
Pipi Leonna serta merta bersemu. Leo bisa-bisanya memanggil dirinya sebagai Nyonya Cutler. Kenal latar belakang keluarga masing-masing saja ia dan Reid belum. Jadi sekarang, ia harus bagaimana? Gara-gara argumen panjang kali lebar dan luas kali kelilingnya dengan Reid beberapa detik lalu, tekanan udara di sekeliling mereka mendadak jadi berat.
“Jadi—itu. Kak Leo mengirim beberapa contoh naskah skit. Jika kau tidak keberatan, kita bisa melihat-lihat sebagai referensi atau memilih salah satunya saja.”
Ponsel pintar Leonna masukkan kembali ke dalam saku hoodie kebesaran yang ia kenakan. Lagi pula, sepertinya tidak ada pilihan lain. Dan akan lebih baik juga, jika ia langsung berterus terang dengan Reid kalau dipikir-pikir. Siapa tahu Reid tidak menolak. Kalaupun memang ditolak, ia pun tidak akan rugi sama sekali.
“Baiklah.”
“Ya?”
Reid menghela nafas pelan. Ia jelas tidak mau mengulang jawaban. Namun, melihat mata Leonna yang entah kenapa malah tampak amat berbinar-binar, ia malah mendadak tidak enak hati. Padahal sudah jelas-jelas ia pasrah menerima.
Jadi, bagaimana nantinya kalau tadi ia lebih memilih untuk menolak? Apa Leonna akan kesal? Sedih? Atau malah hanya masa bodoh karena itu bukan hasil kerja kerasnya sendiri? Reid tidak ingin membayangkan. Ia rasanya hanya ingin buru-buru saja tugas mereka selesai.
“Kirimkan berkasnya padaku. Aku akan mengeceknya nanti.”
Kedua kelopak mata Leonna berkedip beberapa kali. Ia tidak salah dengar ternyata. Reid tidak setitik pun mempertanyakan saran yang tadi ia cetuskan. Tidak pula ia memperumit dan memulai perang mulut yang Leonna sendiri kira bakal berakhir rusuh seperti diskusi-diskusi mereka sebelumnya.
“Oke. Kalau begitu, tunggu sebentar. Akan aku kirimkan sekarang.”
Ponsel dengan gantungan kelinci itu kini sudah berada di genggaman Leonna lagi. Ia membuka cepat pesan dari Leo tadi dan meneruskan berkas pdf ke kontak Reid Cutler Spanyol.
“Baik, sudah.”
KRINGGG!!!
Bel tanda berakhir istirahat pertama menggema berisik hingga ke atap sekolah. Reid melirik layar ponselnya sebentar. Pesan berisi berkas naskah skit yang tadi Leonna kirim sudah sampai tanpa cacat di ponselnya. Ia kemudian melirik gadis pendek itu sekilas.
“Ya sudah. Aku duluan.”
__ADS_1
“Eh?”
Leonna hanya bisa melongo bingung ketika Reid tiba-tiba sudah beranjak meninggalkan dirinya sendirian. Cowok dengan ciri khas pakaian serba hitam itu bahkan tidak sekadar mengucap terima kasih kepadanya.
Memang. Tidak layak juga untuknya mendapat ucapan terima kasih dari Reid. Tetapi, setidaknya. Reid bisa sedikit berbasa-basi dengan mengatakan ‘sudah bel’ dan atau ‘ayo, kita kembali ke kelas’.
“Leonna!”
Gadis yang tengah mempoutkan bibirnya lucu itu tersentak. Ia ingat tadi masih berada di atap sekolah. Sendu sekaligus kesal—meratapi punggung lebar Reid yang menghilang begitu saja di balik pintu bermaterial besi. Namun, tidak tahu sejak kapan dan bagaimana. Ia kini malah sudah berada di lorong lantai tiga.
Undakan berliku-liku menuju atap sekolah itu bahkan sudah tidak sama sekali terlihat. Yang ada sekarang hanya ruang kelas di kiri kanan yang sudah sesak diisi siswa-siswi.
