HTTP 404

HTTP 404
Bab #93


__ADS_3

Bau alkohol menyeruak di setiap sudut ruangan. Alunan musik berdentum-dentum dari DJ Elias Joo, seperti biasa, selalu ramai dan menggairahkan. Tarian dari para manusia di tengah-tengah ruangan juga ikut menekan atmosfer bar ChainZ menjadi kian panas.


“Hai, Tampan! Apa kau sudah memiliki pacar?”


Reid memandang datar seorang wanita dengan setelan kelewat seksi di depannya. Ini adalah kali ke tiga belas ia digoda oleh seorang konsumen.


Masih baik sebetulnya. Karena kali ini pelakunya adalah seorang perempuan. Jangan tanya mengapa? Sebab Reid benar-benar sudah muak dirayu lebih dari empat makhluk sesama jenis dengannya.


Apalagi pada lima belas menit yang lalu. Seorang pria tua berperut buncit dan tampang yang tidak ada bagus-bagusnya. Menggoda Reid dengan gaya super sensual.


Syukur, bar ini dilengkapi dengan sistem keamanan yang cukup bisa diandalkan. Jadi, selain para pemuas nafsu bayaran yang telah disediakan bar, pegawai biasa sepertinya akan dijauhkan dari segala tindak tanduk kejahatan seksual.


“Tuan Barista? Apa kau tidak mendengarku?”

__ADS_1


Wanita dewasa dengan pakaian terlampau kurang bahan. Berupa celana hitam teramat ketat dan atasan transparan yang menjorok jatuh hingga menampilkan lancang kedua buah dada. Berpotongan rambut panjang. Bersurai cokelat kemerahan yang tergerai bebas tanpa pernak-pernik merepotkan dan bentuk bibir sangat berisi yang dipoles gincu tebal berwarna merah gelap itu lagi-lagi berseru gatal.


Tampilan keseluruhan wanita di depan meja bar—lokasi spesifik tempat kerja Reid ini, padahal telah lebih dari cukup untuk menarik perhatian setiap mata yang melihat. Namun, memang jika dasarnya sudah genit. Mau didiamkan, diceramahi atau diperlakukan seperti apa pun tetaplah genit.


Bahkan, di sudut terjauh bangunan bar lantai satu. Di mana pencahayaan sengaja dibuat remang-remang. Empat pria sedari kedatangan wanita bertubuh montok ini tengah duduk dengan tatapan lapar. Bagai sekelompok hyena yang sedang menunggu kedatangan seekor antilope.


Tapi, kontras dengan Reid. Ia sebagai subjek rayuan sama sekali tidak tertarik. Ia sejak tadi malah hanya membisu. Tidak satu milimeter pun melirik dan hanya fokus melakukan tugasnya meracik berbagai macam minuman beralkohol.


Konsumen wanita itu tiba-tiba mengeluarkan secarik kertas dari dalam tas kulit merah cabainya. Reid masih tetap tidak peduli dan malah hendak beranjak ke rak belakang untuk mengambil beberapa botol minuman keras.


Pasangan yang memesan Martini dan Sunset Rum dua blok dari tempat duduk cewek centil ini teramat lebih penting dari sekadar obrolan tanpa pesanan. Apa fungsinya ia jadi bartender kalau tidak ada yang memesan racikan dari minuman di rak-rak besar di belakangnya?


Namun, baru saja remaja yang magang sebagai bartender di bar hasil rekomendasi dari salah seorang konsumennya di restoran Jepang itu berbalik. Jari-jemari berpoles cat kuku entah hitam atau ungu itu tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.

__ADS_1


Reid menoleh tanpa ekspresi. Ia sebetulnya kesal. Tapi, mau bagaimana lagi. Di depannya ini adalah seorang pelanggan dan bukan Leonna. ‘Kenapa harus nama gadis Rusia itu yang muncul?! Reid Cutler, otakmu sepertinya perlu dibawa ke spesialis saraf.’


“—ini. Kartu bisnisku.”


Wanita genit itu menyodorkan tidak sabar secarik kertas bernuansa hitam di depan Reid. Alis bartender menawan itu mengernyit tidak suka. Jika keadaannya seperti ini. Kertas yang ternyata bukan sembarang kertas. Melainkan sebuah kartu nama itu pasti selalu ada maksud terselubung. Pengalaman Reid sudah terlalu membludak untuk hal-hal berbagi kartu nama.


.


.


.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2