IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Tersembunyi (Part 4)


__ADS_3

Kami bertiga mulai berangkat menuju ke belakang villa, seketika terdengar suara yang sangat keras di bawah sana kami bergegas menuju ke sana, karena gelap aku teriak untuk mengetahui respon seseorang di bawah.


"Tuan Wolfa!!" Teriak pria di bawah sana.


Edik langsung mengarahkan cahayanya orang yang memanggil namaku ternyata dia Rama, kayanya dia lagi berurusan dengan orang yang tidak menyenangkan.


"Edik coba arahkan senternya ke arah sana," pintaku.


Edik mengarahkan cahayanya ke arah objek yang mana Rama menatapnya terus menerus, saat cahaya sampai objek yang dituju betapa terkejutnya kami saat melihat sosok itu.


"Kenapa ada BWG di sini!"


Kami sungguh sangat terkejut sosok yang menyerupai BWG ada di sini, aku langsung memintai bantuan Miranda menangkap orang itu.


"Itu bukan BWG, itu pelakunya," kataku. "Miranda bantu aku menangkapnya."


"Dengan senang hati Dokter~."


Gadis anggun itu langsung lompat dari lantai atas dua orang berada disampingnya barusan terkejut tapi mereka tidak ingin ambil pusing mereka mulai fokus terhadap pelakunya.


"Edik tolong arahkan terus cahayanya ke dia agar aku bisa melumpuhkannya," ucapnya sembari mengeluarkan pistol dan fokus ke targetnya.


Terjadi pertarungan sengit di dalam kegelapan dua orang saling menarikan pisau tajam mereka, terlihat sangat lihai tidak satu pun dari mereka berhasil mengenai.


"Nona Miranda aku ikut membantu!"


Ikutnya Rama membuat pertarungan mulai tidak seimbang, sang pelaku tidak ingin pergi dengan tangan kosong dia pun melempar pisaunya ke arah atas. Di sisi lain aku berhasil mengenai tangannya yang di angkat barusan dan itu membuatnya sangat kesakitan.


Tapi perhatianku tidak terfokus langsung ke pembunuh itu melainkan sesuatu yang dia lempar di atas sana, saat memerhatikan sesuatu di atas aku melihat sesuatu yang bergelantungan di atas, sontak itu membuatku terkejut dan berteriak kepada Rama dan Miranda menjauh dari sana.


Mereka berdua berhasil menghindar sesuatu yang jatuh dari atas sana karena peringatan darurat dariku, akan tapi ada sebuah cairan keluar dari yang jatuh barusan, sehingga itu membasahi alas kaki mereka.


Seketika terdengar suara teriakan seorang gadis ternyata dia Sarah putri dari Rama dan Jasmin, dia berhasil membuat kami teralihkan sehingga dia menangkap Sarah.


"Edik ayo kejar dia!"


"Baik!"

__ADS_1


Kami berdua bergegas mengejarnya menuruni beberapa anak tangga, si pelaku mulai berhasil keluar dari tempat tinggal beberapa langkah lagi dia berhasil keluar dari pintu itu. Akan tetapi saat dia hampir sampai ke pintu itu, pintu itu langsung terbuka dengan sendirinya terlihat beberapa orang berdiri di sana dan aku langsung berteriak:


"Fu! Hentikan orang itu!!!"


Saat mulai sampai, pria yang berdiri di pintu dia menghindari orang berjubah hitam itu dan membiarkannya pergi begitu saja. Sang pelaku berhasil keluar dari Villa Raja dan menghilang ke dalam kegelapan.


Sesaat hampir menangkap pelaku itu, Rama langsung mencengkram kedua bahu Fu dengan erat dan dia langsung meneriakinya dengan emosi yang sulit di kontrol lagi.


"Kenapa kau tidak menghalanginya!!! Kenapa!!!"


Fu hanya diam saja tidak menjawab atau membalas perlakuan Rama kepadanya.


"Rama tenanglah, ada alasan kenapa Tuan Chen melakukan itu," ucap seorang pria dengan pakaian yang sangat rapi serta berkacamata.


"Tapi Tuan, Sarah...!!"