“Oh, Axle dan—Angus?”
Leonna tersenyum canggung. Ia tidak begitu kaget melihat kedatangan dua cowok tampan di depannya.
“Kamu habis dari mana?”
“Oh, itu. Aku—”
Mata Leonna menatap tidak fokus ujung sepatu kets hitamnya. Ia baru sadar jikalau sepatu yang ia pakai hari ini merupakan alas kaki yang sebetulnya paling ia hindari. Sudah ukurannya agak kekecilan, nuansa warna hitamnya juga terkesan terlalu suram.
“Ini. Untukmu. Kami sebenarnya sedang sangat buru-buru karena setelah ini kelas Bu Chatty. Jadi, sampai jumpa lagi Leonna!”
Leonna bahkan belum menjawab dengan benar pertanyaan Angus. Pemuda ahli waris Perusahaan Lawton itu juga belum puas bercakap-cakap dengan Leonna. Tetapi, Axle Bru telah lebih dulu mengakhiri percakapan mereka. Ia kemudian menarik lengan kawannya dengan wajah amat riang. Sedangkan Angus yang diseret tidak manusiawi hanya pasrah dan lalu melambai lesu ke arah Leonna.
“Ya. Sampai jumpa lagi Leonna.”
Netra Leonna memandang kosong pemberian paksa Axle Bru. Ia antara beruntung atau tidak. Dua buah jenis jajanan yang diberikan cowok yang kadang berekspresi terlalu dingin, kadang juga terlalu ceria itu yang ada malah menjadikan air mukanya kian muram.
__ADS_1
“Roti dan susu? Apa ini dua produk paling populer di Stuyvesant?”
...~Akhir kilas balik.~...
Lamunan Leonna sontak menguap. Teriakan amat nyaring disambut tepukan lumayan kencang pada bahunya, refleks membuat gadis berambut pirang itu menengok ke belakang. Benar saja. Suara familier yang tiba-tiba mampir di telinganya itu ternyata bersumber dari Pretha Isaiah.
“Leonna! Apa yang sedang kau lakukan di sini?”
Tempat duduk di sebelah Leonna seketika sudah terisi. Pretha kali ini hanya sendiri. Tidak ada Dave McGary, si tetangga berkelamin jantan yang biasa menempeli gadis berkulit eksotis di sisi kirinya.
“Aku? Aku sedang menunggu hujan reda. Tapi, sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Jadi, aku akan pulang saja sekarang.”
Leonna baru saja akan beranjak ketika tiba-tiba Pretha menahan lengan kirinya. Ia serta merta melemparkan tatapan tidak mengerti. Gadis berkulit porselen itu semakin bingung saja saat mendapati Pretha yang tidak langsung menjawab dan malah memandangnya berseri-seri.
“Oh, kalau begitu kau lebih baik jangan pulang dulu. Sedang ada pertandingan basket spektakuler di sekolah kita!”
Kawan baru Leonna ini mendadak berujar kelewat semangat. Jika mereka sedang berada di dalam komik, pasti tubuh Pretha sudah diselubungi kobaran api. Tapi, mau sebanyak apa pun semangat dan tanda seru yang gadis itu lontarkan. Leonna hanya bisa bergumam kosong.
“Hm?”
“Baiklah. Ayo, ikut aku!”
Tubuh dan pikiran Leonna perlu sekali untuk rehat. Namun, tarikan dan cengkeraman Pretha pada pergelangan tangannya agaknya terlampau antusias. Ia pun mirip sekali dengan situasi Angus dan Axle setelah bel mata pelajaran ke tiga berbunyi. Tidak banyak komentar dan menurut saja ketika diseret entah ke mana oleh Pretha.
“Ini—gedung olahraga?”
“Ya. Pertandingan basket satu lawan lima. Pangeran Es Stuyvesant kita, Reid Cutler!”
.
__ADS_1
.
Bersambung...