HTTP 404

HTTP 404
Bab #22


__ADS_3

Ponsel pintar yang memang sudah tergeletak di atas meja bar dapur serta merta Leonna ambil. Air mukanya sontak berkali lipat kian gelap begitu menangkap layar ponsel. Tebakan penuh emosinya tadi ternyata tepat sasaran.


Pemberitahuan di bagian bar layar ponsel telah kembali menampilkan notifikasi dari forum GCD!. Isi beritanya pun tidak jauh berbeda. Hanya perubahan angkanya saja yang kian tidak masuk akal.


...[ Anda memiliki 999+ notifikasi baru dari forum GCD! ]...


...Lion.Me! Anda mendapatkan 6,1 juta pengikut baru, 13 juta suka dan 4,9 juta komentar. Segera cek dan lihat siapa saja yang telah mengikuti, menyukai dan mengomentari postingan anda. Silakan tekan untuk mengetahui lebih lanjut....


“Kenapa notifikasi ini tidak ada habis-habisnya? Kak Leo tidak bisakah kamu cepat-cepat membalas pesanku—?”


Selera makan Leonna yang memang sudah tipis kini benar-benar lenyap sempurna. Layar ponsel dengan kesal ia matikan. Ia dengan beringas kemudian menaruh sarapannya yang baru tersentuh sedikit itu ke dalam wastafel. Kopi hitam instan lalu ia tenggak hingga habis tak bersisa.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit. Leonna dengan kilat berlari memasuki kamar. Buku-buku ia masukkan asal ke dalam tas yang juga ia ambil tanpa pikir dua kali. Ia bahkan tidak sadar kalau penampilannya kini sudah semakin mirip saja dengan Reid.


Tampilan bernuansa hitam dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sepatu kets hitam yang kurang Leonna suka karena agak kekecilan pun ia pakai begitu saja. Ia lalu buru-buru keluar dari apartemen.


Halte bis dan kerumunan orang. Tentu. Ia tidak boleh telat dua kali dalam satu minggu. Syukur, kalau ditolong Reid seperti kemarin-kemarin. Kalau tidak? Nasib absensinya hari ini bisa-bisa berakhir kosong tanpa alasan. Ugh, baru memikirkannya saja sudah membuat kepalanya pening.


“Selamat pagi, Nona! Buru-buru sekali pagi ini?”


Sopir bis yang hampir tiap hari ditemui Leonna menyapa ramah. Gadis dengan perasaan agak suram itu sontak balas tersenyum meski agak kaku. Ia untung tadi berlari sekuat tenaga. Kalau tidak, bisa-bisa ia harus terpaksa menunggu kedatangan bis lain.


“Ah, ya. Pak Sopir. Semangat bekerja lagi hari ini!”


Ucap Leonna ketika menempelkan kartu transportasinya. Ia kemudian langsung duduk di satu-satunya kursi kosong yang tersisa di belakang kemudi. Namun, jika saja pagi itu Leonna lebih peka dengan keadaan sekitar.

__ADS_1


Seseorang dari kejauhan dengan kamera ponsel yang diam-diam menghadap ke arah Leonna tiba-tiba cekikikan sendiri. Seorang anak perempuan dengan model rambut dikucir dua yang duduk berdempetan dengan sosok itu bahkan sampai memandang takut.


Figur dengan topi dan poni rambut yang menutupi matanya itu seolah sadar dengan kondisi penumpang kecil di sebelahnya. Ia melirik sedikit. Kemudian, tidak tahu tengah mencari-cari apa, ia sibuk merogoh-rogoh ke dalam saku jaket hitam kebesaran yang ia kenakan.


Koin senilai lima sen mendadak meluncur jatuh dari dalam saku. Bunyi nyaring koin ketika menyentuh lantai besi bis refleks membuat anak kecil itu menengok penasaran. Bulu kuduk perempuan berusia tidak lebih dari tujuh tahun itu mendadak meremang ketakutan. Jari-jemari kecilnya beralih memeluk erat lengan atas wanita yang duduk di sebelahnya.


Tetapi, amat disayangkan. Ibu si anak perempuan mungil itu terlalu sibuk bermain ponsel. Wanita dengan lipstik merah tua tebal itu bahkan tidak sama sekali melemparkan secuil lirik ke arah buah hatinya.


