
Batin Leonna sepertinya salah besar. Remaja bersurai hitam itu hanya mendadak frustrasi. Ia tidak tahu bagaimana pikiran menggelikan seperti itu bisa diproduksi oleh sel otaknya.
Apa mungkin Reid benar-benar menjadi idiot sekarang? Ia sepertinya harus segera mandi air dingin setelah sampai di rumah nanti.
“Eh, itu—”
“Hm?” Reid memandang Leonna dengan tatapan bertanya-tanya. Ia sebetulnya kaget karena Leonna tiba-tiba berucap dengan nada tinggi.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa.”
Halte bis hanya tinggal berjarak kurang dari sepuluh meter. Leonna pasti telah kehilangan separuh akal sehatnya. Ia dan Reid malah terus melangkah, kemudian berbelok ke arah berlawanan dari halte bis.
Tentu. Jalanan yang mereka sekarang lalui tidak sama sekali keliru. Malah, menurut sepengetahuan Leonna, ini adalah rute tercepat menuju apartemennya kalau memang memilih untuk jalan kaki.
“Apa tidak apa-apa untukmu pulang cepat? Maksudku—pekerjaanmu?”
Reid melirik Leonna sebentar. Ia baru sadar kalau tadi mereka melewati halte bis. Namun, Leonna memang tidak menghentikan. Salah ia juga kalau dipikir-pikir karena tidak langsung bertanya pada cewek mungil itu.
“Ya. Bibi Smith bilang aku bisa pulang cepat.”
“Gajimu tidak akan dipotong, kan?” Ujar Leonna lagi. Raut mukanya tampak cemas.
“Hahaha, tidak perlu. Kau tidak perlu khawatir.”
Cowok tinggi menjulang itu tidak terlalu mengerti juga mengapa ia tertawa. Tetapi, kasihan Leonna. Wajah berseri-seri Reid sukses mengakibatkan ritme jantungnya berantakan.
Apalagi dengan sinar lampu jalan yang entah kenapa begitu tepat waktu menyinari rupa menawan Reid. Lekuk rahang tegas Reid kini tampak berkali-kali lipat menggoda iman dan kewarasan Leonna.
‘Tidak! Manusia ini terlalu berbahaya untuk kesehatan jantungku!’
...🐣🐣🐣...
Bangunan apartemen mewah tersuguh di hadapan Reid dan Leonna. Perjalanan menyenangkan dan agak—mendebarkan mereka harus berakhir sampai di sini. Leonna memandang ujung jari-jemarinya sendu. Kontras sekali dengan Reid yang tengah melebarkan kedua iris gelapnya.
__ADS_1
“Apa benar di sini?”
Reid tidak tahan untuk tidak bertanya. Ia masih menganga tidak percaya. Jelas ia tidak tuli ketika menguping kalau penampilan Leonna itu cocok untuk dikategorikan sebagai anak orang kaya. Tapi, siapa sangka gadis itu akan sekaya ini?!
“Ya, di apartemen ini. Dan ngomong-ngomong—apa kau ingin mampir? Maksudku, minum teh, kopi atau jus terlebih dahulu?”
“Itu—”
Pertanyaan malu-malu kucing Leonna mampir dengan penuh kejutan di gendang telinga Reid. Kakinya pegal. Tubuhnya juga letih karena seharian ini belum beristirahat. Ditambah, waktu rehat sebelum pergi ke pub juga makin tipis berkat mengantarkan Leonna pulang.
Namun, Reid langsung tersadar. Ia mana mungkin bertamu ke tempat seorang anak gadis malam-malam. Lebih lagi, sebuah apartemen yang pembayaran sewa per bulannya mencapai delapan belas ribu dolar! Uang gaji per jamnya sebagai kasir saja, bahkan tidak sampai lima dolar. Jadi, bagaimana bisa ia menjejakkan kaki di lantai mewah itu?
Menyedihkan. Kehidupan Leonna dan dirinya memang tidak bisa dan tentu, tidak akan layak untuk seupil pun dibandingkan.
“Oh, aku tidak keberatan, jika kau tidak ingin. Kau juga pasti lelah. Jadi, akan lebih baik juga untukmu pulang lebih cepat.”
Leonna tersenyum canggung. Ia lupa kalau Reid pastilah sangat kecapaian. Ia saja yang tidak bekerja sudah pegal-pegal. Apalagi Reid!
“Kalau begitu aku akan pulang dan—selamat malam.”
Leonna melambai girang. Hari ini sepertinya akan menjadi malam pertama ia tidur dengan sangat nyenyak dan memiliki mimpi super indah dari semenjak kedatangannya di negeri Gotham ini.
