
Reid menatap pemuda di sebelah Leonna dengan begitu dingin dan menusuk. Ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya tengah ia lakukan. Hanya saja, mendapati Leonna berjalan bersisian dan sok akrab dengan cowok lain, entah kenapa ia merasa amat tidak suka.
“Urusan penting apa yang sampai kau harus menggunakan waktu istirahat dan makan siang Leonna?” Axle tersenyum seramah mungkin.
“Apa sekarang jabatan Ketua OSIS juga mengharuskanmu untuk mengetahui ‘kelewat mendetail’ privasi milik pelajar lain?” Tanya Reid sarkas.
Sedangkan Leonna yang mendadak kejatuhan ilham kalau percakapan Reid dan Axle ini tidak akan berakhir bagus, refleks menyela. “Benar. Maafkan aku Axle dan katakan juga pada Angus dan Irvine, terima kasih serta maaf karena aku tidak jadi makan siang bersama dengan kalian,”
Rangkulan Axle di pundak Leonna, serta merta gadis itu lepas. Ia tidak ingin ada keributan absurd yang di situ ada dirinya. Apalagi mereka sedang di sekolah, di tempat publik, yang mungkin sekali akan menimbulkan masalah meski ia tidak ikut-ikutan. Tidak pula yang memulai.
“Sekali lagi Axle, aku minta maaf dan terima kasih. Lain waktu juga untuk makan siang bersamanya.” Binar mata Axle sebisa mungkin ia tahan untuk tetap tampak normal lagi bersahabat di depan Leonna.
Namun, baru saja ia akan menanggapi halus perkataan Leonna. Reid untuk ke sekian kalinya menyela, “Apa kalian sudah selesai?”
Rangkulan pada lengan kurus Leonna secepat kilat kini telah berpindah tangan. Reid dengan posesif dan tanpa banyak kata, apalagi pamit, menarik pergi begitu saja Leonna.
Tetapi, hal yang lebih menyebalkan di pandangan Axle, adalah jemari makhluk bernama Reid itu yang tiba-tiba saja sudah menautkan terlampau manja jari-jemari Leonna.
Yup. Mereka berdua saling menggenggam tangan. Begitu romantis dan... ‘Memuakkan.’ Batin Axle.
“Baiklah. Lain waktu,”
Lambai Axle begitu melihat Leonna yang melambai ke arahnya dengan senyum canggung. Ia kemudian bergumam amat pelan ketika punggung lebar Reid dan sempit Leonna menghilang di ujung lorong. “Tapi tidak untukmu, Reid Cutler.”
PING!
Kepalan tangan Axle kini beralih malas merogoh saku celananya. Dan benar saja tebakan iseng-isengnya. Siapa lagi orang yang akan selalu memperburuk suasana hatinya kalau bukan dua cecunguk itu.
...[ 5 Pesan masuk dari: Grup Buddy” ]...
...Woy! Angus! Es serut pelangi tercintaku sudah mulai digenangi banyak air! — Arf! Wu Huu...
__ADS_1
...Apa kalian tersesat di dalam labirin? Kenapa masih belum tiba juga? — The Legend of Ang~...
...Berhenti berlaku curang Tuan Muda Bru! Cepat bawa Leonna kemari! — Arf! Wu Huu...
...Dalam dua menit kau tidak pula menampilkan batang hidung Leonna, makan siangmu akan berakhir di tong sampah, 4NG3L! — Arf! Wu Huu...
...Berhenti membaca pesan dan cepat bawa Leonna kemari! — The Legend of Ang~...
Helaan nafas pasrah sontak meluncur berat dari indera pernafasan Axle. Ia setelah memasukkan kembali ponsel pintar miliknya itu ke dalam saku, mendadak berbalik arah berlawanan dengan lokasi kafetaria berada.
Persetan sudah dengan makan siang dan dua insan yang terus menyuruhnya ‘Leonna ini’ dan ‘Leonna itu’. Ia benar-benar kesal sekarang. Ia serius, butuh sekali sesuatu untuk melampiaskan amarah akutnya ini.
“Dua, tiga, tidak. Lima Devka baru akan cukup untuk malam ini.” Geram Axle.
...🐣🐣🐣...
Genggaman pada tangan Leonna akhirnya terlepas juga. Reid dengan air muka memerah hingga ke daun telinga dan tengkuknya, mendadak gugup maksimal. Ia yang baru sadar dengan tingkah tidak jelasnya, kemudian hanya bisa terus berdiri membelakangi Leonna.
