
Desis Quinn yang langsung ditanggapi sama berlebihannya dengan Vanya Orleans dan Raleigh Palomi. Quinn yang memang sudah muak dan kesal selangit tiba-tiba beranjak pergi. Begitu pun cecunguknya yang meski sempat bingung, tapi kemudian tetap mengekori langkah gadis primadona Stuyvesant itu.
Di lain tempat. Leonna dengan kilat sudah memakai dan menyambungkan bluetooth earphones miliknya. Tombol hijau di layar ponsel segera ia geser. Tidak lama, suara dari seberang telepon terdengar. Ia refleks balas menyapa.
^^^[ Halo? ]^^^
“Ya. Halo.”
^^^[ Leonna. Ini aku Oh Min-Ju. Aku minta maaf sekali. Aku tidak bisa makan siang denganmu. Soalnya tadi, baru setengah jalan aku menuju kelasmu, dua orang siswi dari mata pelajaran kedua sudah lebih dulu menyeretku ke kafetaria. Sekali lagi Leonna, aku minta maaf. ]^^^
Nada bicara Oh Min-Ju kedengaran sangat tidak nyaman. Tentu. Bagaimana bisa ia membiarkan teman barunya menunggu sejak tadi dan ujung-ujungnya malah dibatalkan? Ia serius, merasa amat bersalah dengan Leonna.
“Ya. Tidak apa-apa,”
^^^[ Benarkah tidak apa-apa? Tapi, kau pasti sedari tadi menungguku, kan? Aku benar-benar minta maaf Leonna. ]^^^
Lagi-lagi Oh Min-Ju melontarkan kalimat maaf. Leonna jujur ia letih menunggu dan terus berdiri. Apalagi kegiatan memakan hampir delapan menit waktu makan siangnya dalam diam itu, harus ditemani tatapan ular Quinn dan antek-anteknya. Beruntung, Quinn dan kawan-kawan sekarang sudah menghilang tidak tahu ke mana.
“Sungguh, aku baik-baik saja. Aku juga tidak bisa datang. Aku ada urusan,”
^^^[ Hei, Oh Min-Ju! Siapa yang kau telepon? Apa pacarmu dari Korea? ]^^^
Bisik-bisik ramai terdengar dari sambungan telepon Oh Min-Ju. Dapat ditebak, suara ribut dan penuh energi itu pasti datang dari salah satu siswa yang menyebabkan acara makan siangnya dan Oh Min-Ju batal. Tapi, tenang. Leonna tidak dendam pun marah. Ia hanya telah terlalu kelaparan sekarang.
^^^[ Aku tidak punya pacar. Ini temanku, Leonna! ]^^^
^^^[ Alasan! Pasti itu pacarmu, kan? Ayo, jangan malu-malu. Katakan saja kalau itu pacarmu, dia juga pasti akan senang mendengarnya! Ya kan, oppa~? ]^^^
^^^[ Aku serius! ]^^^
^^^[ Hahaha~ ]^^^
^^^[ Aduh, Leonna. Maafkan aku. Mereka terlalu banyak bicara. Tapi, kau benar-benar tidak apa-apa kan? Serius? ]^^^
Perdebatan Oh Min-Ju dan dua siswi akhirnya berakhir juga. Leonna agak lega. Dia bukan tidak ingin berbicara dengan Oh Min-Ju. Hanya saja setelah ia membaca pesan dari Reid, sepertinya ia tidak punya banyak waktu untuk meluncur ke kafetaria. Belum lagi, ia juga tidak tahu denah menuju atap sekolah.
__ADS_1
“Serius. Kau bisa melanjutkan makan siangmu,”
^^^[ Baiklah, kalau begitu. Sampai ketemu lain waktu dan—selamat makan siang! ]^^^
“Ya, kau juga. Sampai ketemu lain waktu.”
Panggilan telepon berakhir. Perut Leonna kini telah mengeong, mengaum, menggonggong, menjerit dan me-me lainnya yang bisa dicek di kamus tata bahasa. Ia tidak ada waktu untuk mengisi perut dan Reid juga sudah sejak tadi sudah menunggu. Jadi, tidak apa-apa. Ia masih bisa menunda hingga istirahat ke dua tiba.
...🐣🐣🐣...
Keadaan atap SMA Stuyvesant ternyata tidak jauh berbeda dengan yang ada di drama-drama romansa Korea kesukaan Leonna. Pintu bermaterial besi kemudian ia tutup rapat kembali. Pandangannya lalu terkunci sebentar ke arah punggung Reid.
“Reid! Reid?”
“...”
Teriakan Leonna telah cukup kencang. Tapi, Reid tidak sedikit pun bereaksi. Cowok itu masih tetap fokus memandangi entah apa. “Pantas saja ia tidak menjawab, ternyata sedang pakai headset.”
