederhana’ di atas meja makan. Leonna yang sempat menuangkan satu cangkir air jahe dari dalam teko, tidak sengaja memberi jeda cukup lama di depan lemari es. Deretan kalimat yang tertera pada kertas dengan hiasan gambar kartun Pororo di pinggir-pinggirnya itu, spontan membuat sesuatu di dalam relung dadanya kembali jedag-jedug ria.


...‘Leonna, maaf untuk peristiwa semalam. Sekalian, jika kau merasa kering tenggorokan ketika bangun. Ada air jahe di dalam teko. Jika sudah dingin, kau tinggal memanaskannya lagi saja. Bubur dan beberapa lauk pauk juga bisa kau panaskan lagi di kompor atau microwave. Oh, beberapa lauk kering dengan tempelan putih di atasnya bisa bertahan sampai tiga hari, jika dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Kalau begitu, aku pulang dulu. Cepat sembuh.’ – Reid....


...🐣🐣🐣...


Pencarian tentang simtom palpitasi Reid di Mbah Giggle tadi malam betul-betul tidak membuahkan hasil. Ia sebisa mungkin sudah berusaha untuk tidak memikirkan kata-kata ‘jatuh cinta’ itu. Namun, sekeras apa pun usahanya, nama Leonna yang ada bukannya lenyap malah semakin getol menghantui pikirannya.


Konsentrasi kerjanya pun yang biasa selalu positif dua ratus persen fokus, tiba-tiba saja berubah minus maksimal. Reid frustrasi. Ia betul-betul tidak mengerti bagaimana sebuah ciuman, ralat, dua ciuman mengubah detik-menitnya menjadi amburadul. Seperti sekarang ini.


“Reid, apa kerja kelompokmu dengan gadis cantik kemarin-kemarin itu sudah selesai?”


“...”


Hening. Bibi Smith telah semenjak bermenit-menit lalu berceloteh. Pasangan hidup Paman Smith selama hampir genap empat setengah lustrum itu lantas menghela nafas panjang. Rasa penasaran yang sejak kemarin ia tahan-tahan akhirnya terlontar juga dari bibir kering dan sedikit menghitamnya. Ia benar-benar telah tidak peduli lagi dengan yang disebut privasi anak muda atau apa. Reid sudah terlanjur overdosis melamun.


“Reid? Reid!”


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2