HTTP 404

HTTP 404
Bab #37


__ADS_3

Tepukan keras mendarat di pundak lebar Reid. Cowok yang sedari tadi tidak sama sekali merespons pertanyaan Bibi Smith refleks menengok ke arah kanan. Air muka bos swalayan kerja paruh waktunya itu tampak kesal sekaligus sirat tanda tanya secara bersamaan.


Reid dengan senyum hambar dan pandangan mata yang penuh kebingungan kemudian buka suara. Ia tidak ingin sekali membuat khawatir Bibi Smith. Tetapi, mau bagaimana? Gerak-geriknya sejak kemarin betul-betul tidak bisa dikatakan tidak janggal dan memusingkan kepala.


“Ya? Bibi tadi bilang apa?”


Alis dengan sedikit uban yang mulai mencuat-cuat Bibi Smith sontak membentuk satu garis lurus. Ia samar-samar mulai jengah sendiri dengan senyum dipaksakan Reid.


Bukan karena senyum Reid tampak menyebalkan atau apa. Namun, pemuda menawan di sebelahnya ini sudah sejak lama ia anggap sebagai anak sendiri. Jadi, jikalau ada sesuatu yang tidak mengenakkan menimpa Reid. Hanya dari raut wajahnya saja ia tahu. Ditambah lagi, hal hebat apa yang sampai-sampai membuat pegawai teladan dan sangat bisa diandalkannya ini tiba-tiba berubah menjadi amat ceroboh dan kaku?


“Dua hari ini kamu kenapa Reid? Tidak biasanya hingga melamun terus-menerus begini. Ada apa? Apa yang sedang kamu pikirkan, hm? Apa itu gara-gara tugas kemarin? Terlalu rumit, kah?”


“Ah, itu—tidak, maksudku, iya. Tidak, tidak. Aku—tidak ada yang sedang aku pikirkan.”


Jawaban terbata-bata Reid jelas sekali tidak secuil pun berhasil menenangkan kecemasan Bibi Smith. Ia yang ada kian menjadikan wanita berusia menuju kepala lima itu dirundung rasa penasaran.


Pertanyaan bernada gamang tidak bisa dielakkan kemudian terdengar lagi dari mulut Bibi Smith. “Benarkah? Kamu yakin Reid?”


“Ya. Bibi tidak perlu khawatir dan maaf juga, aku jadi menyusahkan.”


Reid menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia lagi-lagi melemparkan senyum kikuk dan menghindari dari menatap tepat kedua iris gelap Bibi Smith.


Sementara Bibi Smith yang mendapat respons begitu tidak natural Reid, akhirnya hanya bisa menghela nafas pasrah. Susah benar ternyata mendorong seorang remaja bermarga Cutler ini untuk mengeluarkan curahan hatinya. Padahal kan tidak masalah meski hanya satu dua patah kata.


Tapi, ya sudahlah. Ribet dan makin rungsing pula jika lama-lama dibahas.


“Baiklah. Kalau begitu, di jam sepuluh pas kamu bisa pulang lebih cepat. Kemarin juga Bibi tahu dari Paman Smith, kamu tidak fokus ketika kerja. Jadi, untuk hari ini istirahat saja. Nanti pun akan ada Ulrich yang menggantikan di tiga puluh menit sebelum tengah hari. Sekarang, kamu kalkulasikan dan letakkan barang-barang yang baru datang saja ke dalam rak.”

__ADS_1


Ucapan panjang kali lebar Bibi Smith lantas mengakhiri sudah kecanggungan atmosfer di sekeliling Reid. Ia lalu dengan langkah cepat pamit undur diri untuk beranjak memasuki tempat penyimpanan barang. Namun, belum ada beberapa pijak setelah ia melewati pintu gudang, notifikasi dari ponsel pintarnya tiba-tiba menginterupsi.


PING!


...[ Pengingat Penting! — Tiga hari sebelum pengumpulan tugas teater komedi singkat bahasa Spanyol. ]...


Layar ponsel langsung menampilkan bar notifikasi begitu dinyalakan. Sebuah pengingat yang Reid pasang secara spontan seusai kelas Profe Ledger kemarin, tertera jelas di atas layar kunci. Ia pun berpikir sejenak. Bimbang. Apakah ia harus menelepon Leonna atau mengerjakan saja semuanya sendiri?


“Bagaimana sekarang? Aku sampai lupa kalau masih ada tugas merepotkan ini. Apa aku telepon saja Leonna? Tapi, kejadian kemarin—ugh, berhenti memikirkannya!”


