HTTP 404

HTTP 404
Bab #43


__ADS_3

Pemuda yang sepertinya baru sekarang mengalami pubertas itu, iseng-iseng melirik antusias gadis mungil di sebelahnya. Pipi Leonna yang digembungkan mirip bakpao dan nuansa merah tomat yang menghiasi hingga daun telinga serta tengkuknya. Tidak bohong. Sanggup menjadikan degup jantung Reid sepuluh kali lipat lebih menggila dari kondisi normalnya.


...[ Maafkan aku karena akan merepotkanmu mulai sekarang (。>ㅅ<。)💦gomenasai..! Really! ]...


Aktivitas Reid memperhatikan Leonna terpecah, begitu gadis bersurai pirang itu tiba-tiba saja menyodorkan buku tulisnya. Sebuah tulisan tangan agak berantakan dan emoji di tengah-tengahnya, hampir saja membuat ia mimisan tanpa sebab. Ia tidak tahu kalau ada makhluk amat menggemaskan macam Leonna.


...[ Tidak masalah. Nasi sudah menjadi bubur. ]...


Leonna menunduk malu. Ia tidak percaya Reid akan membalas coretan asal-asalannya itu. Meski, sejujurnya. Ia betul-betul tidak enak hati, karena sekali lagi membuat jadwal cowok menawan di sebelahnya ini berantakan.


Sebab bukan apa. Setelah pertandingan basket kemarin saja, ia masih belum mengerti seratus persen apa yang sebetulnya dikesalkan Reid. Ia juga takut. Bagaimana jika kemarahan Reid hari itu terulang lagi? Apa ia minta tukar tutor saja? Tidak apa mungkin, jikalau ia belajar di bawah pengawasan Bu Chatty. Atau—tidak?


“Di belakang?! Harap berhenti melamun dan fokus ke papan tulis!”


Tidak jelas teguran itu ditujukan kepada siapa. Namun, Reid yakin sekali. Hanya dengan melihat arah pandang Bu Chatty, objek peringatan guru gendut itu kemungkinan besar adalah Leonna, dirinya sendiri, atau malah mereka berdua.


“Apa tempat duduk kalian terlalu jauh hingga tidak bisa mendengar kata-kata saya? Pasangan baru tuan tutor dan nona peserta didik? Reid? Leonna? Kalian tidak bisa mendengar saya?”


Deretan kalimat menampar kepercayaan diri dan menohok hati Bu Chatty, sepanjang histori pengajar matematika itu mengajar. Konsisten, tidak pernah, tidak menyeramkan di mata peserta didiknya. Tetapi, Leonna sepertinya berhasil menjadi pemecah pertama keahlian ‘rada istimewa’ gurunya itu.


Gadis konglomerat itu pun memang langsung berkonsentrasi. Memandangi super fokus semua tulisan kurang simetris, angka-angka menyebalkan, dan formula mengandung banyak simbol rumit ketika ultimatum ke dua Bu Chatty terdengar. Namun, tidak dengan situasi pikirannya.


“Aku—apa? Pasangan?” Gumam Leonna.


Kata ‘pasangan’ hanyalah satu-satunya ucapan Bu Chatty yang berhasil Leoona cerna dengan kelewat serius. Netranya bahkan sampai berbinar-binar seiring detik menit jarum jam dinding ruangan kelasnya berdetak. Ia jelas sedang agak sawan. Lain lagi dengan Reid yang kelihatan jauh lebih waras. Ia akhirnya setelah terbenam dalam keheningan panjang, menanggapi pula teguran Bu Chatty.

__ADS_1


“Maaf, Bu.” Seru Reid setenang mungkin.


“Benar-benar anak jaman sekarang,” Cibir Bu Chatty, seraya meneliti satu per satu aktivitas muda-mudi lain di hadapannya. Tetapi, tidak ada lima detik. Kedua alis buatannya itu spontan mengerut tajam.


“Jangan sampai ada yang tidak berkonsentrasi lagi. Lima menit baru saja terbuang dengan sia-sia hanya gara-gara kalian melamun. Awas saja kalau terjadi lagi. Lebih baik, kalian berdiri di depan sini daripada duduk bersandar dan tertidur. Benar, bukan? Tuan Bertindik dan Rambut Jambul Merah di tengah sana?!”


Kesabaran Bu Chatty agaknya benar-benar sudah habis.


Penggaris kayu panjang yang sejak tadi hanya berbaring membosankan di atas meja guru pun, kini sudah berpindah di genggamannya. Pemuda kantukan, bertindik melimpah dengan surai merah kebakaran itu sepertinya sungguh amat sial pagi ini. Ia tidak butuh banyak cek-cok. Sekarang telah resmi menjadi orang pertama yang merasakan pahit, pedas, asamnya tepukan penggaris kayu Bu Chatty.


