IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Berhasil Kabur (Part 4)


__ADS_3

"Kakak...! kamu sudah pulang," teriak seseorang dari atas, kami semua langsung menoleh ke atas.


"Iwan!" Balas Siti.


Karena semangat Iwan berlari menuju kemari, Adithya yang khawatir dengan kesehatannya dia meminta Edik untuk membantunya turun kemari. Saat sudah berada di lantai bawah Iwan langsung memeluknya Kakaknya Siti, terjadi reuni hangat antara Kakak dan Adik ini.


"Anak itu..."


"Ada apa, Fu?" Tanya Dokter yang tiba-tiba menepuk pundak ku.


"Tidak, tidak ada apa-apa hanya saja... mata anak itu..."


"Oh, kamu baru menyadarinya. Mata Iwan salah satu mata terlangka di dunia, mata dengan warna keemasan," terang Dokter.


Warna matanya sama dengan penculik itu yaitu warna amber, bukan itu saja kalo diperkirakan tingginya 111 atau 113 cm bukannya ini sama dengan perkiraan ku dengan pembunuh barusan. Ditambah lagi ukuran sepatunya hampir sama dengan jejak barusan, tidak mungkin anak sakit ini pelakunya kan? Soalnya dia memiliki tubuh yang lemah untuk orang lincah seperti penculik tersebut.


"Dokter, apa kamu tahu berapa tinggi penculik tersebut?" Tanyaku.


"Hmm, tingginya mungkin..." sembari menatap gadis remaja dengan rambut diikat sepeti ekor kuda yaitu Siti. "Kira-kira 136 cm, mungkin tingginya seperti Siti. Apa kamu mengetahui sesuatu?"


"Tidak, ini masih dalam asumsi ku. Tapi... masih ada hal lain yang kau tahu dari penculik itu?"


"Kalau diingat-ingat tangannya terluka akibat dari tembakan ku."


"Tangan terluka ya..." kataku sembari menatap anak kecil bernama Iwan itu. "Tidak ada luka sama sekali, hanya saja kenapa sepatunya kotor begitu?"


Siti segera membawa adiknya ke kamar karena dia terlalu kecil untuk melihat pembunuhan dan darah banyak. Dan itu membuat Dokter ingin bertanya mengenai si Iwan dan Tuan Bagaskoro tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Dokter. Tuan Bagaskoro mengatakan bahwa selama terjadi pembunuhan dan keributan di villa ini, Iwan selalu dibawah ke kamarnya dan selalu ada orang yang menemaninya bermain di kamar.


"Selama mati lampu Iwan sendirian di kamarnya," kata Dokter.


"Hah! Edik kenapa kau biarkan dia sendiri kalau terjadi sesuatu padanya, aku akan...," ucap Tuan Bagaskoro yang sangat khawatir.


"Maaf Tuan Bagas, saat itu aku membawa Ray di lokasi kejadian," balas Edik.


Terlihat Dokter berusaha meyakinkan dan menenangkan Tuan Bagaskoro. Tampak wajah penuh kekhawatiran dari Tuan Bagaskoro, kepala pelayan itu tiba-tiba menghampiri kami dia sudah tidak terlihat menangis lagi tapi kesedihan masih jelas di wajahnya. Dia menjelaskan semuanya kenapa Iwan bisa sendiri di kamarnya, katanya dia turun kebawah bersama putrinya untuk membawakan makanan untuknya selang beberapa waktu tiba-tiba lampu mati dan itulah penyebab awalnya penculikan itu.

__ADS_1


Setelah mendengar itu Tuan Bagaskoro mulai tenang dan mempercayai semua yang dikatakan pelayannya itu, setelah mendengar semuanya Tuan Bagaskoro meminta pelayannya yaitu Rama untuk istirahat di kamarnya.


"Tuan, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanyaku ke Tuan Bagaskoro.


"Iya, tanyakan saja."


