
Tidak tahu mengapa, tetapi insting Leonna mengatakan untuk tidak merespons pertanyaan itu. la terkejut memang, dengan kedatangan dua pemuda yang Pretha dan Dave kemarin-kemarin menjelaskan, kalau mereka yang memperkenalkan diri waktu itu sebagai Axle Bru dan Irvine Wu ini adalah anggota dari TTS.
“Apa Leonna Mileková ada?” Axle tersenyum tampan ke arah siswi yang baru saja akan keluar dari ruang kelas.
“Leonna? Apa gadis program pertukaran pelajar dari Rusia itu sudah pergi lebih dulu ke kafetaria?” Tanya Irvine dengan nada terlampau ramah kepada seorang siswi yang duduk di bangku paling dekat dengan pintu masuk.
“Ya. Itu—” Siswi yang berada di depan Axle tiba-tiba buka suara. Jari telunjuk kanannya ia arahkan ke barisan paling belakang, dekat dengan deretan jendela ruang kelas. “—di sana, Leonna.”
“Di sana rupanya.” Irvine tertawa girang.
la sebetulnya ingin sekali makan siang lagi dengan Leonna. Namun, berkat jadwalnya yang padat berlatih untuk pertandingan persahabatan akhir bulan depan. Ia jadi jarang punya waktu, bahkan untuk sekadar berleha-leha ngemil di kafetaria.
“Leonna! Kenapa kau tidak menjawab ketika aku memanggilmu tadi? Apa jarak tembak suaraku dengan tempat dudukmu ini terlalu jauh? Jika iya, di pelajaran guru-guru senior ke depannya, kau wajib sekali untuk duduk di barisan depan.”
Peluh dingin mengucur sesukanya dari pelipis Leonna, ia lantas tersenyum kikuk menanggapi celotehan Irvine.
“Maafkan aku. Tadi aku sedang mengobrol dan bel baru saja berbunyi. Jadi, aku sepertinya kurang fokus dan berakhir tidak mendengarkan panggilanmu.” Tukas Leonna dengan hati-hati.
Axle yang masih berdiri di depan kelas pun akhirnya masuk dan buru-buru menghampiri Leonna. la kemudian menarik lengan gadis itu dengan agak posesif. “Kamu sepertinya jauh lebih kurus dari kemarin. Apa kamu sedang sakit? Mau aku dan Irvine mengantarkanmu ke UKS?”
“Tidak. Tidak perlu. Aku hanya sedang sedikit tidak enak badan. Tapi, sungguh. Aku tidak perlu sampai harus dibawa ke UKS dan berakhir membolos lagi.”
Wajah, tengkuk, hingga daun telinga Leonna mendadak berubah semerah tomat cherry. la merasa ada yang salah dengan ucapannya barusan. Entah apa, ia juga tidak tahu. Tetapi yang jelas, aura di sekitar Axle Bru tiba-tiba saja terasa begitu gelap dan sedikit membuat bulu kuduknya meremang ngeri.
“Kamu membolos?” Celetuk Axle. Melepas cengkeramannya pada lengan kurus Leonna.
“Tidak, ya, aku, maksudku, aku—” Leonna berkata dengan super terbata-bata.
Ia yang sadar gerak gerik dan percakapan mereka bertiga sekarang ini malah menimbulkan banyak tanya di mata pelajar lain, spontan berhenti bicara. Ia kemudian setelah berhasil menenangkan ramai detak jantungnya, lantas tersenyum kalem dan lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada ringan.
__ADS_1
“—aku tidak membolos. Hanya ijin sebentar di mata pelajaran pertama.”
“Kau ijin? Bukankah itu artinya kau betul-betul sakit?” Irvine lagi-lagi bertanya, sembari ia dengan seenaknya menempelkan punggung tangannya ke pipi dan dahi Leonna.
Leonna yang terkejut dengan perlakuan Irvine, refleks langsung memundurkan tubuhnya. Oh Min-Ju pun yang tidak perlu dipertanyakan sama kagetnya dengan Leonna, sontak menutup mulutnya yang setengah menganga.
la lalu mengedarkan tatapan panik ke segala arah. Dan benar saja, suasana ruang kelas sementara mereka ini, mendadak telah berganti dipenuhi lima, tujuh, sembilan belas manekin bermacam gaya. Ia kemudian berceletuk tanpa sadar, “Sial. Kau sepertinya dalam masalah besar Leonna.”
“Ya?” Irvine melontarkan tatapan polos.
“Tidak, maksudku, itu—” Oh Min-Ju melirik Leonna sekilas. Ia lalu tidak jelas keberanian dari mana, spontan memeluk lengan kiri Leonna dengan sok akrab.
