IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Mengejar


__ADS_3

Pukul 20.55


Saat aku dan Tuan Thomas mengejar sang kepala pelayan yaitu Rama, kami hanya mengejarnya hanya berlari saja sebab kepala pelayan itu memasuki gang-gang yang sempit sehingga itu membuat kami kesulitan menemukan jejaknya.


"Tuan Thomas, apa kamu tahu setiap selak seluk daerah ini?" Tanyaku


"Maaf, Tuan Chen, aku dan Tina jarang memasuki gang-gang sempit seperti ini," jawab Tuan Thomas. "Sebab katanya setiap gang selalu ada berandalan yang memeras bahkan memperkosa setiap wanita yang lewat."


Kalau hal itu sudah masuk akal karena setiap gang sempit seperti ini rawan akan kriminal sebab tempatnya tertutup dan mudah bagi sang pelaku meloloskan diri.


"Sial! Kita benar-benar kehilangan dia!" Ucap Tuan Thomas yang lagi kesal.


Dalam keadaan basah kuyup dan hujan begini sulit bagiku mencari jejaknya seolah-olah alam telah mendukungnya, aku harus tenang dan memerhatikan sekitar.


Setelah beberapa saat aku nyaris tak menemukan petunjuk apa pun akan tetapi...


"Tuan Thomas, kemari sini..."


Aku menemukan noda darah tertempel disebuah dinding dan darahnya terlihat masih baru, Tuan Thomas menghampiriku dan terkejut melihat darah itu.


"Darah! Seseorang telah baru lewat sini, mungkin ini Rama, Tuan Chen, ayo kita bergegas!" Ucap Tuan Thomas yang terlihat tergesa-gesa.


"Tenang dulu, Tuan Thomas, biasanya petunjuk semudah ini pengalihan dari sang pelaku untuk mengelabui kita," jelas-ku.


Seketika Tuan Thomas tenang dan menerima masukan ku, tampak ia juga berpikir bahwa ini pengalihan.


"Terus kita harus bagaimana?" Tanya Tuan Thomas. "Kita tidak bisa membiarkan dia begini terus."


"Iya aku tahu, tapi berdasarkan ucapan dari Tuan Bagaskoro bahwa dia mantan tentara bayaran, jadi menurutku kita masih punya waktu karena kepala pelayan itu--tidak semudah itu dia mau menyerahkan nyawanya," jawabku.


Situasi kami benar-benar sulit kami kekurangan petunjuk dan pada akhirnya aku dan Tuan Thomas keluar dari gang ini. Sesaat diluar aku tiba-tiba teringat sesuatu yaitu mengenai darah itu, darah yang terlihat darah manusia tapi bukan manusia juga.


Darah mengingatkan dengan Iblis kecil yang ku bunuh barusan saat di stasiun, makhluk itu mengeluarkan darah yang sama dengan manusia. Hanya saja makhluk keji itu manusia? Atau manusia hasil eksperimen? Aku tidak tahu sebelum memastikannya.

__ADS_1


"Tuan Chen, kenapa kamu melamun?" Tanya Tuan Thomas.


"Ah tidak, kupikir sebaiknya kita kembali ke tempat itu," jawabku.


"Apa kamu mengetahui sesuatu?" Tanya lagi Tuan Thomas.


"Iya, ini mengenai noda darah itu," jawabku. "Sebaik kita langsung ke sana, takutnya pelaku itu menyadari apa yang kupikirkan."


Tuan Thomas hanya mengangguk saja dan kami bergegas masuk kembali di gang itu.


Sesaat kembali kami dikejutkan sesuatu yaitu noda darah yang didinding barusan menghilang tak tersisa.


"Apa! Darahnya menghilang!" Kata Tuan Thomas yang kaget melihatnya.


"Sudah kuduga hal ini akan terjadi," kataku.


"Apa kamu mengetahui sesuatu mengenai darah itu, Tuan Chen?" Tanya Tuan Thomas yang tampak masih gak percaya.


"Aku menyadari darah ini saat aku dan Tina pergi menjemput Tuan Bagaskoro dan Siti di stasiun," jawabku. "Kami bertemu makhluk menyerupai BWG, tapi wujudnya sangatlah jauh berbeda dengan mereka. Makhluk itu memiliki sayap dan bertubuh kecil, serta tubuhnya benar-benar seperti makhluk hidup memiliki darah dan daging juga."


"Terus apa yang terjadi dengan makhluk itu?" Tanya Tuan Thomas.


"Dia mati ditembak oleh Tuan Bagaskoro dengan peluru khususnya," jawabku.


"Oh peluru itu ya..."


"Kamu tahu mengenai peluru itu, Tuan?"


"Awalnya aku tidak percaya dengan hal-hal supranatural, kata Pak Bagas bahwa pelurunya ditanamkan sebuah mantra olehnya."


Jadi dugaan ku benar mengenai peluru itu.


"Jadi kamu sudah mengetahui hal supranatural maka aku tidak perlu menyembunyikannya, aku bisa melacak asal darah itu dengan energi spiritual milikku sehingga aku tahu di mana dia dalam radius satu kilometer."

__ADS_1


Tuan Thomas hanya diam tertegun mendengarnya, sebab ia dan Istrinya seorang Dokter yang hanya percaya dengan sains.


"Jadi, kamu masih bisa melacaknya?"


"Iya, aku bisa tapi... hanya samar-samar saja saat aku melakukannya."


Aku pun membungkuk dan meletakkan satu tanganku di tanah dan mengucapkan sebuah mantra:


Angin yang berhembus


Dikala hari yang tenang


Angin yang menghempas


Dikala ada yang menghalang


"Menyebar-lah!"


Wussh..!


Kali ini aku hanya membuat angin tertiup dengan tenang karena energi spritual ku kali sangat terkuras di pertempuran sebelumnya, sekalian cara tenang membuat sang pelaku tidak menyadari apa yang kulakukan.


Tuan Thomas hanya memerhatikan aku dari belakang dengan seksama, disisi lain angin yang aku perintahkan telah menyebar sejauh seratus meter dan ini sudah batasan ku.


Sesaat aku merasakan sesuatu dari angin-angin ini, samar-samar aku melihat sesuatu yaitu seseorang yang bersandar ditembok dan satu orang lagi terbaring di tanah yang basah tepat di depan sebuah rumah kecil dan kedua orang ini, aku tidak merasakan tanda-tanda kehidupan dari mereka berdua.


Serta aku merasakan satu tanda kehidupan dari dalam rumah kecil itu, tampak samar-samar aku melihat ia sangat gemetaran mungkinkah dia...


"Tuan Thomas, aku sudah menemukannya."


"Hah! Sudah ketemu, di mana mereka sekarang?"


"Mereka ada di sebuah rumah kecil diujung gang ini, tapi kita harus bergegas ke sana, Sarah dalam bahaya."

__ADS_1


"Kalau begitu tunggu apa lagi, kita harus segera ke sana!"


Aku pun bangkit dan bergegas berlari ke rumah kecil itu, karena aku merasa ada yang tidak beres di sana.


__ADS_2