
Reid agaknya terlalu fokus melamun. Ia sampai tidak sadar kalau Leonna kini sudah berada di barisan paling ujung dekat jendela kelas. Cowok tampan yang selalu dalam mode setelan serba hitam itu mendadak merasa tidak suka.
Seorang siswi berwajah Asia Timur tulen. Berpenampilan mirip sekali dengan orang-orang di Distrik Gangnam tiba-tiba menyapa gugup Leonna. Ia dengan sangat berani menawarkan gadis berambut pirang itu untuk duduk di bangku kosong di sebelah kirinya.
“Oh, terima kasih.”
Ujar Leonna agak terkejut. Ia sebenarnya kesal karena pagi-pagi telah harus mendapati wujud menyebalkan Quinn. Tapi, lebih menjadikan kepalanya mendidih, karena Quinn duduk terlampau dekat dengan bangku Reid Cutler.
Tidak tahu juga apa alasan Leonna jadi sebegini terganggunya dengan pemandangan Reid dan Quinn. Ia intinya hanya tidak senang. Bahkan, jika ia bisa. Ingin sekali ia merampas kursi Quinn dan berganti jadi ia yang duduk di dekat Reid.
Namun, itu jelas sangat tidak waras untuk Leonna lakukan. Lagi pula, ia siapa? Sampai harus bertindak sebegitu ekstremnya. Teman saja, ia belum tentu dianggap. Apalagi—ehm, yang lain-lain, kan?
“Ngomong-ngomong, perkenalkan. Aku, Oh Min-Ju dan—kau?”
“Aku, Leonna.”
Jabat tangan gadis yang memperkenalkan diri bernama Oh Min-Ju itu Leonna sambut dengan amat ramah. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan keseluruhan rupa dan aksen gadis di depannya ini. Tetapi, setelah ia mendengar deretan nama yang jelas sekali berasal dari negeri K-Pop, ia serta merta menjadi super senang.
Berbeda dengan atmosfer seorang Leonna yang kini sudah seperti musim semi. Penuh warna, kelihatan asyik dan teramat menyegarkan. Suasana hati kalem cowok yang sejak tadi terus diganggu mulut ember Quinn mendadak berubah jadi gersang.
Musim panas kronis dan sengatan-sengatan beracun kalajengking gurun seperti tengah merundung kesadaran Reid. Lagi-lagi perasaan membingungkan ini muncul. Ia tidak tahu harus bagaimana. Apa perlu ia mendatangi Kak Yin saat istirahat nanti untuk berkonsultasi?
Kemarin, jantungnya berdetak terlampau cepat. Sekarang, dadanya tiba-tiba merasa nyeri dan sesak. Sebenarnya penyakit macam apa yang telah menjangkit tubuh malangnya ini? Apa ia akan mati muda sebelum berkeluarga?
Tidak bisa dibiarkan. Ia harus datang ke UKS kalau begini.
“Reid? Reid! Apa kamu tidak mendengarku? Oh! Ayolah, Reid!”
Jika Reid sedang sibuk memikirkan kompleksitas yang terjadi pada tubuhnya. Sementara Leonna sendiri kini juga tengah bersenda gurau dan tampak kian akrab saja dengan Oh Min-Ju. Maka lain lagi dengan keadaan seorang Quinn Delaney.
Ia duduk paling dekat dengan Reid. Bisa mengobrol dengan Reid sesuka hati, walau sering kali gebetannya itu sama sekali tidak merespons. Jelas, ia yang seharusnya lebih layak mendapat perhatian Reid.
__ADS_1
Tapi, kenapa semenjak Leonna sialan itu datang ke Stuyvesant, cowok menawannya ini selalu saja berlama-lama mengunci pandangan ke arah anak baru itu?!
Quinn benar-benar sudah tidak tahan. Incarannya tidak boleh lepas begitu saja. Ia betul-betul perlu melakukan sesuatu untuk menghentikan kelancangan gadis Rusia itu.
“Tidak akan aku biarkan kau berani-beraninya mencuri Reid dariku. Lihat saja kau Leonna! Akan aku buat kau menjauh dengan sendirinya dari Reid.”
...🐣🐣🐣...
Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi juga. Perut Leonna sejak tadi sudah kuruyuk-kuruyuk karena tidak jadi sarapan. Memang, pada dasarnya ia hampir tidak pernah makan pagi saat di Rusia dulu. Namun, itu semua berkat ia yang selalu makan tengah malam.
Tetapi, semenjak tidak ada koki yang siap siaga dua puluh empat jam dan kalau beli pesan antar pun biasanya Leo yang mengurus sisa-sisa makanan. Leonna akhirnya jadi malas makan dan ngemil malam hari. Terpaksa, ia pun harus berakhir super kelaparan sekarang.
“Quinn, lihat! Gadis sombong itu baru saja keluar dari kelas.”
Leonna memicing sedikit. Ia baru saja melangkah keluar dari ruang kelas. Namun, tidak jauh dari ruangan kelas yang baru ditempatinya itu. Quinn Delaney dan dua orang gadis di kiri kanan Quinn tampak tengah menatap gerak-geriknya super intens.
