
Ucapan Leonna terpaksa harus dipotong oleh berisik sekelompok siswa-siswi yang berada dua meja di depan Pretha. Bukannya kesal, Leonna tanpa sadar malah ikut terlena dalam pembicaraan menggebu-gebu mereka.
Meski kenyataannya volume mereka di bawah rata-rata. Atensi Leonna seolah tertarik habis dan berakhir dengan dirinya menjadi semakin giat menyimak gosip halus mereka, yang kian didengarkan kian membuat Leonna bimbang untuk mengajukan atau tidak, komplain tukar pasangan skitnya yang adalah dengan Reid.
“Dia pikir, hanya dia yang ingin satu kelompok dengan Reid! Kalau bukan karena popularitas dan wajahnya itu, pasti sudah lama kujambak-jambak gadis reptil itu.”
Seorang cewek berkacamata tebal dengan banyak flek hitam di sekitaran hidung peseknya melirik kesal ke arah Quinn. Deru nafas cewek agak culun itu bahkan sampai terdengar, saking tidak sukanya ia dengan sosok yang baru saja diklaimnya sebagai gadis reptil.
“Benar, siapa yang tidak ingin berpasangan dengan peraih nilai bahasa Spanyol tertinggi setiap tahunnya. Reid pada semester kemarin, bahkan berhasil memenangkan trofi tingkat nasional untuk pidato bahasa Spanyol, benar kan?”
“Andaikan ada mesin pentransfer memori otak. Aku pasti sudah sejak lama menculik Reid dan mentransferkan seluruh memorinya ke otakku.”
Seorang remaja laki-laki berjaket kulit hitam penuh taburan tindik-tindik tajam, yang awalnya Leonna dan Pretha kira hanya akan melengos ketika melewati koloni penggosip di depan, malah mendadak berhenti dan tanpa permisi, menimbrung mereka dengan ucapan ini-itu.
“Angan-anganmu terlalu tinggi. Tapi, aku setuju. Reid tidak hanya menang tampang saja, tetapi otak dan kantongnya pun pasti sangat tebal. Hanya saja, ia terlalu dermawan dan agak misterius hingga pulang-pergi sekolah saja selalu dengan naik sepeda merah hitamnya itu.”
“Juara satu umum dan juara angkatan selama dua tahun berturut-turut. Reid benar-benar terlalu genius.”
Sementara Quinn dari kejauhan, tampaknya memang masih belum menyerah. Bahkan kini dia dengan tanpa gengsi, telah berganti mengekori Reid yang mendadak berhenti dan membalikkan tubuh jangkungnya menghadap Quinn.
“Oh, ayolah Reid. Berpasangan saja denganku.”
Reid menepis kasar jemari Quinn yang dengan seenaknya menarik-narik ujung lengan atasannya. Cowok rupawan itu lalu menghembuskan nafas panjang.
Lelah sekali sepertinya dia, terpaksa harus mendengarkan suara cempreng Quinn, yang Reid sendiri pun tahu, tidak akan berakhir dalam waktu dekat, kecuali jika ia sendiri yang harus membuang sedikit dari waktu istirahat berharganya untuk menolak dengan penuh penekanan semua komplain tidak bermutu Quinn.
“Pasangan kelompok sudah diatur tadi. Jangan membuat hal sepele seperti ini menjadi komplikatif. Aku tidak masalah berpasangan dengan siapa dan tidak ada juga yang komplain, kecuali dirimu. Jadi, minggir! Aku lelah.”
“Tsk! Reid!”
Pretha tersenyum puas dan beralih menghadap Leonna yang masih terpaku dengan kepergian Reid, setelah cukup lama cowok kulkas itu memuntahkan sederet kalimat mengandung jutaan duri beracun andalannya kepada Quinn.
__ADS_1
“Bagaimana Leonna? Apa kau masih mau mengajukan komplain tidak ingin berpasangan dengan Reid?”
“Aku, huft… aku tidak masalah sepertinya.”
Embusan nafas pasrah melesat lamat-lamat dari indra respirasi Leonna. Pikirannya semrawut. Tetapi, daripada ia harus repot-repot berargumen dan malah berakhir memalukan seperti Quinn, memang akan lebih baik jika ia bungkam saja.
Toh, menurut kompleks penggosip di depan, Reid itu adalah si genius. Jadi, tidak ada ruginya juga bagi Leonna jika satu kelompok dengan Reid.
“Bagus kalau begitu, semoga hubungan kalian tidak hanya berhenti sebagai pasangan lelucon sandiwara, ya! Kecuali, kalau kau tiba-tiba berniat memberi Dave sedikit harapan.”
Pretha menyenggol iseng pundak Leonna dan belum ada lima menit kunjungan dewi kalem di ruang kelas yang mulai lengang itu, seorang figur berpotongan rambut pendek, Dave, tiba-tiba berlari dari ujung ruangan menuju dua sejolinya berada.