Punggung Reid sekarang sudah menghilang dari pandangan. Leonna dengan langkah riang berjalan masuk menuju bangunan megah itu. Ia betul-betul senang karena Reid tadi juga sempat mengucapkan selamat malam.
Sementara di lain tempat. Di antara dinding gelap dan sempit beberapa blok dari bangunan apartemen Leonna. Seseorang dengan wajah muram dan alis tertekuk curam memandang lekat-lekat punggung sempit Leonna.
Kepalan tangannya sudah lama mengeras semenjak kedatangan Reid dengan gadis itu. Ia lalu kembali memosisikan lagi letak Canon EOS 5D Mark IV DSLR. Postur tinggi tegap Reid masih dapat tertangkap teramat jelas oleh lensa kamera.
Ia berdecih beberapa kali dan mulai mengarahkan tepat ke arah figur remaja tanggung itu. “Tsk! Mengganggu saja.”
KLIK!
...🐣🐣🐣...
__ADS_1
Netra Leonna memandang lega ruangan apartemen mewahnya. Ia baru ingat, kalau tempat tinggalnya ini tidak mungkin layak untuk dimasuki makhluk tampan macam Reid Cutler.
Baju kotor, bungkus makanan ringan dan beragam jenis botol minuman kosong tengah berserakan manis di lantai apartemen Leonna. Debu dan pasir halus, bahkan semakin membuat pemandangan apartemennya itu seolah tidak berpenghuni.
“Kenapa aku baru sadar kalau tempat ini tidak layak huni? Leonna, Leonna. Kau benar-benar jorok ternyata.”
Leonna melangkah lambat memasuki apartemen. Ia kemudian meletakkan sepatu dan kaos kakinya dengan rapi ke dalam rak alas kaki di dekat pintu keluar. Jari-jemari bersih dari polesan cat kuku miliknya perlahan mulai mengambil satu per satu barang di atas lantai.
Pakaian kotor yang bertebaran tidak tentu Leonna letakkan ke dalam mesin cuci. Seprai dan taplak meja ia masukkan juga ke dalam perangkat elektronik modern merek Electrolux EFLS627UTT itu. Bungkus-bungkus makanan ringan, botol-botol plastik kosong dan berbagai macam kaleng minuman tidak lagi berguna, ia pisahkan dan masukkan dengan teliti ke dalam kantong plastik hitam.
Apron merah jambu dari dalam laci meja dapur kemudian ia ambil dan pakai dengan teramat apik. Bukan Leonna sering bersih-bersih atau apa ketika masih di Rusia dulu.
Tetapi, kakak kembarnya itu selalu memakai kain merepotkan ini saat mereka, koreksi, Leo memasak dan membersihkan dapur selepas mereka berdua menyantap habis beberapa bungkus Ramyeon instan.
“Apa ini rasanya menyentuh makanan basi? Menjijikkan. Bagaimana bisa ada orang yang sanggup tinggal di tempat bagai area pembuangan sampah paling bontot ini? Tsk! Mereka pasti sudah betul-betul putus urat kebersihannya.”
Kalimat sarkastik dan tanpa saring Leonna dijamin akan membuat dewi kebersihan balas menyindir. Beruntung, makhluk astral yang bersemayam di sel-sel otak dan urat kewarasan Leonna itu sedang tidak hadir.
Tentu. Orang mana yang mencibir makhluk lain ‘yang sudah jelas’ siapa dalang dari semua tindakan lalai di apartemen lantai VVIP itu? Gadis bermarga Mileková yang tengah membuang sisa-sisa makanan yang telah berubah menjadi oncom itulah pelakunya.
“Ini semua sudah terfermentasi dengan sempurna. Apa bisa ini aku jadikan sampel dan kirimkan ke perusahaan M&G cabang industri penelitian makanan? Kak Leo pasti akan sama—horornya denganku.”
Bibir Leonna terus berceloteh ini itu. Ia yang telah sempurna dengan sarung cuci tangan kini beralih mengambil piring pertama.
Air keran pada wastafel juga telah ia nyalakan. Sekarang ia hanya perlu memberi sabun pada bisa pencuci piring, sedikit memijit juga menekan-nekan agar keluar gelembung-gelembung lembut dan kemudian mengoleskannya rata pada keramik polos yang telah berada di genggamannya.
Begitu seharusnya prosedur mencuci piring yang baik dan benar. Tapi, mohon maaf. Leonna terlalu ceroboh dan buruk dalam melakukan pekerjaan rumah. Semua rangkaian metodologi itu hanya berputar-putar indah di kepalanya. Dan, satu, dua, tig...
PRANG!
.
.
__ADS_1
Bersambung...