IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Tersangka (Part 3)


__ADS_3

"Istriku belum mati...," dengan wajah yang terlihat memanas.


"Sebaiknya kamu menerima kenya..."


"DIA BELUM MATI!!! Wati masih ada di sini!!" Tiba-tiba Adithya berteriak dan cukup membuatku terkejut. "Maaf, aku teriak padamu. Aku sangat sensitif jika membahas mengenai istriku."


"Tidak apa-apa, aku mengerti."


Setelah percakapan itu, kami seketika terdiam beberapa waktu dan memandang kebun melati yang tumbuh subur di sini. Setelah beberapa saat aku akhirnya buka suara duluan:


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Dari semua kejadian ini munculnya para Black wind Ghost (BWG), hingga pembunuhan berantai yang terjadi serta hilangnya anak-anak di kota ini. Kamu pasti tahu kan kenapa aku bertanya hal ini kepadamu?"


"Heh...," dia hanya meresponnya dengan seringai. "Sepertinya kamu sudah menyadari semuanya untuk melengkapi jawaban yang kau inginkan, maka ikutlah denganku..."


Tanpa berkata apa pun aku langsung mengikutinya dari belakang, dia berjalan kearah pintu depan sana. Aku tidak tahu apa yang dia ingin tunjukkan di ruangan itu.


Sesaat sampai di depan pintu itu, Adithya langsung membuka pintu itu dan mengajakku masuk. Saat masuk sebuah pemandangan yang sangat mengejutkanku kali ini, dan entah mau marah tapi... aku sudah memperkirakan hal ini sejak tadi.


"Jadi benar, ternyata kamu dalang dari semua kejadian ini," kataku.


"Bukankah semuanya sudah jelas apa yang kamu lihat ini."


Ternyata ruangan tempat Adithya melakukan semua eksperimennya dengan tubuh manusia. Aku melihat ada banyak tubuh yang sudah dimutilasi olehnya termasuk tubuh hewan, dan lebih parahnya lagi dia bahkan mencangkok kan bagian tubuh hewan dan menyatukannya dengan tubuh manusia.


Terlihat semua tubuh korbannya ini kebanyakan anak-anak. Lalu ada beberapa tubuh yang berhasil disatukan oleh dan menempatkan tubuh itu disebuah tabung raksasa.


Benar-benar pemandangan mengerikan untuk dilihat, disisi lain masih ada yang hidup dengan tubuh tidak utuh lagi dan kulihat dia sangat kesakitan.


Aku langsung mengeluarkan pistol milikku dan menodongkannya ke Adithya.


"Semua kejahatan tak manusiawi ini, aku rasa harus segera menahan mu, wahai Tuan Bagaskoro."


"Jangan khawatir, Tuan Wolfa. Aku tak ada niatan melawan mau pun kabur dari sini."


Dengan santainya dia melewati ku dan aku tetap mengarahkan terus pistol ku ke arahnya.


Sembari berjalan menuju lantai atas lagi, aku mengajukan pertanyaan lagi untuknya:


"Apa para BWG dan Chimera itu hasil perbuatan mu?"


"Iya, semua itu perbuatan ku. Kalau untuk makhluk yang sebutan Black Wind Ghost, mereka hanya hasil eksperimen yang gagal dan membakar seluruh tubuhnya hingga menjadi abu, setelah memasukkan abu mereka ke obat-obat yang aku berikan ke semua orang di kota ini. Untuk makhluk campuran yang kalian sebut Chimera, mereka hasil eksperimenku yang berhasil tapi sayang hanya baru tujuh berhasil, dan yang kamu lihat barusan mendekati keberhasilan tapi... dilihat keadaannya kayaknya dia mau mati."


"Aku sangat yakin pasti istrimu sangat kecewa melihat tindakanmu ini."


"Aku tak peduli jika dia tidak suka walaupun dia membenciku, aku melakukan semua ini untuk bisa melihat senyumannya lagi."


