
Kedua mata biru Leonna membelalak ngeri. Tenggorokannya ikut sakit setelah berteriak beberapa detik lalu, sebab siapa yang dapat menyangka, hanya dalam satu tarikan dan dirinya kini sudah berada di atas tembok, di sebelah Reid dengan jemari dingin yang terselip di antara lapisan epidermis kasar telapak tangan mayor Reid.
“Lompat. Cepat lompat! Apa yang kau lakukan, hei! Apa kau tuli?!”
Detak memekakkan, sensasi panas dan kejutan listrik pada aliran darah juga syaraf-syaraf Leonna saking ributnya hingga menjadikan fokusnya buntu dan baru sadar setelah kata tuli keluar dari mulut setajam silet Reid.
“E-eh? Aku? Lompat? Tidak mungkin aku...”
Leonna menggeleng-geleng enggan dengan kedua lengan memeluk erat-erat kaki mulus tidak berbulunya sembari menenggelamkan grogi setengah wajahnya di balik tempurung lutut yang agak lengket keringat akibat terik matahari yang semakin panas mengudara di angkasa bersih tanpa kabut gelap dan hanya sedikit dihiasi gumpalan awan putih tipis di sana-sini.
“Cepat! Aku akan menangkapmu!”
__ADS_1
Reid memosisikan lengannya, bersiap untuk menangkap Leonna. Kedua mata hitam Reid memandang mantap tepat pada iris-iris biru gugup Leonna dan setelah beberapa kali menarik menghembuskan nafas, Leonna dengan keberanian sekecil ikan teri pun melompat dan yup! Leonna dengan mulus, berhasil mendarat ke dalam tangkapan Reid yang tidak bisa disanggah, begitu romantis ala-ala gendongan pengantin baru.
“T-terima kasih.”
Keheningan yang sebenarnya sempat menyelubungi kewarasan dua insan muda itu lekas runtuh, sesaat setelah Leonna bergumam teramat pelan dan agak lucu, karena daun telinga sampai ke tengkuk keduanya seketika memerah. Bahkan Reid tanpa sadar pun sontak menurunkan dengan tergesa-gesa dan lumayan kasar tubuh Leonna.
Beruntung Leonna memang sama kekinya, jadi dia juga tidak banyak komentar seperti sebelum-sebelumnya dan malah masih sanggup mengucapkan sepotong rasa terima kasihnya. Meski ketika Leonna mendengak untuk melirik wajah menawan Reid, ia serta merta harus tersenyum hambar, mendapati punggung Reid yang telah lama menjauh dari pandangan.
Tetapi berhubung Leonna tidak tahu harus bagaimana, walau ia kini sudah sukses menapaki area belakang bangunan sekolah SMA Stuyvesant, mau tidak mau Leonna pun berlari-lari kecil mengejar langkah panjang-panjang Reid. Sekitar lima tujuh menit dan Leonna telah berada kurang dari dua meter di belakang Reid. Nafasnya agak tersengal-sengal dan setelah melewati sekian banyak belokan juga lorong-lorong besar kecil, kedua mata Leonna membulat ganjil.
“Oh, Reid!”
__ADS_1
Seorang wanita pada fase usia kepala empat dengan tahi lalat atau bisa dikatakan lebih mirip dengan kutil pada sisi kiri dekat garis hidung bangirnya berseru menyebut nama Reid. Aktivitas jari-jemari berlemak miliknya mengelap permukaan meja kasir pun ikut terhenti dan langsung berkacak pinggang sembari menatap garang ke arah figur tinggi menjulang yang sekejap sudah berdiri empat setengah ubin di hadapannya.
“Pagi, Bu Wira.”
“Kamu ini Reid, kebiasaan telat terus. Pasti belum sarapan lagi kan? Ya sudah masuk dulu, tapi ehm! Tumben kamu bawa pacar! Plus, selera kamu memang benar-benar Reid... Dari mana pula kamu dapat gadis cantik begini? Hm? Siapa namanya, katakan pada ibu.”
Bu Wira, madam penjaga kafetaria sekolah tersenyum mesem-mesem. Kedua netra tuanya bahkan sampai hanya menyisakan segaris melengkung panjang dihiasi kerut-kerut tanda penuaan di sekitar sudut-sudut matanya. Leonna balas melontarkan senyum kikuk, lain sekali dengan Reid yang memutar bola matanya malas.
“Ayo, katakan pada ibu. Siapa nama gadis jelita ini, hm?”
“Leonna.”
__ADS_1
“Bukan.”
Tanda tanya tercetak serentak pada wajah Bu Wira dan juga Leonna. Reid sebagai subjek kebingungan mereka kemudian menghembuskan nafas jengah dan tanpa sopan santun melangkah santai dengan jari-jemari diselipkan sok keren di saku celana melewati Bu Wira. “Bukan?”