"Tenanglah, percayalah padaku dia baik-baik saja."


"Tapi...!!"


"RAMA!!!" Teriak pria itu. "Maaf aku tidak bermaksud..."


"Maaf menampilkan sisi buruk ku di awal pertemuan kita, perkenalkan saya Adithya Bagaskoro, senang bertemu denganmu detektif Ray Wolfa."


"Senang bertemu denganmu juga, di luar dugaan ku ternyata anda orangnya sangat berwibawa."


"Terima kasih atas sanjungan anda, perkenalkan ini adalah adik saya namanya SITARESMI biasa di panggil SITI."


Siti memberikanku salam aku pun membalas salam darinya.


"Aku sudah mendengar tentang dirinya dari Edik dan Tina, serta tentang adikmu satunya yang bernama Iwan."


"Eh?! Kenapa gelap begini?"


Ucap seorang wanita yang baru datang ternyata dia adalah Tina.


"Kenapa bisa gelap begini, saat aku memasukan mobil di garasi semuanya tampak gelap dari kejauhan jadi aku bergegas menuju kemari," jelas Tina.

__ADS_1


"Ini ulah si pembunuh itu dia telah menangkap Sarah dan entah di bawah kemana," jelas Edik.


"Apa!!! Pak Bagas kita harus segera menyelamatkan dia," ucap Tina yang tampak sangat panik mendengar hal ini.


"Jangan khawatir Tina, dia akan baik-baik saja," balas Bagaskoro.


"Kenapa anda bisa seyakin itu?!!"


"Jangan khawatir pembunuh itu tidak pernah mengincar anak kecil."


Kami semua terkejut mendengar pernyataan Bagaskoro kenapa dia bisa seyakin itu.


"Alasannya saat insiden orang-orang hilang 3 tahun lalu saat itu juga bermunculan hilangnya beberapa anak kecil, saat ditemukan beberapa orang dewasa sudah mati disekitar anak kecil itu. Anak kecil itu masih hidup hanya saja dia mengalami trauma psikologis berat, dimana dia harus menyaksikan keluarganya dibantai di depan matanya serta bagian-bagian tubuh mereka di ambil atau di potong. Cuma aku yang menyelidiki kasus ini sendirian aku tidak tahu apa motifnya, mau di laporkan ke pemerintah setempat mereka sudah tutup mata mengenai insiden ini."


Kami sedikit lega mendengar cerita itu hanya saja kami masih sangat khawatir dengan keadaan Sarah, kejadian itu mungkin sudah lama hanya saja kita tidak tahu bahwa si pembunuh itu akan melakukan hal yang sama seperti di ceritakan Bagaskoro.


"Jadi kamu tidak perlu khawatir Rama, kita tidak boleh jatuh dalam perangkapnya."


"Baiklah Tuan," ucap Rama dengan berusaha menahan kesedihannya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi ke belakang untuk menyalakan generator-nya," ucap Tina.


"Aku ikut denganmu sayang."


Edik dan Tina pergi ke belakang, Adithya menyuruh kami masuk dan aku menghampiri Fu sebentar lalu bertanya perihal barusan.


"Kamu pasti tahu kan Dokter, kenapa lebih memilih menghindarinya?"


"Iya aku baru menyadarinya, kalau kamu benar-benar menghalangi dia langsung saat kamu belum siap mungkin kamu langsung mati."


"Syukurlah kalau kamu mengerti, tapi saat menatap matanya seolah-olah dia tersenyum kepadaku."


"Soal itu aku tidak tahu lagi."


Listrik kembali menyala akan tetapi...


"KYAAA!!!"

__ADS_1


Suara teriakan terdengar dari dalam aku dan Fu bergegas menuju ke sana sesaat sampai betapa terkejutnya kami, seseorang sedang tergeletak dibawah sana dengan bersimbahan darah dimana-mana, aku mengalihkan pandanganku ke Rama dimana dia menangis mengeluarkan air mata yang sangat banyak sembari mencengkram kepalanya sangat erat dengan kedua tangannya.


"AAA!!! TIDAK!!! INI TIDAK MUNGKIN!!! AAAA...!!! JASMIN...!!!


__ADS_2