
Pemandangan yang penuh tragis dan hujan turun pada saat yang sama, suara rintihan hujan tak terdengar lagi tetapi suara hujan timah panas yang menimpa orang-orang.
Tangisan, takut dan amarah yang menjadi satu dalam sebuah teriakan yang sangat keras setiap mulut mereka, bangunan-bangunan dulu yang di kenal sebagai rumah kini telah hancur terbakar hingga hanya kerangkanya yang dapat dikenali.
Seorang gadis yang terbaring di tanah yang basah wajahnya yang anggun basah dari rintihan hujan gadis itu membuka mulutnya yang lemah, tetesan air hujan membasahi tenggorokannya yang kering dan ternyata rasanya sangat manis. Rasa yang selalu di dambakan-nya kini telah hancur tak tersisa.
Sebuah luka tembakan di dada kirinya, darahnya merembes menjadi genangan kecil di bawah tubuhnya. Ini jelas luka yang sangat fatal sebuah timah panas menembus paru-parunya.
"Sarinande~... putri sarinande..."
Situasi yang penuh kesuraman ini, entah kenapa gadis ini tiba-tiba menyanyikan salah satu lagu tradisional.
"Mengapa tangis~... matamu bengkak..."
Bau di udara telah bercampur bau lumpur, abu dan bau paling menyengat dari beberapa kembang yang telah terbakar. Gadis ini ingat bau tersebut.
"Aduh mama~..., aduhlah papa..."
Ini adalah aroma kembang melati, baunya sangat khas.
"Lah... asap api~masuk dimata..."
Dia mengingat apa yang di ucap oleh Ibunya, bahwa perempuan itu seperti melati kecil, wangi, bersih dan putih yang menandakan kesucian maka tak heran kenapa orang tua selalu memandikan putri mereka dengan melati disaat hari pernikahannya agar mereka seperti melati.
"...Siti...Iwan..."
Tadinya dia ingin menerima kematiannya begitu saja akan tetapi dia teringat adik-adiknya dia tidak boleh mati sekarang mereka masih butuh kehadiran dirinya. Gadis itu tiba-tiba meronta dan mengulurkan tangannya ke bulan di langit.
"Kumohon... lindungi mereka..."
Hujan terus membasahi wajahnya dan tubuhnya mulai merasakan dingin. Tapi gadis ini tidak mempedulikan hal itu dia menggenggam tangannya ke depan, dengan suara terdengar lemah memohon ke bulan, memohon kepada dewa yang di sana.
"Kumohon padamu... kumohon setidaknya lindungilah adik-adikku..."
__ADS_1
Ini hanyalah usaha yang sia-sia bagi orang yang sekarat, cahaya dimatanya pun akhirnya meredup.
Akan tetapi...
"Aahh... kumohon bangunlah... kumohon bangunlah sayang..."
Seorang pria tiba-tiba datang dan meraih tangannya yang tergantung di udara saat mulai tak sadarkan diri. Penglihatan gadis itu telah kabur tapi entah kenapa pria di sampingnya terlihat jelas baginya.
Dia kenal wajah itu. Tapi terasa aneh karena bercampur aduk dengan rasa benci, senang, sedih dan berbagai emosi lainnya, pandangannya terlihat kabur tapi rasanya sangat jelas melihat wajah pria itu.
Karena dia selalu bersama dirinya suka senang, sedih duka, tertawa dan berjuang bersama di jalan penuh jurang.
"...Ka... mu..."
"Ya... ini aku... ini aku sayang..." ucap pria itu dengan penuh air mata. "Kumohon... bertahanlah... kumohon... dan maaf... maaf..."
Gadis itu tahu kenapa dia mengucapkan maaf terus menerus.
"Adikku... mereka..."
Bahkan harapan itu membuat gadis sekarat dalam kesendiriannya tersenyum dengan tulus.
"Kondisiku... aku tahu sendiri..." ucap gadis ini dengan suara lemah. "Sudah sampai sini... aku... tidak mungkin lagi..."