Namun, tambah buruk, sebab Dave tidak datang sendirian, melainkan ditemani segunung kalimat tanya plus tanda seru, spesial hanya untuk Pretha dan Leonna.
“Apa? Kenapa kalian berhenti? Apa yang sedang kalian bicarakan dari tadi? Hei, kenapa kalian tidak menjawab?! Jangan bilang kalian tengah menggosipkan aku! Pretha, kau! Kebohongan macam apa yang kau katakan pada Leonna?! Berhenti! Jawab aku!”
“Kau terlalu cerewet Dave McGary!”
...🐣🐣🐣...
“Wah, serius. Apa yang sedang Pangeran Es lakukan di sini? Apa dia tengah menunggu seseorang?”
Lingkaran kerumunan gadis-gadis, menjadikan jalanan lorong lantai dua yang seharusnya sudah semenjak lima belas menit lalu lengang karena bel pulang sekolah telah lama berbunyi, malah begitu sumpek lagi sesak dan lebih menyebalkan, sebab sumber kejadian langka seperti ini, tidak lain dan tidak bukan, merupakan akibat wujud sosok Pangeran Es Stuyvesant, Reid Cutler.
“Oh, Reid? Tumben kau masih di sekolah dan lagi, apa yang tengah kau lakukan berdiri bak model pemotretan di depan ruang kelas favoritku? Jangan bilang kau berubah pikiran?! Baiklah, ayo! Segera kita menuju manajer tim. Tahun ini kau wajib untuk berpartisipasi di setiap perlombaan!”
Seorang cowok berperawakan sedikit lebih pendek dari Reid, berseragam putih khas personil tim basket, mendadak menyapa Reid yang berdiri dengan headset menyumpal telinga di dinding dekat pintu masuk ruang musik kelas tiga.
Reid seperti biasanya, tidak sama sekali menanggapi ucapan panjang kali lebar makhluk cerewet yang sekadar dilirik Reid saja, tidak.
“Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau benar-benar sedang menunggu seseorang? Kalau begitu, siapa yang kau tunggu Reid?”
__ADS_1
Kerumunan baru muncul, setelah ruang musik mendadak dibuka dari dalam. Reid dengan kecepatan super kilat serta merta melepaskan headset-nya dan berlari begitu saja, meninggalkan figur berikat kepala hitam putih yang hanya bisa melemparkan tatapan bingung, ketika kemudian mendengar teriakan kencang Reid memanggil sebuah nama yang ia berani bertaruh, jelas bukan berjenis kelamin jantan seperti dirinya dan Reid.
“Leonna!”
“Hei, Reid! Kau mau ke mana?! Eh, siapa gadis itu? Apa dia pacar Reid?! Tapi, ehm, mereka kelihatan sangat serasi.”
...🐣🐣🐣...
Seorang gadis dengan mata cekung buru-buru berjalan keluar dari ruang musik. Tidak tahu mengapa, hari ini ia begitu kelelahan.
Saraf-saraf pengendali kelima pancaindranya pun sampai mendadak terasa tidak lagi berfungsi, hingga panggilan berulang kali dari suara serak-serak basah dari arah belakang, tidak sama sekali terdengar barang satu huruf pun oleh instrumen organ pendengarannya.
“Leonna!”
“Leonna! Tsk, hei!”
Sementara dari kejauhan. Di selip-selip lautan kerumunan siswa-siswi yang berimpitan atau akan lebih tepat dan cukup dramatis untuk dikatakan sebagai penggemar dari manusia bertampang bagaikan sesosok malaikat jatuh dari surga atau bisa jadi memang dibuang dari surga karena ketampanannya yang selalu menciutkan kepercayaan diri malaikat lain, kini tampak tengah berjuang melawan arus kegilaan para pelajar wanita.
Ia bahkan jadi linglung sendiri dengan langkahnya.
Jalanan di depannya betul-betul ramai melebihi kondisi pasar malam. Ia pun tidak terhitung sudah berapa kali berdecak kesal, dan lalu bungkam sambil masih mengeraskan rahangnya hingga menimbulkan ribut gemeletuk ngilu gigi-gigi geraham.
Tenggorokannya apalagi, tidak perlu ditanya. Terlampau kering akibat terus berteriak dan mungkin sudah datang waktunya untuk ia rehat.
Sebab, terpaut dari jarak kurang lebih lima meter, makhluk kerdil yang sejak hampir sepuluh menit lalu diincarnya itu, kini tidak perlu banyak usaha lagi, sudah berada di lorong yang jauh lebih sepi dan lengang dari sebelum-sebelumnya.
Ia lalu dengan sekian persen tenaga yang tersisa, akhirnya berhasil menepuk bahu sempit yang sebagian tertutup helai-helai lembut rambut keemasan.
“Leonna, kau ini!”
.
__ADS_1
.
Bersambung...