"Ini mengenai adik anda yaitu Iwan. Bukankah sepatunya terlalu kotor untuk dikatakan 'jarang keluar kamar'?"


"Soal itu..."


"Dokter~..."


Seseorang memanggil rekanku dengan suara lembut tiada lain kalau bukan Nona Miranda Jasfi.


"Ada apa Miranda?" Tanya Dokter.


"Dokter~, kamu harus melihat ini deh..."


Walau yang dipanggil hanya Dokter saja tapi, aku dan termasuk orang-orang yang ada di aula ini menuju ke Nona Jasfi karena penasaran apa yang ia temui. Sesaat sampai di sana aku melihat sebuah goresan yang sangat dalam ditembok itu, terlihat goresan itu tertulis sesuatu yang tidak ku mengerti apa maksud tulisan tersebut.


"'RAS'? Apa maksudnya itu?" Tanyaku.


"Apa kamu baik-baik saja, Tuan Wolfa?"


Fokus ku terpaku sejenak ke wanita itu dan terbuyar karena aku mendengar suara Tuan Bagaskoro, yang menanyakan perihal yang membuat semua orang di aula ini mendengarnya juga terkejut. Terlihat Dokter kesulitan untuk berdiri setelah fokus menyelidiki tulisan tersebut, wajahnya terlihat sangat pucat...


GEDEBUK!


Kami semua sangat kaget melihat Dokter tiba-tiba pingsan.


"Hah! Ray, kamu tidak apa-apa?! Hey Sadarlah!" Ucapku yang sangat khawatir berusaha membangunkannya.


"Cepat bawa dia ke kamar!" Kata Adithya.


Aku dan Tuan Thomas membopong Dokter menuju kamar tamu.

__ADS_1


Sesampai dikamar tamu kami membaringkan ia ke tempat tidur dan Tuan Bagaskoro membawa beberapa obat herbal untuk Dokter.


"Kalian berdua pergilah istirahat, biar aku yang merawatnya," ucap Tuan Bagaskoro.


"Tapi tuan..."


"Jangan khawatir, Tuan Chen, Ray pasti akan baik-baik saja," ucap Tuan Thomas.


"Baiklah, kalau begitu tolong ya... Tuan Bagaskoro."


"Hmm," sembari menganggukkan kepalanya.


Aku dan Tuan Thomas keluar dari kamar...


"Mungkin sebentar lagi kebenaran akan terungkap," gumam ku.


"Eh? Kamu bilang sesuatu tadi?" Tanya Tuan Thomas yang kebingungan.


"Tidak, aku tidak bilang apapun, tapi... tak ku sangka hal ini terjadi lagi."


"Jadi, Ray, sering pingsan?"


"Iya."


"Mungkin ini penyebab kelelahan, karena menjalankan tugas sebagai Dokter sekaligus Detektif," terang Tuan Thomas.


"Ya... bisa jadi sih."


Sebenarnya aku pun tidak tahu mengenai hal ini, hanya saja setiap Dokter pingsan dan saat sadar tiba-tiba ia tahu mengenai semua kejadian yang ada. Mungkin dia memiliki kemampuan psikometri atau proyeksi astral? Aku harap kemampuannya ini tidak menyakitinya sama sekali, bahkan ia pun tidak menyadari sama sekali mengenai kemampuannya ini.


"Oh iya, kamu bilang kenapa sepatu Iwan kotor," ucap Tuan Thomas.


"Iya, kenapa bisa kotor begitu?" Tanyaku.


"Itu karena sepatu ini satu-satunya pemberian kakaknya, istrinya Pak Bagas, kakak kandung dari Siti dan Iwan. Alasannya Iwan tak ingin bau dari kakaknya hilang darinya, tinggal sepatu itulah katanya tersisa bau kakaknya yang ada. Makanya tidak pernah dicuci sama sekali, itupun dipakai saat Siti ada disisinya," jelas Tuan Thomas.

__ADS_1


"Benar-benar... anak yang unik ya."


Tuan Thomas hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


__ADS_2