Kontras sekali dengan sang figur menyeramkan. Ia menunduk untuk mengambil koin lima sen itu. Namun, di detik selanjutnya, tiba-tiba ia menatap si anak kecil lamat-lamat. Senyum miring terlukis di atas wajahnya yang hampir tidak sama sekali kelihatan.


Ia lalu mendekatkan bibir bersih dari tindik miliknya ke daun telinga si anak. Kalimat bisik-bisik yang hanya bisa didengar oleh anak kecil itu refleks membuat empunya tiba-tiba menangis kencang.


Ponsel yang ada di genggaman ibu anak kecil hampir saja jatuh saking ia terkejutnya. Wanita itu dengan wajah memerah serta merta membungkuk beberapa kali untuk meminta maaf kepada penumpang lain di dalam bis.


Sedangkan sosok yang kini sudah duduk kalem dengan headset tersumpal di telinganya lagi-lagi terkekeh mengerikan. Netranya terkunci ke arah Leonna yang kini sedang sibuk memainkan ponsel pintar.


“Kamu juga suka dengan kakak cantik di depan? Tapi, sayang sekali. Ia pasti akan sangat marah, jika melihat ekspresi kekanakan kamu, adik manis. Jadi, enyah. Oke? Ia akan sangat bahagia, kalau kamu tidak mendekatinya.”


...🐣🐣🐣...


Keadaan sekolah pagi ini seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Berisik para siswa-siswi sedari tadi sampai-sampai membuat satu per satu pengajar yang baru datang hanya bisa geleng-geleng kepala. Guru kedisiplinan pun tidak bisa berbuat apa-apa. Bel masuk masih sekitar lima belas menit lagi sebelum berdering.


Di lain tempat. Di dalam ruang kelas paling jauh dari tangga bangunan lantai dua. Tampak, kelas yang di tempati makhluk bernama Reid sama berisiknya dengan kelas-kelas lain.


Namun, bisa ditebak. Reid tidak setitik pun memedulikan kegaduhan pelajar sekelasnya pagi ini. Ia terus saja diam sembari mendengarkan musik. Hingga kedatangan gadis paling mengganggu tiba-tiba muncul dari balik pintu kelas.

__ADS_1


“Reid! Kamu datang pagi sekali hari ini?”


Quinn Delaney berseru girang. Cowok incarannya sejak kelas satu SMA itu pagi-pagi sudah duduk di kelas yang sama dengannya.


Sementara Reid yang disapa tidak sedikit pun bereaksi. Ia terlalu malas bahkan untuk sekadar melihat wajah gadis menor itu. Ia yang ada malah semakin mengencangkan suara musik di headsetnya.


“Oh, tungkai kakiku.”


“Pagi, Leonna! Baru datang?”


Lagu yang didengarkan Reid dengan volume tinggi untuk menghalau suara Quinn seolah mendadak sunyi senyap. Daun telinganya refleks berdenyut begitu mendengar samar-samar nama familier seseorang disebut. Ia sontak melirik ke arah pintu kelas.


Benar saja. Gadis bermarga Mileková itu sudah berdiri di depan ruang kelas. Reid entah dorongan dari mana. Ia serta merta mengecilkan suara musik. Diam-diam ia lalu memperhatikan gerak-gerik Leonna.


Namun, tidak butuh lama. Raut wajah Reid mendadak kelihatan bingung. Kedua alis gelapnya mengernyit dalam. Tampak runyam sekali penampakan Reid, meski hanya dilihat sekilas.


Reid yakin. Semalam, ia tidur dengan sangat nyenyak. Walaupun ia baru tidur pada waktu dini hari dan itu pun tidak lebih dari empat jam, ia tidur dengan sangat pulas. Bahkan pagi ini ia bisa bangun lebih awal dan tetap tidak merasakan kantuk sama sekali.


Tetapi, setelah Reid melihat air muka Leonna lamat-lamat. Kenapa raut gadis itu kelihatan begitu lelah? Suaranya juga. Kenapa terdengar serak begitu? Apa Leonna sedang tidak enak badan? Jangan-jangan gadis itu terlalu kelelahan karena kerja kelompok kemarin?


“H-hai? Apa kau ingin duduk di sebelahku?”


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2