HTTP 404

HTTP 404
Bab #8


__ADS_3

Seorang pemuda berwajah Mediterania, beralis hitam tebal dengan rambut gondrong sebahu yang dikucir satu, berjalan riang memasuki ruang kelas. Senyuman manis merekah dari bibir sedikit kehitamannya ketika meneriakkan kata selamat pagi dalam bahasa ibu-nya, bahasa Spanyol.


“Hola, buenos días!”


“Buenos días!!!”


Tiga puluh dua siswa di dalam kelas berseru menjawab ucapan salam sosok yang tidak tahu mengapa, kelihatan sekali sangat gembira di minggu pertama awal semester, tahun ke tiganya menjadi pengajar tingkat senior di Stuyvesant.


Terlebih rasanya, baru saja figur berbadan tegap itu kelimpungan saat mendadak harus bertransmigrasi ke tanah New York, berkat kekonyolan teman masa kecilnya dari Barcelona yang tiba-tiba saja menelepon dan meminta ijin atau lebih tepatnya, menghasut kedua orang tuanya agar anak bontot mereka ini dapat ikut serta pergi bekerja ke negeri Paman Sam.


Tentu, hasutan kawannya itu tidak ketinggalan dengan tambahan iming-iming penghasilan lebih, bahkan kelewat spesifik, yakni gaji tujuh puluh ribu dolar per tahun.


Namun beruntung, setelah menerima kontrak kerja di SHS ia memang benar-benar mendapat penghasilan sebanyak itu. Kalau tidak, lebih baik ia mengundurkan diri dan pulang saja ke Spanyol. Melanjutkan usaha bar milik keluarganya di pesisir pantai Nova Icària.


“Baik. Sebelumnya, mungkin masih ada yang belum kenal dengan saya. Jadi, perkenalkan nama lengkap saya, Kai Ledger. Kalian bisa memanggil saya Profe Ledger dan oh! Apa ada sesuatu yang spesial di semester ini?”


Guru bahasa Spanyol, Kai Ledger atau pendeknya Profe — panggilan formal maupun informal kepada pendidik tingkat menengah atas, yang umumnya hanya digunakan di sekolah-sekolah umum, bukan Katolik juga privat di Spanyol — Ledger melangkah penasaran dan berhenti tepat di depan meja gadis cantik beriris biru safir.


“¿Cómo te llamas?”


Profe Ledger menunduk sedikit. Menyamakan tingginya dengan tinggi gadis berambut pirang, berhiaskan dua jepitan perak di sudut kanan helaian rambut keemasan yang duduk di barisan tengah, dua kursi dari belakang.


“Me llamo Leonna.”


Gadis berperawakan mungil itu, Leonna, tersenyum kikuk membalas kalimat Profe Ledger yang menanyakan namanya tiba-tiba, dengan menggunakan bahasa Spanyol.


“¿De dónde eres?” Pendidik berusia baru dua puluh enam tahun berujar lagi, masih dalam logat kental Spanyol-nya.


“Soy de Moscú.”


“Wow, vokal dan pengucapan terindah yang pernah saya dengar.”


Suara tepuk tangan mulai menggema di seluruh penjuru ruang laboratorium bahasa. Profe Ledger dengan ramah menepuk-nepuk bahu ramping Leonna, sesaat setelah ia dengan tanpa aba-aba memberikan tepuk tangan pertama, sehingga hampir seluruh penghuni kelas, mau tidak mau, terprovokasi untuk ikut melontarkan tepuk tangan.

__ADS_1


Tetapi, jangan tanya siapa yang tidak terprovokasi. Sudah jelas mereka adalah Quinn Delaney dan kedua kawannya, ditambah dengan Reid.


“Terima kasih, Profe.”


Profe Ledger serta merta kembali menuju depan kelas setelah mendengar kalimat gugup Leonna dan untuk beberapa menit, berbagai macam tatapan dari yang sinis hingga kagum tertuju blak-blakan ke arah Leonna.


Risi memang, bagi Leonna ditatap sedemikian intensnya dalam jumlah yang tidak bisa dikatakan sedikit. Namun, apa boleh buat. Leonna hanya bisa pasrah dan terus diam sambil tetap berusaha fokus menyimak patah demi patah kata yang diucapkan Profe Ledger, yang kini sudah mulai sibuk mencoret-coret sesuatu di papan tulis.


“Baiklah, barusan itu adalah dasar percakapan dalam bahasa Spanyol. Tetapi, untuk hari ini kita akan...”


...🐣🐣🐣...