“—aku dan Leonna sudah berjanji akan makan di kafetaria bersama. Jika kalian tidak ada urusan lagi, boleh aku bawa Leonna sekarang? Sakit lambungnya akan kambuh lagi, kalau sampai ia telat makan.”
Irvine hanya melongok tak bisa berkata-kata. Kontras sekali dengan Axle yang mengerutkan dahinya tidak suka. Ia kemudian berkata setenang mungkin, “Ya. Kami juga datang kemari untuk menjemput Leonna makan siang bersama di kafetaria. Jadi, jika kau tidak keberatan, mau ikut makan dengan kami?”
“Ya. Apa?”
“Kau setuju?” Irvine yang terkejut dengan gumaman super pelan Leonna, sontak kembali buka suara. Netranya kian berbinar cerah menunggu jawaban Leonna.
“Ya. Kafetaria, kan?” Tanya balik Leonna.
“Baiklah. Kalau begitu mari kita segera meluncur ke sana, Nona Mileková!”
Lingkaran gerah pada lengan Leonna secepat kilat telah berganti subjek. Irvine yang terlampau semangat, lantas mencubit pipi Leonna dan kemudian menyeretnya dengan amat tidak sabar. Mereka berdua pun tidak ada tiga detik, sudah menghilang dari balik pintu.
Sementara Oh Min-Ju yang masih memproses semua kejadian yang baru saja ia saksikan, kemudian menghela nafas panjang. Leonna sepertinya benar-benar akan sembilan puluh sembilan persen dalam masalah besar.
Lihat saja bagaimana semua pelajar yang juga menjadi saksi mata antara interaksi Leonna dan Irvine barusan. Seluruhnya, tanpa pengecualian, hanya dapat terdiam kaku. Sepasang mata dengan iris beragam mereka pun, sedari tadi hanya bisa menatap kosong.
__ADS_1
“Mengerikan.” Gumam Oh Min-Ju.
Tetapi, ngomong-ngomong soal Irvine dan Leonna, sepertinya ada yang kurang. Tapi, apa ya? Oh Min-Ju kemudian melirik ke sebelahnya. Bayangan besar yang tidak sengaja ia tangkap, ternyata oh ternyata, adalah milik seorang Axle Bru!
“Kau tidak menyusul?”
“$@$^#_@×÷•`€¢{¢[∆\℅~”
Kedua alis Oh Min-Ju berkerut bingung. Pertanyaannya barusan tidak dijawab dengan jelas oleh Axle. Ia yang penasaran pun, diam-diam mencuri pandang ke arah sang ketua OSIS Stuyvesant itu.
Namun, bukannya memperoleh jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ dan atau minimal sebuah anggukan atau gelengan. Rasa ingin tahunya yang ada malah semakin besar, ketika sadar kalau bibir Axle, meski hanya dapat samar-samar ia lihat, tengah terus berkomat-kamit tidak jelas.
“Kau benar-benar tidak akan menyusul mereka, Axle?”
Oh Min-Ju bertanya seraya dengan amat waspada mendekatkan cupingnya ke arah Axle. Dahinya pun serta merta berlipat kusut. Ia jelas tidak salah mendengar, suara-suara tanpa spasi dan agak menyeramkan dari bibir Axle.
“Tangan itu harus dipotong. Bola mata jelek itu perlu dilepaskan dari rongganya. Bibir yang tidak tahu sopan santun tidak layak untuk bertengger di sana. Senyum——”
‘Apa? Apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Apa ini Axle, si Ketua OSIS? Aku tidak salah lihat, kan?’ Batin Oh Min-Ju grogi.
Wajah Oh Min-Ju kian pucat pasi. Ia sekarang mengerti, mengapa menguping itu amat sangat tidak diperbolehkan. Dan jika saja ia punya kekuatan untuk menghapus memori, akan berkali lipat lebih baik, kalau saja ia tidak memiliki rekaman ucapan Axle tadi di otaknya.
Tetapi, tentu. Tidak pernah ‘mencoba’ mencuri dengar kata-kata yang keluar dari mulut Axle, pastilah merupakan pilihan terbaik. Benar, kan?
“Eh, kau jadi menyusul mereka?”
Oh Min-Ju memandang kosong kepergian cowok pemilik suara yang menurut rumor, amat dielu-elukan para gadis Stuyvesant itu. Ia kemudian mengusak belakang kepalanya dengan gusar. “Aku jadi tidak lapar kan, kalau begini.”
.
__ADS_1
.
Bersambung...