Tetapi, seluruh pelajar di dalam kelas bukannya merasa simpati, malah tertawa dengan frekuensi suara terendah menyaksikan aksi membangunkan ekstrem itu.


Leonna dan Reid juga sama-sama saling tersenyum geli. Namun, keceriaan tanpa kecanggungan keduanya tidak berlangsung lama. Cowok bermarga Cutler itu tidak tahu dorongan makhluk astral mana. Ia tiba-tiba saja berbisik sangat dekat di telinga Leonna.


“Jangan melamun lagi. Atau kita berdua akan berakhir sama dengannya.”


Wajah Leonna memerah malu. la memang pernah satu dua kali lupa dan tidak sengaja menghapus notifikasi kalender menstruasinya. Namun, penyesalan jelas selalu datang belakangan. la jujur agak merasa sakit perut dan pegal punggung ketika pelajaran ke dua. la juga berpikir kalau rasa tidak mengenakkan itu akan hilang dengan sendirinya, jika ia biarkan begitu saja. Dan syukur, memang sesuai dengan spekulasinya.


Hanya saja, Reid sekarang...


“Datang bulan atau lebih ilmiahnya disebut sebagai siklus menstruasi. Di mana kadar hormon estrogen dan progesteron turun secara drastis. Sehingga penurunan hormon progesteron ini menyebabkan peluruhan endometrium serta ovum yang tidak dibuahi. Juga, kontraksi pada rahim saat peluruhan endometrium akan mengakibatkan rasa nyeri pada perut dan punggung.”


Reid menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia kemudian melirik sedikit Leonna dari ekor matanya. Mereka bahkan belum ada sepuluh menit berada di atap sekolah. Memang sih, saat gadis mungil itu baru tiba, air mukanya kelihatan begitu tidak segar. Bongkahan bibir yang, ehm, biasanya semerah buah stroberi masak pun, malah tampak begitu pucat.


“Jadi, kau ini sedang dalam fase—” Reid menenggak air ludahnya kasar. Ia tidak berani menatap langsung iris mata Leonna. “—menstruasi?”

__ADS_1


Insan yang bertanya, pula yang ditanya sontak memerah malu. Sepertinya benar sekali apa kata Reid ketika di gedung olahraga hari itu. Tiap kali ia dan Reid bersama, ada saja sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Seolah-olah, ia ini senang sekali berbagi kesialan dengan Reid.


“Maafkan aku.” Cicit Leonna.


Reid menghela nafas pasrah. Ia bukannya tidak tahu apa yang harus dilakukan, atau mungkin lebih tepatnya, diperlukan ketika seorang perempuan mengalami datang bulan. Namun, coba pikirkan baik-baik. Apakah dirinya, personalitas, gambaran, karakternya di mata para pengajar serta pelajar lain akan tidak terpengaruh, jika membeli sebuah pembalut (wanita) ketika jam sekolah begini?


“Baiklah. Tunggu di sini. Aku akan mencoba datang ke UKS. Tapi, jika memang tersedia. Aku akan membeli di swalayan terdekat. Jadi, jangan ke mana-mana. Sesegera mungkin aku akan kembali.”


Leonna lega? Tidak perlu diragukan.


Tetapi, rasa malu karena saat bermenit-menit lalu ia mendadak sakit perut, tentu lebih mendominasi. Belum lagi adegan ia mendadak terhuyung ke belakang dan hampir saja menubruk tembok pembatas atap ketika tiba-tiba saja rasa nyeri menginvasi area punggung serta pinggangnya.


Sungguh, ia malu bukan main.


Namun, dari semua ketidakberdayaannya berkat siklus datang bulan ini. Reid yang kelewat panik dan buru-buru menolong, bahkan sampai berselancar ulet di mesin pencarian utama Mbah Giggle. Serius, masih amat menggelikan di benaknya.


Pemuda tanpa aksesoris dan pernak-pernik mahal, kecuali jam tangan abu-abu model pasaran itu, membaca dengan amat detail setiap informasi yang ia temukan terkait sakit perut. Baik berupa sembelit, radang usus buntu, diare, batu ginjal, penyakit Crohn, intoleransi makanan, hingga infeksi saluran kemih, dan sakit perut kehamilan. Semua publikasi internet itu dengan kilat ia serap.


Tetapi, jika saja Leonna tadi sempat merekam gerak-gerik khawatir Reid. Pasti sangat memorial sekali, kan? Apalagi kalau suatu hari nanti ia dan Reid bisa bersama, sebagai teman baik maksudnya.


“Ini. Pakai jaketku dulu. Anginnya terlalu kencang.”


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2