"Dasar gila!"


"Hehe..."


•••


Sesaat membawa Adithya naik kembali lagi ke atas, terlihat Fu dan Miranda sedang berdiri di sana dan sekaligus terkejut melihat Adithya ada di bawa sana serta aku menodongkan dia pistol.


Melihat ini Fu langsung berkata:


"Dokter, melihat ini berarti dia..."


"Iya, dialah pelaku semua dari kejadian ini," jawabku.

__ADS_1


"Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa masuk ke sini, tapi apa ada orang lain yang membantu kalian atau memang ini sudah bakat alami detektif kalian."


Setelah Adithya berkata dia langsung menatap tajam Miranda, sedangkan hanya memasang ekspresi datar dengan balasan tatapan tajam juga.


"Aku maksudmu?" Tanyaku.


"Tidak, lupakan saja," jawab Adithya.


Setelah berkata begitu kami membawa Adthya kediaman villanya.


•••


Setalah berada di dalam villa, kami berada di aula-nya dan aku berteriak memanggil Edik dan Tina untuk turun ke bawah.


"Ada apa, Murung? Kenapa kau teriak-teriak begitu?" Tanya Tina.


Mereka berdua turun ke bawah dan anak-anak yang bersamanya ikut mereka juga.


"Ray, kenapa kamu menodongkan senjata mu ke Pak Bagas?" Tanya Edik yang kebingungan.


"Tuan, apa kakakku bersalah sehingga kamu mengarahkan senjata mu kepadanya?" Lanjut tanya Siti.


Terlihat mereka semua kebingungan aku tahu hal ini akan terjadi, jadi aku harus memberitahukan kebenaran pahit ini.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, dari semua kejadian yang ada di kota ini hingga sekarang, dialah dalang dari semua ini."


Jgeeerr...


Hujan disertai guntur yang menggelegar telinga, seketika membuat suasana terguncang hebat.


"Apa!! Apa-apaan maksudmu ini, Murung! Mana mungkin Pak Bagas pelakunya!" Ucap Tina yang masih kebingungan.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak menanyakan dia secara langsung," kataku.


Seketika suasana semakin mencekam ditambah turun hujannya yang membuat suasana semakin dingin.


"Hehe... HAHAHA... HAHA...!!!"


Tawa keras Adithya membuat suasana semakin merinding.


"Itu benar! Akulah yang melakukan semua ini!"


Orang-orang yang selama ini dekat dengan Adithya, seketika hati mereka seperti dihantam benda keras, sebuah kenyataan menyedihkan yang disembunyikan selama ini.


"Kak Adit, tolong kalau semua ini bohong kan?!" Tanya Siti yang masih tidak percaya.


"Semua itu benar, sayang. Kalau tidak percaya aku buktikan...," sembari mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya.


Tlak!


"Dokter! Awas!!" Seketika Miranda menarik diriku mundur dari posisiku.


Shut!


Dengan cepat sebuah pisau terbang melewati ku dan aku berhasil selamat berkat Miranda.


Kami semua langsung melirik kearah pisau itu tiba-tiba muncul dan berasal dari dapur, terlihat sesosok keluar dari sana dengan jalan seperti orang mabuk dengan darah keluar terus menerus dari tubuhnya, dan membasahi lantai setiap langkahnya.


"Itukan... Desi! Bukannya dia sudah mati?!" Tanya Tina.


"Adithya!!! Apa kamu melakukan pada gadis ini juga!!" Teriakku yang kesal.


"Bukankah sudah jelas, dia datang atas panggilanku."

__ADS_1


Dor!


Karena tidak tahan dengan ini aku langsung menembak tangannya yang dia angkat dan darahnya merembes keluar, tampak dia sangat tenang menerima luka ini.


"Dokter! Tenanglah," kata Fu.