"...Maaf... seandainya aku... maaf..."
Seandainya ya... gadis ini tak ingin mendengar kata itu keluar dari mulut pria itu.
"Kamu... tidak perlu meminta maaf... aku... tidak akan memaafkan mu..." ucap gadis itu dengan suara lemah penuh ketajaman. "Terhadap kamu... masa lalu... sebanyak apa kepercayaan ku... sekarang... sebanyak itu pula kebencian ku..."
"Tapi... kalau kamu benar-benar ingin maaf dariku... berjanjilah padaku..." lanjut gadis itu. "Lindungilah adik-adikku... jagalah mereka..."
"Aku janji."
__ADS_1
Jawaban tanpa ragu-ragu, jawaban penuh ketulusan dari hatinya.
"...Ingat janji itu... dan... ini adalah kutukan... kutukan bagimu juga..."
"Iya aku berjanji." Jawab pria itu. "Sekalipun harus mengorbankan jiwaku, aku pasti selalu menjaga mereka hingga akhir hayat ku. Aku janji."
Seolah meyakinkan dirinya pria itu mengulanginya lagi. Tekad turun bersama turunnya hujan, bahkan air di wajah itu entah air hujan atau air mata penuh penyesalan.
Hanya saja pemilik tangan yang dipegangnya telah terlelap di keabadiannya dan tak bersuara lagi.
•••
•••
•••
Setiap orang adalah kepingan puzzle dalam hidup ini. Tapi saat mereka dipersatukan maka akan terjadi namanya hukum. Kepribadiannya dan keinginannya sulit di prediksi, akan tetapi tujuan dan kesamaan mereka mudah diketahui. Kepribadian berbeda-beda tapi memiliki tujuan yang sama.
Karena umat manusia akan selalu percaya dengan kebohongan mau itu dari agama, cerita, pekerjaan dan lain-lain. Karena itulah aku memilih sebagai seorang dokter psikolog dan kesehatan aku masih memiliki dua identitas lagi yaitu sebagai konsultan detektif dan penulis.
Namaku Ray Wolfa seorang dokter, ya untuk saat ini aku sebagai dokter karena aku lagi di klinik milikku sendiri. Saat ini aku berjalan di koridor klinik menuju ruang kerja sekaligus sebagai ruang belajar juga.
Alasan aku menuju ke sana karena ada seorang tamu istimewa menungguku di sana. Dia bukan kerabat atau teman sekolahku tapi kami sudah melewati berbagai macam bahaya dan saat ini aku memiliki informasi yang sulit ku pahami.
Tentang pembunuhan berantai di Villa Raja yang berada di "Kota Lautan Api".
Meski penyelidikan ku saat ini belum ada hasil, masih banyak misteri dalam kasus ini. Aku sudah berjalan 20 langkah, saat ini aku berada di depan pintu ruangan yang ku maksud tanpa sadar aku menelan ludahku.
Kata pemilik rumah yang mengijinkan ku kontrak di sini untuk bangun klinik tamunya sudah datang setengah jam yang lalu, padahal jam ketemuannya masih ada dua jam lagi. Aku tidak heran karena tamunya adalah pria hebat yang selalu kompeten dalam hal ini.
Sekarang tergantung seberapa besar tawaran yang aku berikan agar dia tergoyahkan, karena aku butuh dia untuk kasus ini. Pria ini orang yang sangat tangguh, aku harus benar-benar bisa meyelesaikan kasus ini.
Sambil memikirkan ini aku memegang kenop pintu dan memutarnya secara perlahan. Sesaat membuka aku sudah melihat dia duduk dengan santainya dan tatapannya seolah-olah berkata "Aku tahu apa yang kamu inginkan dariku" sikap tenangnya lah yang membuatku selalu gugup dihadapannya yang penuh kepercayaan diri.
__ADS_1
Aku rasa ini akan menjadi malam yang sangat panjang.