Benda bulat putih bernama headset tampak tengah menyumpali lubang telinga Reid. Wajar saja ketika tadi Leonna membuka pintu besi, Reid tidak sama sekali menyadari. Padahal decitannya bisa dibilang sangat berisik. Leonna saja sekarang masih ngilu hanya dengan mengingatnya.
“Ehm, apa perlu aku bermain-main sedikit?”
Apa Reid akan tetap datar? Hanya membulatkan mata? Atau malah berbanding terbalik tiga ratus enam puluh derajat dengan imajinasi Leonna? Menjengit kaget sambil melontarkan sumpah serapah? Nah, yang ketiga itu tidak perlu diragukan lagi adalah respons Leonna sendiri.
“Owh!”
“Apa kau tidak apa-apa?”
Jika saja Leonna lebih memperhatikan langkahnya. Rencana yang sudah bertumpuk-tumpuk di kepalanya itu mungkin akan sukses besar. Ia pasti juga tidak akan bertindak memalukan seperti ini.
Sumpah! Kalau saja Leonna bisa memutar balikkan waktu. Atau, tidak! Kalau saja kabel menyebalkan itu tidak pernah berada di sana. Tapi, apa boleh buat. Nasi telah berubah menjadi bubur. Ia sekarang hanya dapat menahan malu. Tidak tahu pula pikiran macam apa yang kini sedang berseliweran di otak Reid.
“—Ya. Ya, aku baik-baik saja. Tidak ada yang terluka.”
“Oke,”
__ADS_1
Reid bergerak melepaskan headset. Ia sebetulnya kaget dengan kedatangan Leonna yang tiba-tiba. Jujur. Ia tadi hanya ingin menghindar dari Noah Thatcher. Tidak tahu juga bagaimana bisa dari sepuluh kontak nomor teleponnya malah Leonna yang ia kirimi pesan. Ia pasti sudah terlalu frustrasi.
“Ngomong-ngomong, kau sudah makan siang kan?”
“Aku? Ya, aku—sudah.”
Jari-jemari lentik Leonna beralih menggaruk tengkuknya keki. Sekali-kali ia tidak apa-apa berbohong. Walau lambungnya kini sudah memutar musik metal, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia sudah terlanjur memutuskan untuk menemui Reid. Ya, semoga saja ia tetap sehat hingga istirahat ke dua nanti.
“Baiklah. Tapi, kalau sekiranya kau masih lapar. Ini.”
Sebungkus roti disodorkan oleh Reid. Cowok itu tiba-tiba saja ingat dengan air muka Leonna pagi tadi. Malah sekarang, gadis itu tampak tambah parah menurutnya.
Warna kulit Leonna sudah terlampau putih dan kini cewek pendek itu kelihatan amat pucat. Mungkin. Jika Leonna berdiri di depan etalase butik dan tidak melakukan apa pun, ia pasti akan langsung dikira sebagai manekin.
“Tidak perlu. Aku masih kenyang.”
Lagi-lagi Leonna mengelak. Reid menghela nafas panjang. Ia tidak tahu apa itu karena makanan yang ia berikan hanya sebungkus roti murah?
Kalau dirinya tentu tidak akan banyak komplain meskipun bertahun-tahun setiap jam istirahat hanya memakan yang seperti ini. Tetapi, jika itu seseorang yang bisa tinggal di apartemen super mewah. Tentu, akan lain lagi ceritanya.
“Baiklah, kalau kau tidak mau. Aku hanya, maksudku, kau kelihatan pucat. Apa kau sedang tidak enak badan?”
“Tidak. Aku baik-baik saja. Sungguh!”
Perut dan pikiran memang tidak bisa seratus persen mau diajak kerja sama. Namun, Leonna terlalu mahir untuk menahan rasa lapar. Ia juga bukannya tidak suka roti rasa cokelat. Atau ehm, roti bungkusan kafetaria seperti yang Reid tawarkan. Ia kini hanya terlalu senang.
Seorang Reid mengkhawatirkannya? Reid Cutler menyodorkan roti karena ia tampak pucat? Lebih lagi, cowok ganteng itu menanyakan apa dirinya tengah tidak enak badan? Apa dewi keberuntungan merasa kasihan padanya sekarang?
Jikalau Reid akan selalu bersikap seperti ini hanya karena melihat wajahnya yang pucat. Ia tentu rela untuk tidak pernah sarapan tiap sebelum berangkat ke sekolah.
Tentu. Itu semua hanya imajinasi berlebihan Leonna. Sebab, ucapan Reid selanjutnya yang ada malah membuat gadis mungil itu kesal setengah mati.
“...aku hanya tidak ingin rekan kerja kelompokku sakit dan berakhir jadi aku yang mengerjakan semuanya sendiri. Jadi, lebih baik kau jangan sampai sakit. Akan sangat merugikan untukku...”
.
__ADS_1
.
Bersambung...