
Seorang wanita pada fase usia kepala empat dengan tahi lalat atau bisa dikatakan lebih mirip dengan kutil pada sisi kiri dekat garis hidung bangirnya berseru menyebut nama Reid. Aktivitas jari-jemari berlemak miliknya mengelap permukaan meja kasir pun ikut terhenti dan langsung berkacak pinggang sembari menatap garang ke arah figur tinggi menjulang yang sekejap sudah berdiri empat setengah ubin di hadapannya.
“Kamu ini Reid, kebiasaan telat terus. Pasti belum sarapan lagi kan? Ya sudah masuk dulu, tapi ehm! Tumben kamu bawa pacar! Plus, selera kamu memang benar-benar Reid... Dari mana pula kamu dapat gadis cantik begini? Hm? Siapa namanya, katakan pada ibu.”
Bu Wira, madam penjaga kafetaria sekolah tersenyum mesem-mesem. Kedua netra tuanya bahkan sampai hanya menyisakan segaris melengkung panjang dihiasi kerut-kerut tanda penuaan di sekitar sudut-sudut matanya. Leonna balas melontarkan senyum kikuk, lain sekali dengan Reid yang memutar bola matanya malas.
Tanda tanya tercetak serentak pada wajah Bu Wira dan juga Leonna. Reid sebagai subjek kebingungan mereka kemudian menghembuskan nafas jengah dan tanpa sopan santun melangkah santai dengan jari-jemari diselipkan sok keren di saku celana melewati Bu Wira. “Bukan?”
__ADS_1
“Bukan pacar. Dia orang asing.”
“Reid, kamu ini bicaranya! Mana mungkin kamu bawa orang asing, teman saja ibu tidak pernah lihat. Sudah, akui saja. Gadis cantik ini pacar kamu kan?! Berani bohong-bohong lagi sama ibu. Mana mungkin juga ada gadis yang tidak tertarik sama wajah tampanmu Reid. Ya, kan? Siapa tadi nama kamu, nak?”
Bu Wira mendadak menyambar jemari selembut kapas Leonna dan dengan ceria mengelus-elus sembari meremet-remet gemas seolah Leonna adalah mainan squishy atau boleh jadi sebuah boneka panda hidup dan gerakannya semakin semangat ketika Leonna dengan agak patah-patah menjawab rasa penasaran Bu Wira.
“Kan, dari namanya saja sudah cantik. Kamu ini Reid, kalau hanya tersisa satu wanita secantik nak Leonna ini juga kamu tidak akan menolak. Ya, kan? Oh, dan panggil saya Bu Wira saja. Jangan madam, aneh sekali soalnya di telinga.”
__ADS_1
Leonna ditarik cepat Bu Wira menuju pintu dapur kafetaria. Reid di dalam dengan wajah tanpa ekspresi memandang lurus ke arah permukaan berselimutkan taplak bercorak kotak-kotak hijau zaitun.
“Terserah, ibu mau bilang apa. Tapi koreksi, Reid tidak akan mau sama orang ini walau hanya tersisa satu spesies Homo sapiens betina di bumi.”
“Mulut kamu ya, Reid?! Apa lagi homo sap-sopi, apalah itu namanya? Sudah nak Leonna, tidak perlu kamu masukkan ke hati ucapan Reid. Gengsi sebenarnya Reid itu dan lebih baik, sibukkan saja mulut kamu Reid dengan makanan. Nak Leonna juga dan segera kembali ke kelas. Khawatir ibu, kalau tiba-tiba ada pengecekan dan malah ada murid di sini.”
Bu Wira berucap panjang lebar dan langsung pergi setelah menerima respon anggukan datar Reid juga senyum tawar Leonna. Atmosfer ruangan seketika menjadi berat dan tidak perlu panjang lebar lagi menjelaskan keadaan dua makhluk jelmaan, mungkin, malaikat di kehidupan sebelumnya itu, mereka berdua makan dalam diam. Begitu sunyi.
__ADS_1
Namun, tidak tahu entah kenapa. Sesuatu dari kalimat terakhir Reid beberapa waktu lalu, seketika terlintas dan terus berputar di kepala Leonna. ‘Ah, perasaan menyesakkan ini, apa namanya?’