Ia tadinya berniat membiarkan Reid berbicara lebih dulu. Tapi, dikarenakan Reid tak kunjung pula buka suara, ia yang sama canggungnya refleks jadi malah berujar duluan.
“Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku? Terkait sesi belajar kita nanti, atau mungkin yang lainnya?”
“Tidak. Ya, maksudku,” Reid membalikkan tubuhnya seraya agak menundukkan kepala, memandang grogi Leonna. “Aku hanya bisa mengajarimu di jam istirahat, selepas pulang sekolah atau sore hari setelah aku menyelesaikan kerja paruh waktuku di swalayan.”
Wajah Leonna rasanya menghangat. Ia kaget sekali ketika Reid tiba-tiba menatap tepat ke dalam dua iris biru safirnya. “Aku tidak masalah. Kau sudah mau membantuku saja, aku sudah sangat terbantu. Maksudku, aku lemah sekali dalam matematika. Tapi, kalau kau tidak merasa terbebani...”
Reid menengguk air liurnya susah payah. Sesuatu di balik relung dadanya seketika saja berdesir ketika melihat ekspresi Leonna yang entah kenapa begitu, ehm, ‘Menggemaskan.’
“...aku punya banyak waktu kosong. Jadi, kapan saja aku oke.” Tukas Leonna. Sontak merasa malu saat ia tidak sengaja tertangkap basah tengah mencuri pandang ke arah paras ganteng Reid.
Sementara Reid dengan perasaan membuncah dan sangat asing, kemudian hanya bisa mengangguk seraya tersenyum keki. Ia setelah sedikit kalem lalu berujar, “Baik. Aku akan mengirimkan pesan nanti. Dan, kau,”
__ADS_1
Netra Reid memandang tidak fokus ke arah tembok bercat putih di belakang Leonna. Ia tadi tidak sengaja melirik jam tangan dan baru sadar kalau Leona juga belum makan siang seperti dirinya.
“Mau makan siang bersama? Tapi, aku hanya ada ini. Dan, ehm, jika kau tidak mau tidak apa-apa. Aku bisa menemanimu ke kafetaria sekarang.”
Bungkusan plastik yang entah sejak kapan berada di jinjingan Reid, oleh empunya itu lantas diselipkan lagi ke balik jaket. Ia pun tanpa menunggu respons Leonna, refleks buru-buru berputar arah menuju kafetaria.
Sedangkan Leonna yang tersentak, spontan menghentikan pergerakan Reid yang baru terhitung satu langkah. Ia lalu berseru agak kelewat bersemangat, “Aku! Aku ingin makan roti dan susu rasa cokelat!”
Tawa renyah sontak terlontar dari bibir menggoda Reid. Ia terkejut memang, tapi lebih mengejutkan dengan cara bicara Leonna yang mendadak gagap. Lucu dan menggemaskan, pikirnya.
“Aku sedang ingin makan roti. Dan tadi pagi pun aku tidak sempat minum—” Leonna mengurut ibu jari tangan kanannya tidak nyaman. “—susu. Oh, dan tenang, aku akan gantian mentraktirmu lain waktu. Namun, jika kau lapar sekali, aku tidak ap—”
“Kemari,” Ucapan Leonna terpotong.
Reid tiba-tiba menariknya untuk duduk bersebelahan di bangku taman. Ia walau rada kaget dengan pasrah menurut. Kemudian Reid meski masih agak ragu, beranjak mengeluarkan cepat belanjaan murahnya dari dalam plastik.
“Kau ingin susu rasa cokelat atau stroberi? Apa mungkin kau lebih suka yang rasa stro—be—ri—” Leonna seketika sudah berada di jarak super berbahaya dengan Reid.
Ia yang awalnya hanya berniat ingin menyabet susu kotak rasa cokelat dari tangan Reid, tidak tahu bagaimana, malah terpeleset dan berakhir tidak elit menubruk dada bidang cowok di depannya.
“O—oh...”
Nafas Reid mendadak tercekat. Bau parfum lembut bercampur aroma manis dan segar yang menguar dari pucuk kepala Leonna, seolah habis melayangkan sejumput sihir dengan ia yang malangnya sebagai target.
Mereka berdua untuk beberapa detik lantas mematung. Membeku konyol bagaikan dua ekor ikan yang terjebak di dalam balok es di perairan dingin kutub utara.
‘Kejadian memalukan apalagi ini?! Yak, Leonna! Apa kau sekarang sedang berlatih menjadi seorang Devka?! Mengerikan.’
.
.
__ADS_1
Bersambung...