IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Tragedi di malam yang dingin


__ADS_3

Rintihan hujan terus membasahi kota ini, kota yang terlihat seperti kota mati.


Seorang pria berpakaian baju pelayan berlari ditengah hujan yang dingin ini, dia tidak peduli apa yang menimpa dirinya, tapi satu hal yang dia pikirkan "putrinya."


Setelah beberapa lama ia menyusuri setiap gang ini, ia melihat sebuah rumah kecil diantara gang sempit ini. Pria ini mendapat pesan morse dari pembunuhnya. Melalui jendela kamarnya, ia melihat sekilas cahaya berkedip-kedip kearahnya dengan pesan:


--- --- • • --- --- • --- --- •


• --- • • • --- --- --- • --- • • • •


--- • --- • --- • --- • • • • --- • •


Pria ini seketika membuka lebar-lebar jendelanya dan naik, akan tetapi...


"KYAAA!! Paman... jangan melompat!"


Teriakan seorang gadis yang tiba-tiba dan gadis itu langsung berlari keluar untuk memberitahukan semuanya yang ada di villa ini.


Pria ini tidak menghiraukan peringatan gadis itu dia tetap melompat, pria ini langsung melompat dengan ketinggian 10 meter lebih dan tidak ada sedikit luka yang menggores dirinya, malahan pria ini sudah menganggap sudah hal biasa baginya lompat dari ketinggian seperti itu.


Setelah sampai di bawah, pria ini langsung berlari menuju ke gerbang utama dan...


"Rama!!"


Seseorang memanggil dirinya dan ia langsung berbalik menatap kearah jendela ia melompat barusan. Setelah menatap orang yang memanggilnya, ia langsung berbalik dan berlari lagi menuju ke gerbang.


Setelah keluar dari wilayah villa, pria ini berhasil menemukan rumah kecil yang dimaksud pembunuh itu. Dengan nafas terengah-engah dan sedikit capek pria ini langsung bergegas mau memasuki rumah itu, tapi...


PIUH!


TEK!


Sebuah cahaya kilat dingin datang menghampirinya, dengan insting tempurnya pria ini berhasil menghindari sebuah belati yang datang menyerangnya. Sang kepala pelayan ini langsung mengarahkan pandangannya ke atas, terlihat sesosok bayangan berdiri dengan tenang di atas balkon rumah kecil itu.


Dengan auranya yang sangat dingin serta tatapannya yang siap menghisap darah mangsanya.


DURR...


Raungan guntur memperjelas suasana dingin ini, dua orang saling menatap satu sama lain. Mereka sama-sama memunculkan niat membunuh, sang kepala pelayan dengan darahnya sudah sangat mendidih serta sosok bayangan ini dengan darahnya yang sangat tenang seperti sungai mengalir ke laut.

__ADS_1


Orang berjubah hitam serta topeng putih anehnya ini melompat untuk sejajar dengan mangsanya, ia mengambil belati miliknya yang tertancap di tanah basah dan...


SET...


Langsung maju dengan sangat cepat dan mengarahkan belati dinginnya ke mangsanya. Akan tetapi, serangannya tidak semudah ini mengenai pria yang tingginya setengah meter lebih darinya.


Kepala pelayan ini selalu berhasil menghindari setiap kilatan cahaya itu dan berhasil melancarkan serangan pertama. Tapi sayang, serangan kuatnya berhasil ditahan dengan kedua tangan musuhnya itu.


Sosok bayangan ini terpental mundur akibat menerima serangan yang di cukup kuat baginya, tapi... itu tidak mudah menggoyahkannya dan kali ini ia meningkatkan kekuatannya. Mengambil ancang-ancang bak hewan buas siap melompati mangsanya dan...


SET....!


Seketika kecepatan yang luar biasa, hanya dengan sekejap mata saja tiba-tiba muncul dihadapan kepala pelayan ini lalu...


SLASH! SLASH!


Dua sayatan berhasil menempel ditubuhnya berada di sebelah lehernya dan lengan tangan kanannya. Dia menekankan jarinya ke luka yang ada dilehernya, mencoba menghentikan darah terus mengalir keluar.


