
Ramalan cuaca mengatakan kalau hari ini akan mendung dan kemungkinan besar akan hujan deras. Tentu, seperti biasanya. Para ahli meteorologi iklim, ahli prakiraan cuaca, atau apalah sebutannya mereka itu, jarang sekali, bahkan bisa jadi sangat kecil persentasenya untuk meleset.
Namun, temperatur yang seharusnya rendah, entah kenapa malah terasa pengap dan kelewat panas hari ini. Bisik-bisik dan tatapan sinis penuh aura negatif pun tidak henti-hentinya tertuju ke arah Leonna.
“Apa kau tidak kedinginan melepas sweater-mu seperti itu?” Reid yang duduk di hadapan Leonna bertanya santai. Ini adalah hari pertama dan sesi istirahat pertama bagi dirinya dan Leonna makan siang bersama.
“Tidak. Aku agak gerah sebetulnya,” Jawab Leonna, seraya berulangkali mengelap peluh di leher dan dahinya dengan tisu. “Bagaimana makanannya? Apa paket satu sesuai seleramu?”
“Ini tidak buruk. Jadi kupikir, mungkin iya?” Pandangan Reid mengarah lurus kepada nampan berisikan berbagai macam makanan paket satu.
Jujur. Ia biasanya hanya akan duduk makan di kafetaria kalau satu dua kali terlambat datang ke sekolah dan berakhir mendapat sarapan gratis dari Bu Wira. Selebihnya, ia tidak ingat pernah duduk makan di sini, terkecuali pernah beberapa kali saat Kapten YOLO itu sedang kambuh gilanya dan minta ditemani makan.
“Syukurlah kalau begitu,” Leonna tersenyum lega. “Tetapi, sekarang melihatmu makan dengan lahap dan bahkan menghabiskan hingga brokoli dan wortel. Kau sepertinya bukan tipe yang pilih-pilih makanan.”
Iris Reid diam-diam memandang aneh pantulan wajahnya di permukaan kuah sup ayam yang isiannya telah ludes. “Tidak ada waktu untukku pilih-pilih makanan. Dan lagi, mubazir kan meski hanya sebutir nasi terbuang.”
Leonna mengangguk-angguk dengan kedua alisnya merapat, membentuk garis lurus. “Kau benar. Tapi, bagaimana jika ada makanan yang kau tidak suka? Atau kau alergi terhadap makanan itu? Apa kau akan tetap memakannya?”
Sendok yang berada di dalam mangkuk sup ayam, Reid keluarkan dan letakkan dengan terbalik di piringnya yang juga telah bersih tanpa sisa. “Tergantung,” Reid menatap Leonna sekilas.
“Jika aku alergi dengan makanan itu, maka tidak ada pilihan lain selain tidak sama sekali menyantapnya. Tapi kalau hanya tidak suka, aku rasa tidak baik jika harus sampai membuangnya. Dan mau aku tidak suka atau alergi, akan lebih baik kalau di kedua kalinya aku memberitahu untuk mengurangi menu makanan itu.”
“Benar. Antisipasi agar tidak buang-buang makanan,” Celetuk Leonna. Kemudian menyesap jus alpukatnya sampai tersisa seperenam gelas.
“Kau sudah selesai?” Tanya Leonna setelahnya. Reid yang memang sudah melahap habis semua makanannya hingga kinclong, refleks mengangguk patah-patah.
__ADS_1
Minuman Leonna pun oleh empunya itu lalu buru-buru ia habiskan. Gorengan udang tepung pedasnya juga dengan sekali lahap, ia masukkan ke mulut hingga membuat pipi mulusnya menggembung lucu khas tupai.
Reid yang melihat tingkah tergesa-gesa dan agak ‘menggemaskan’ Leonna, tanpa sadar terkekeh geli. Air muka ceria dan menawan Reid serta merta membuat tidak hanya jantung Leonna yang berdetak cepat dan tidak karuan. Melainkan seluruh pasang mata yang sengaja, tidak sengaja menangkap ekspresi kelewat tidak biasa Reid.
“Apa? Apa ada sesuatu yang lucu di wajahku? Kenapa kau tiba-tiba memasang wajah begitu?” Bisik Leonna setengah berseru. Rona merah kebakaran menyebar dari muka, melewati telinga, sampai bagian belakang leher jenjang Leonna.
