
Mata Leonna yang sejak tadi menatap kosong kemudian terbelalak lebar saat sadar kalau makhluk tampan di depannya ternyata adalah Reid. Meski air muka Reid kelihatan tidak segar, tetapi melihat genggaman yang dengan seenaknya melingkar di pergelangan tangan ramping Leonna, membuat si empunya jadi deg-degan sendiri dan berkat irama berdesir-desir di balik relung dadanya, Leonna dengan wajah bersemi merah muda instingtif mencoba menghempas kasar cengkeraman tangan Reid.
Namun dapat ditebak, Leonna gagal. Mengingat ukuran tubuh Leonna yang terpaut jauh lebih kecil dari Reid, jelas tenaga Reid akan berkali lipat lebih besar dibandingkan tenaga Leonna.
Reid membentak Leonna cukup kencang. Leonna refleks tergugu takut. Bulu kuduknya ikut meremang tegang, lebih lagi setelah melirik kecil ke kanan dan ke kiri. Hanya ada deru bisik-bisik dari rimbun pepohonan, begitu sepi dan tidak tahu dari mana berhasil membuat Leonna berpikiran macam-macam.
‘Apa Reid berniat membalaskan dendam dan meminta ganti rugi karena peristiwa tidak mengenakkan pagi kemarin? Tapi kalau begitu, mana mungkin juga Reid mau berbaik hati membantuku dari tabrakan pengendara sepeda motor pada jam pulang sekolah setelahnya?’
“Cepat! Apa kau mau seharian berdiri di sana?!”
__ADS_1
Leonna sontak berhenti melamun. Mulutnya menganga lebar, amat terkejut dengan pemandangan anti-mainstream beberapa meter dari jaraknya berdiri. Tampak Reid dengan kalem maksimal sudah berjongkok di atas tembok tanpa cat alias murni hanya dalam balutan semen kasar dan kelihatan begitu usang lagi jelek, setinggi hampir atau bisa jadi lebih dari tiga meter.
Tidak jelas pula sejak kapan dan bagaimana Reid sudah berada di atas sana. Tapi lebih membuat Leonna heran, karena tidak ada setitik pun bulir keringat yang sekedar bertengger apalagi sibuk-sibuk berseluncur turun dari pelipis Reid.
Apa mungkin akan masuk akal kalau makhluk bernama Reid ini ternyata memiliki sebuah kekuatan super? Semacam jaring laba-laba Peter Parker dalam film fiktif dari Marvel, Spider-Man? Atau lebih realistis, para traceur dan traceuse—praktisi parkur generasi pertama? Yah intinya, Leonna benar-benar tidak habis pikir dengan metode Reid bisa sampai di atas dinding sana.
“Apa yang sedang kau lakukan?! Apa kau sudah bosan hidup?!”
“Terserah kau mau ikut atau tidak, tidak ada ruginya juga kalau kau tidak ikut.”
__ADS_1
“W-woah! Kau menyuruhku untuk ikut memanjat tembok ini?! Apa kau pikir aku ini juga siluman cecak sepertimu?”
Reid menguap lebar. Jelas tidak sama sekali tertarik, bahkan untuk sibuk-sibuk sekedar memberi secuil ulasan terhadap analisis tanpa bukti Leonna yang menyebutnya sebagai siluman cecak. Namun agak aneh di mata Reid, jika dia tidak salah lihat, Leonna dengan wajah super padam hingga kedua daun telinganya kini malah memalingkan pandangan ke arah ujung-ujung alas kakinya.
.
.
.
__ADS_1
To be continue...