Rentetan kalimat kasar salah satu dari dua gadis komplotan Quinn juga tidak bohong bisa teramat jelas Leonna dengar. Tentu. Bagaimana mungkin gendang telinganya tidak menangkap celetukan tanpa saring itu? Suara yang sengaja dibesar-besarkan hingga membuat siswa-siswi lain melirik penasaran. Ia tidak tuli, tahu!
Bibir Quinn betul-betul bukan main cabainya. Syukur, cacing-cacing di perut Leonna kali ini lebih layak untuk diprioritaskan. Lagi pula tidak ada untungnya juga menanggapi ocehan sepihak Quinn dan kawan-kawan.
Kalau dengan balas marah bisa membuat kenyang, sudah pasti akan Leonna lakukan tanpa perlu ia repot-repot berpikir luas kali keliling. Tapi, yang ada bukannya ia kenyang, malah bisa-bisa sakit mag lagi.
“Benar. Lebih lagi, ekspresinya. Apa dia itu jal*ng? Tatapan polos dan merayu secara bersamaan. Mirip sekali dengan para wanita pemuas nafsu di Rusia, ya kan?”
Raleigh Palomi, gadis bercat rambut ungu tua dengan sedikit warna perak di bagian kirinya lagi-lagi buka suara. Tahi lalat menonjol di bawah mata gadis itu seolah ikut mengolok-olok Leonna. Insan di sebelahnya yang berwajah lebih polos sontak menyahut.
“Menjijikkan. Apa dia tampil tiap hari dengan busana mahal itu karena bekerja sebagai pel*cur?”
Nada bicara yang kelewat dibuat imut-imut oleh Vanya Orleans agaknya sanggup mendorong perut kosong Leonna untuk memuntahkan entah apa—author pun tidak tahu. Otak Leonna bahkan kini sudah teramat mendidih.
Sebetulnya pula, bukan Leonna tidak mau beranjak dari depan kelas. Berhenti mendengarkan omong kosong tiga makhluk itu. Tetapi, tadi saat mata pelajaran pertama berakhir, Oh Min-Ju bilang ingin makan siang bersama. Jadi, di sini Leonna. Masih menunggu kedatangan gadis asal Seoul itu untuk menjemputnya.
__ADS_1
“Kekeke... Bisa jadi. Gadis seperti dia mana mungkin masih per*wan!”
Wow! Obrolan trio menor itu kemungkinan besar tidak hanya masuk dalam nominasi kalimat paling pedas sedunia. Trofi Manusia Ter-Bacar Mulut, jelas akan dimenangkan oleh mereka. Terutama, Quinn Delaney.
Rekor dengan tema kemampuan terunik yang pernah dicetuskan dalam sejarah, pasti akan sangat cocok untuk Quinn. Tema berjudul ‘Saliva (Lidah) Mamalia Paling Berbisa Di Dunia’ sepertinya akan sangat populer di kalangan peneliti pola pikir Homo Sapiens.
Siapa tahu, riset absurd macam itu bisa menyeret Quinn menghilang bersama sifat parasitisme anti-manusiawinya itu jauh-jauh dari Leonna. Jadi, gadis Rusia bermarga Mileková ini dapat hidup tenang, begitu pula dengan Reid Cutler. Benalu macam Quinn hanya akan menjadikan kehidupan cowok itu susah dan tambah melelahkan.
PING!
“Apa notifikasi dari Oh Min-Ju?”
Telunjuk Leonna dengan kilat mengetuk layar ponselnya dua kali. Ponsel di genggamannya serta merta menampilkan sebuah pesan masuk. Tetapi, bukan nama Oh Min-Ju yang tertera di sana. Melainkan nomor kontak ‘Reid Cutler Spanyol’ yang muncul tanpa diundang.
Leonna pun buru-buru menggulir layar ponsel ke atas. Ia kemudian membuka kotak pesan dan membaca pesan yang dikirim Reid.
...[ 1 Pesan masuk dari: Reid Cutler Spanyol ]...
...Jika kau ada waktu, segera temui aku di atap sekolah. Tetapi, kalau kau tidak bisa. Tidak apa-apa. Kita bisa melanjutkan diskusinya lain waktu....
Sementara pada jarak kurang dari lima meter dari tempat Leonna berdiri. Quinn yang mendapati gadis menyebalkan di seberang kelasnya itu malah tenggelam di balik layar ponsel sontak berdecak kesal. Ia jelas penasaran apa yang tengah dilihat Leonna hingga tiba-tiba gadis Rusia itu tersenyum menjijikkan.
KRINGGG!
Belum selesai tanda tanya Quinn dan tentu, dua sejolinya itu terjawab. Telepon Leonna mendadak berdering. Tanda sudah pasti bukan sekadar pesan yang cewek itu terima. Tetapi, sebuah notifikasi panggilan masuk.
“Apa kali ini? Telepon? Apa itu telepon dari kliennya? Ugh, aku ingin muntah hanya dengan memikirkannya saja.”
.
.
__ADS_1
Bersambung...