“Hm? Memangnya ada apa dengan ekspresiku?” Tanya Reid rada tidak mengerti.
“Itu... kau tertawa,” Cicit Leonna malu-malu. Mengingat aura tampan Reid beberapa detik lalu.
“Benarkah?” Respons Reid tidak percaya. “Aku tertawa?”
“Ya. Dan tawamu itu benar-benar terlampau berbahaya!” Racau Leonna bak anak umur lima tahun yang pundung minta es krim. “Lupakan saja. Ayo kita segera kembali ke kelas. Bel masuk sebentar lagi akan berdering.”
Reid hanya bisa melongo bagai sapi ompong. Ia tidak satu persen pun paham dengan apa yang dikatakan Leonna barusan. Dan belum sempat ia bertanya, gadis asal negeri beribukota Moskwa itu sudah melangkah lebih dulu menuju tempat pengembalian nampan kotor.
Sementara di lain tempat. Di barisan meja paling belakang berisikan kelompok gadis-gadis yang hobi parah menempeli primadona Stuyvesant, alias Quinn, bahkan setelah kepergian Reid dan Leonna masih belum ada tanda-tanda kalau mereka akan berhenti menggosip.
“Ada apa dengan Pangeran Es? Tidak biasa sekali cowok ganteng itu makan di kafetaria. Apalagi dia bukan makan dengan Noah, melainkan... siapa itu?”
“Kau tidak tahu? Anak baru itu popular sekali akhir-akhir ini. Terlebih setelah klip video yang tersebar antara dirinya dan Reid di grup Ka-Talk Angkatan 53.”
“Oh, aku ingat. Bukankah dia juga yang beberapa waktu lalu makan siang bersama TTS?”
Gendang telinga Quinn yang duduk di sebelah Vanya serasa mau pecah. Ia sejak kemarin-kemarin sudah betul-betul muak mendengar Leonna ini, Reid itu, Leonna dan Reid ini-itu.
__ADS_1
Nafsu makannya juga semakin memburuk saja setelah tadi mereka bertiga — ia, Vanya Orleans, dan Raleigh Palomi — tidak dapat tempat makan yang biasanya dan terpaksa harus bergabung dengan para gadis pecundang ini. Lebih menyebalkan pula, karena acaranya nanti malam harus batal lagi gara-gara kelakuan licik si rubah Lawton.
“Kau benar tidak akan datang nanti malam?” Tanya Raleigh. Kemudian mengelap hati-hati bibir berlipstik gelapnya dengan tisu.
“Sialnya, iya.” Jawab Quinn, cemberut.
“Pasti itu karena wakil ketua OSIS itu kan? Atau jangan-jangan adiknya lagi?” Seru Vanya sok tahu.
“Mereka berdua lebih tepatnya. Tapi, lihat saja. Lain waktu aku akan mengacaukan mereka, sehingga duo Lawton itu tidak lagi bisa datang, apalagi sampai menggangguku di sana.” Sungut Quinn sarat kebencian.
“Tapi, ngomong-ngomong, apa menurut kalian mereka berdua berakhir betul-betul sepaket? Pacaran? Reid dan Leonna?”
Quinn sontak kembali sebal. Raleigh yang paham betul dengan keingintahuan tidak tepat waktu Vanya, serta merta menendang keras kaki gadis yang gemar menata rambutnya dengan poni itu.
“Berhenti bergos—”
“Dia memang benar-benar harus diberi pelajaran,” Desis Quinn. “Kalian, sore ini karena nanti malam aku tidak ada kegiatan, mari kita bersenang-senang dengan cara yang lain,”
Raleigh mau tidak mau bergidik ngeri. Meski dirinya dan Vanya sudah lama mengenal Quinn. Namun, jika menyangkut hal-hal beraura hitam seperti ini, serius, Quinn jelas tidak mungkin main-main.
“Ayo, balik ke kelas. Aku akan menelepon Axle nanti untuk pinjam kunci.” Lanjut Quinn. Lantas secepat kilatan cahaya telah berjalan lebih dulu tanpa lagi-lagi membawa nampan kotornya.
“Ini gawat.” Gumam Raleigh, merasa terbebani.
.
__ADS_1
.
Bersambung...