"Maaf, sebenarnya aku sudah menahan emosiku sejak melihat ruang bawah tanah di rumah kecilnya dan asal kalian tahu, semua insiden orang hilang sekarang berada di sana dalam keadaan tak bernyawa, akibat semua eksperimen gila yang dilakukannya untuk memenuhi ambisinya menghidupkan kembali istrinya," terang-ku.


"Kak Adit, kenapa kamu melakukan ini, walaupun kakak berhasil hidup dia tidak akan senang melihat kak Adit melakukan ini!!" Ucap Siti.


"Ya aku tahu, tapi tetap akan kulakukan," balas Adithya. "Ngomong-ngomong, gara-gara luka ini yang mengeluarkan darahku terus menerus, maka mereka akan datang kemari."


Kami semua bingung apa maksud perkataannya...


Craang!...


"Apa itu?!"


Seketika seluruh kaca jendela villa ini pecah dan sesosok makhluk hitam dengan bentuk yang aneh masuk ke villa ini.


"Itukan..."


"Ada apa, Fu?" Tanyaku.


"Dokter, makhluk kecil itulah yang aku lawan sebelumnya, tapi kenapa dia hidup lagi?"


Melihat Fu kaget begitu, berarti seluruh makhluk ini ciptaan sempurna yang dimaksud Adithya kebetulan jumlah mereka tujuh, hanya saja Desi termasuk dari yang mana dengan tubuh yang masih utuh?


"Sebenarnya Tuan Chen, semua makhluk-makhluk hasil eksperimen ku ini tidak semudah itu mereka mati hanya karena sebuah peluru biasa," terang Adithya.


"Peluru biasa! Berarti yang selama ini kau berikan kepada Tina, itu palsu!" Kataku.


"Iya, untuk memusnahkan makhluk seperti mereka, seharusnya Tuan Chen sudah tahu caranya," ucap Adithya. "Baiklah, sebaiknya aku pergi dari sini, Iwan kemari lah."


Secara Tiba-tiba Iwan menuruti perintah Adithya, dia berjalan dengan tatapan yang tak terlihat hidup lagi.


"Jangan bilang Iwan juga..."


"Iya benar, dugaan mu tuan Detektif, Iwan sudah mati sejak dulu," terang Adithya.


Dor! Dor! Dor!


Tiba-tiba Tina menembak terus menerus kearah Adithya dengan air mata terus mengalir, tapi semua tembakannya berhasil ditahan oleh salah satu makhluk eksperimennya.


"Kenapa... kenapa juga kamu melakukan ini pada anak polos sepertinya, kenapa!!"


"Kak Adit... kenapa kamu tega melakukan ini juga pada Iwan...," sambung Siti dengan air mata berlinang.


Adithya hanya diam dan menatap kami dengan tatapan yang sulit ditebak.


"Karena waktuku tinggal sedikit, aku akan pergi dari sini, selamat tinggal semuanya," pamit Adithya dan menaiki salah satu satu makhluk eksperimennya bersama Iwan dan Desi.


Sesaat Adithya pergi meninggalkan villa bersama makhluk eksperimennya.


Orang-orang yang dekat dengan Adithya mengalami guncangan hati yang berat, aku tahu ini sesuatu yang sulit diterima.


"Sebaiknya kita mengejar dia, Fu, Miranda tolong ikut denganku," pintaku.


Mereka berdua hanya mengangguk saja.


"Aku akan ikut denganmu, aku tak bisa membiarkan tindakan bodohnya mengacaukan semua orang!" Ucap Tina.


"Aku juga ikut, aku tak bisa membiarkan tubuh adikku dirusak lagi, aku... aku ingin dia dikubur dengan tenang bukan sebagai senjata pembunuh," ucap Tina.

__ADS_1


Tanpa membalas kata-kata mereka, aku langsung mengiyakannya saja dan mereka semua langsung ikut mengejar Adithya.


__ADS_2