Sepuluh menit sebelum bel istirahat pertama berbunyi. Leonna meregangkan sebentar otot-ototnya dan menurut Leonna, metode mengajar Profe Ledger harus sekali Leonna acungi jempol.


Tidak cukup bahkan jika hanya dengan dua jempol. Dua ibu jari kakinya juga wajib ikut serta memberikan dua jempol, karena mana tahu Leonna, kalau cara mengajar Profe Ledger akan semenyenangkan dan mudah dipahami, hingga bahkan tiga kali lebih baik dari guru privat Leonna dulu saat di Moskwa.


“Seperti pada awal semester yang sudah-sudah. Di minggu kedua, kalian akan melakukan pertunjukan skit alias sandiwara lelucon pendek antara dua orang. Namun, khusus untuk tahun ini, pilihan tema adalah bebas. Kalian bisa menentukan tema dan topik skit sesuka hati kalian. Tetapi, tetap harus logis dan dengan penggunaan bahasa yang sopan.”


“Leonna, ayo berpasangan denganku.”


“Tunggu, lalu aku dengan siapa?”


Meski Pretha sudah berucap dengan super pelan, Dave yang duduk di sebelahnya tetap bisa mendengar dan langsung ikut berbalik, agak setengah memunggungi arah pandang papan tulis.


Sebelah lengan lumayan berotot Dave, kemudian ia tenggerkan manis pada punggung kursi, sembari lalu melayangkan tatapan polos sok sedih ke arah Pretha.


“Kau cari sana yang lain atau mungkin, kau bisa berpasangan dengan primadona ular itu.” Ejek Pretha.


“Lebih baik aku bermonolog saja, kalau begitu.”


Dave mempoutkan bibirnya tidak suka dan baru saja ia ingin berdiri dari duduknya, suara bariton disambut gebrakan kasar dari meja guru membuat Dave kembali duduk. Suasana kelas yang tadinya ramai juga mendadak sepi.


Semua mata yang semula sibuk mondar-mandir, telah dengan tidak nyaman memandang lurus lagi ke arah di mana Profe Ledger berada.

__ADS_1


“Tenang dan tidak perlu khawatir. Tidak akan ada dari kalian yang dibiarkan bermonolog untuk pertunjukan sandiwara minggu depan. Sebab pertama-tama, silakan tulis dulu nama kalian dalam selembar kertas, lalu kita akan langsung mengocoknya dan kelas representatif! Harap maju ke depan.”


Seluruh siswa mulai fokus menuliskan nama mereka masing-masing di atas selembar kertas kecil yang sempat dibagikan kelas representatif dan tidak ada lima menit, semua kertas sudah terkumpul rapi di meja Profe Ledger.


Di selimuti kabut harap-harap cemas dari peserta didiknya, Profe Ledger dengan senyum riang memilah-milah asal dua gulungan kertas pertama dan tanpa banyak cek-cok lagi, langsung membuka lalu membacakan nama yang tertera di atas kertas.


“Oke. Untuk kelompok pertama, Leonna dan Reid.”


...🐣🐣🐣...


Bel istirahat akhirnya berdering. Profe Ledger yang memang sudah selesai menyebutkan nama dan urutan kelompok, melangkah panjang-panjang keluar dari ruang kelas.


Bersamaan dengan itu, Leonna, tidak tahu apa masalahnya. Ia langsung buru-buru berbalik menghadap Pretha yang tengah merapikan dan memasukkan rapi buku-buku beserta alat tulisnya ke dalam tas.


“Pretha, apa kita tidak bisa bertukar posisi?”


Leonna memelas menatap Pretha yang beruntung, berpasangan bukan dengan orang berkepribadian aneh seperti kawan satu kelompok Leonna, Reid Cutler dan baru saja Pretha ingin berucap, suara gebrakan kencang dari barisan tempat duduk Quinn, refleks mengalihkan fokus tidak hanya mereka berdua, melainkan semua orang yang sebagian besar masih berada di dalam kelas.


“Apa-apaan ini?! Aku tidak ingin berpasangan dengan pecundang culun seperti dia! Reid, ayo kita berpasangan saja!”


“Tsk! Dia berulah lagi. Leonna, apa kau benar-benar tidak mau berpasangan dengan Reid?”


Pretha bergumam tidak tertarik dan langsung beralih menatap Leonna yang kemudian hanya bisa menanggapi lirih pertanyaan Pretha.


“Itu, aku...”


“Benar-benar sok! Dia pikir dia siapa?!”


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2