PLAK!


Tamparan cukup keras Reid layangkan di pipi tirusnya. Ini sudah ke sekian kali bayang-bayang ciuman antara Leonna dan dirinya berputar bak kaset rusak. Jantungnya juga mendadak berdetak sangat cepat. Ia bahkan sampai grogi ketika mulai menghitung dan mengategorikan barang-barang swalayan yang baru saja tiba tadi pagi.


“Reid sudah jam sepuluh. Kamu bisa pulang lebih cepat. Ulrich juga tadi menelepon akan datang dalam lima belas menit. Kerja paruh waktunya untuk siang nanti juga dibatalkan. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dan bisa kembali bekerja esok hari.”


Loker yang berada tepat di dekat pintu masuk kemudian Reid buka. Ia tadi pagi karena terlalu terburu-buru jadi hanya membawa tas selempang berisi dompet, pulpen, dan sebuah buku catatan kecil.


“Tugas skit...”


Semua barang bawaannya kini sudah berada di genggaman. Namun, bukannya Reid langsung pergi, ia malah sibuk memandangi runyam tas ransel dan lalu tiba-tiba mengeluarkan si ponsel pintar.


“Hm, apa aku hubungi Leonna saja ya? Tapi, kemarin kan gadis itu sakit. Apa dia sudah baikan? Baiklah, aku akan mengiriminya pesan dulu.”


Reid yang berdiri lesu di depan loker lantas asik tenggelam mengotak-atik ponsel pintarnya. Ia kemudian membuka kotak pesan dan mulai mengetikkan sesuatu. Ia setelah berulang kali merangkai, menghapus, dan memodifikasi hasil ketikannya lalu dengan ragu-ragu menekan tombol kirim.


...[ Penerima: Leonna Rekan Skit Spanyol ]...

__ADS_1


...Leonna, apa kau sudah merasa baikan? Jika iya, apa kau mau bertemu hari ini untuk mengerjakan tugas skit kita? Tapi, kalau kau masih tidak enak badan. Tidak usah, tidak apa-apa. Selamat beristirahat....


Tok... Tok...


Ketukan di pintu menghentikan aktivitas melamun Reid. Tampak Bibi Smith sudah berdiri di depan pintu masuk dan hanya diam menatap pemuda jangkung itu seraya tersenyum. Sedangkan Reid yang ditatap lalu dengan keki segera memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku celana.


“Bibi Smith, apa ada sesuatu?”


“Tidak ada. Hanya—dengar. Bukan maksud bibi untuk ikut campur atau apa. Tetapi, jika ada sesuatu yang mengganggumu, kamu selalu bisa berbicara dengan bibi. Mungkin, memang tidak akan banyak membantu. Namun, bibi harap dengan mengeluarkan keluh-kesahmu, beban di hati dan pikiranmu agaknya dapat sedikit berkurang dan lebih jernih.”


Mendapati kalimat menenangkan Bibi Smith, Reid lantas tersenyum haru. Ia sedih sekaligus senang diperhatikan seperti ini, terutama oleh seorang Bibi Smith.


Hidup tanpa orang tua kandung, bahkan tak kenal siapa orang yang telah melahirkanmu ke dunia, tentu. Siapa pun akan merasa pilu meski hanya setitik. Tapi, jika bukan karena ia ditelantarkan atau entahlah. Reid mungkin sekali tidak akan pernah bertemu dengan Bibi Smith, maupun orang-orang tulus dan penuh kasih sayang lain, macam Bibi Skyle, Bu Wira, juga Paman Smith. Ya. Ia telah merasa sangat beruntung sekarang ini.


“Terima kasih, Bibi Smith. Tapi, sungguh. Aku baik-baik saja.”


PING!


Bunyi notifikasi mengalihkan perhatian Bibi Smith menuju asal sumber suara. Ponsel pintar yang baru saja Reid masukkan ke dalam saku, terpaksa harus ia keluarkan lagi. Ia sontak tertegun. Nama pengirim pesan yang ia kira tidak akan langsung membalas, sekarang telah tertera di layar kunci.


...[ 1 Pesan masuk dari: Leonna Rekan Skit Spanyol ]...


...Kondisiku sudah membaik. Terima kasih telah merawatku kemarin malam. Masalah kerja kelompok, mari kita kerjakan hari ini. Kau bisa teks saja waktu dan lokasinya. Aku yang akan datang ke sana....


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2