"Apa-apaan kecepatan itu!"


Pikir kepala pelayan ini yang sulit mencerna apa yang ia lihat barusan, sudah banyak pertempuran dan darah telah memenuhi hidupnya, dan baru kali ini dia menghadapi sesuatu yang sulit untuk diimbangi olehnya.


SYUT!


"Apa!!"


Seketika sosok bayangan itu muncul dibelakangnya dan...


JLEB!!


"Argh!!! Sial!!"


Tusukan baja dingin berhasil mengenai dirinya dan itu membuatnya mengeram kesakitan, tapi itu tidak membuatnya tumbang ia langsung berbalik dan mengerahkan serangan balasan.


Tapi Sayang...


JLEB!!!


Tusukan yang sangat dalam mengenai dirinya tepat di bagian kanan bawah perut, sosok bayangan ini berhasil menghindari serangannya dan dengan cepat menusuknya dari samping.

__ADS_1


"AAAHHHH!!!"


Dengan cepat sosok bayangan ini menjauh darinya dan mencabut belati miliknya, karena tak ingin mendapatkan serangan telak oleh mangsanya.


Mengeram kesakitan sembari menutup luka vitalnya dengan kedua tangannya, kaki mulai lemas ia bersandar di tembok di belakangnya. Karena kaki tak kuat lagi akhirnya ia jatuh sembari menyandarkan dirinya di tembok.


Tangannya terkulai lemas. Penderitaan mati lemas bahkan jauh melebihi rasa sakit yang ada lukanya. Dia mengangkat matanya dengan susah payah dan melihat sosok serba hitam berdiri dihadapannya. Sosok inilah alasan dirinya harus berakhir seperti ini.


Kadang ketika nyawa sudah di tenggorokan berbagai memori terlintas dipikirannya, ia teringat bahwa dulu dirinya tinggal di daerah yang mengharuskan mengambil nyawa seseorang untuk bisa hidup. Kekerasan sudah menyelimuti dirinya sejak kecil dan menumpahkan darah di mana-mana sudah menjadi keseharian baginya.


Tapi semua masa gelapnya itu berubah sesaat bertemu dengan seseorang yang tidak takut akan dirinya dengan pisau berlumur darah korbannya. Gadis itu hanya memasang ekspresi datar dan berkata:


"Kamu pikir benda sekecil itu bisa menakuti ku! Kalau mau makan ikutlah denganku, kebetulan aku bawa banyak bahan untuk makan malam."


Dia terkejut baru kali ini seseorang menawarinya bantuan, tanpa pikir panjang dia mengikuti gadis mungil itu. Setelah beberapa lama berhubungan dengan gadis itu, muncul benih-benih cinta diantara mereka hingga mereka punya seorang putri.


Tapi sayang hubungan itu tidak berangsur lama, pria ini membawa putrinya menjauh dari Ibunya sehingga tidak kabar lagi mengenai wanita itu lagi.


Pandangan semakin kabur dan ia semakin mengeram kesakitan, sosok bayangan ini membuka topengnya...


"Ka... kamu...!"


Kepala pelayan terkejut dibalik wajahnya yang sangat pucat, sedangkan sosok bayangan ini menyeringai penuh kepuasan.


Dia tidak percaya apa yang dilihatnya...


"Jadi... begitu ya..."


Terdengar langkah kaki kecil mendekat dengan lembut. Bayangan dihadapannya ini berjalan kearahnya dan sedang menulis sesuatu di sampingnya, dengan darah mengucur dari lukanya.


Yang hanya dia lakukan adalah menatap orang di sampingnya dengan tatapan setengah hidup.


"Maaf... aku..."


Orang itu tidak berhenti menulis, dan hanya menanggapinya dengan tersenyum aneh.


Bibir pucat nya perlahan menutup sebelum menyelesaikan kalimatnya. Tetesan air mata hangat jatuh di pipinya yang dingin.


Tangisan pertama dan terakhirnya telah jatuh, dengan pesan penuh kata-kata penyesalan yang tidak bisa terucap lagi.

__ADS_1


__ADS_2