HTTP 404

HTTP 404
Bab #66


__ADS_3

Apa mungkin akan masuk akal kalau makhluk bernama Reid ini ternyata memiliki sebuah kekuatan super? Semacam jaring laba-laba Peter Parker dalam film fiktif dari Marvel, Spider-Man? Atau lebih realistis, para traceur dan traceuse—praktisi parkur generasi pertama? Yah intinya, Leonna benar-benar tidak habis pikir dengan metode Reid bisa sampai di atas dinding sana.


“Apa yang sedang kau lakukan?! Apa kau sudah bosan hidup?!”


Leonna berteriak cemas. Horor sekali dalam bayangannya kalau harus sampai-sampai menjadi satu-satunya saksi mata dari tragedi mati konyol seorang siswa kelas dua belas yang harus meregang nyawa gara-gara terjatuh dari atap tembok dan semakin memalukan, karena di latar belakangi kelalaiannya sendiri yang datang terlambat ke sekolah dan tetap memaksa ingin masuk, meski dengan cara tidak lazim pun tidak dianjurkan demi keselamatan jiwa serta terutama, bagi reputasi emas institusi pendidikan mereka.


“Terserah kau mau ikut atau tidak, tidak ada ruginya juga kalau kau tidak ikut.”


“W-woah! Kau menyuruhku untuk ikut memanjat tembok ini?! Apa kau pikir aku ini juga siluman cecak sepertimu?”


Reid menguap lebar. Jelas tidak sama sekali tertarik, bahkan untuk sibuk-sibuk sekedar memberi secuil ulasan terhadap analisis tanpa bukti Leonna yang menyebutnya sebagai siluman cecak. Namun agak aneh di mata Reid, jika dia tidak salah lihat, Leonna dengan wajah super padam hingga kedua daun telinganya kini malah memalingkan pandangan ke arah ujung-ujung alas kakinya.

__ADS_1


Entah, pikiran macam apa yang tengah berseliweran di balik tumpukan helai-helai rambut keemasan Leonna dan sangat gila, sebab Reid masih sempat berpikir kalau perilaku Leonna itu menggemaskan.


Reid tiba-tiba menghela nafas panjang. Rasionalitasnya seperti habis tersambar petir dan kian abnormal ketika ia sadar rasa kantuknya mendadak lenyap tak bersisa. “Kemari dan julurkan tanganmu.”


“Apa?”


Leonna melongok bingung ke arah uluran jari-jemari panjang Reid dan bisa diprediksi, bahkan dua menit sudah, Reid menekuk se-ekstrem mungkin agar Leonna tidak perlu susah payah meloncat-meloncat untuk menggapai jemarinya. Tapi, Leonna hanya terus diam. Membeku layaknya manekin di belakang deretan kaca jernih toko-toko busana.


“Baik, tapi... WAHHH! J-jantungku.”


Kedua mata biru Leonna membelalak ngeri. Tenggorokannya ikut sakit setelah berteriak beberapa detik lalu, sebab siapa yang dapat menyangka, hanya dalam satu tarikan dan dirinya kini sudah berada di atas tembok, di sebelah Reid dengan jemari dingin yang terselip di antara lapisan epidermis kasar telapak tangan mayor Reid.

__ADS_1


“E-eh? Aku? Lompat? Tidak mungkin aku...”


Leonna menggeleng-geleng enggan dengan kedua lengan memeluk erat-erat kaki mulus tidak berbulunya sembari menenggelamkan grogi setengah wajahnya di balik tempurung lutut yang agak lengket keringat akibat terik matahari yang semakin panas mengudara di angkasa bersih tanpa kabut gelap dan hanya sedikit dihiasi gumpalan awan putih tipis di sana-sini.


“Cepat! Aku akan menangkapmu!”


Reid memosisikan lengannya, bersiap untuk menangkap Leonna. Kedua mata hitam Reid memandang mantap tepat pada iris-iris biru gugup Leonna dan setelah beberapa kali menarik menghembuskan nafas, Leonna dengan keberanian sekecil ikan teri pun melompat dan yup! Leonna dengan mulus, berhasil mendarat ke dalam tangkapan Reid yang tidak bisa disanggah, begitu romantis ala-ala gendongan pengantin baru.


.


.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2