
Bisa dibayangkan betapa kelamnya di saat itu. Suara teriakan orang-orang yang terkena hujan timah panas dan rumah bahkan hutan pun dibakarnya asap abu yang bertebaran dimana-mana akibat peristiwa itu.
Demi mengenang sejarah gelap itu pemerintah setempat meminta kepada saudara ataupun keluarga dilarang keluar rumah sampai hari esok karena hari tersebut "hari berdoa kepada korban tragedi tersebut" di tanggal tepatnya terjadi peristiwa tersebut.
Kita kembali ke topik utama, penyelidikan kali ini berasal dari sebuah Villa mewah yang dimana pemilik villa tersebut adalah korban dari tragedi tersebut.
"Yakin mau ke sana?" Tanya Fu yang secara tiba-tiba setelah lama memandangi kota tersebut. "Aku tahu kamu bukan orang yang sembrono, tapi kasus ini terasa sangat aneh."
"Adhitya Bagaskoro." Jawab Dariku. "Dialah pemilik dari villa itu dan dia juga mengirim surat kepadaku untuk menyelidiki kasus ini."
"Tapi rumah sebesar dan mewah begitu meminta bantuan dari detektif swasta, seperti yang kamu bilang ini benar-benar terasa aneh dan lebih penting membuatku lebih penasaran." Jelas-ku lagi.
"Maaf, aku tidak tertarik dengan rasa penasaran mu itu atas kasus ini."
Seperti biasa dia memang orang yang menyebalkan tapi yang dikatakannya benar juga kasus ini terasa penuh kejanggalan.
"Tapi... aku memang penasaran dengan pria pemilik villa tersebut." Terang Fu.
Sambil berkata begitu, rekanku ini tidak mau ambil pusing atas kasus ini dia kembali membaca koran yang ada ditangannya dari tadi. Aku mengeluarkan surat yang dikirimkan kepadaku kemarin, tapi isinya membingungkan sekali:
"Merenda sebuah tali kasih
Ku simpul menjadi satu hati
Gambaran jiwa yang terluka
Bagai langit meratap sendu
Kala bias cinta menghilang
Sakit itupun datang tanpa permisi
Rembulan tak menyisakan senyum
Bersama malam, ku dekap lirih arti kerinduan
__ADS_1
Kesendirian."
(Sekali lagi puisi di atas bukan puisi buatan sendiri, ini puisi milik Kahlil Gibran kalian bisa cari di google dengan judul "Kerinduan.")
Aku mencoba memahami setiap baris puisi ini. Tapi semua hanya mengarah pada cinta penuh kerinduan. Dibelakang surat pengirim, meninggalkan sebuah pesan:
"Kalau kamu tahu maksud isi puisi ini, silahkan ke Tuan Bagaskoro di Villa Raja, aku menantikan kedatangan mu." Yang bertanda tangan (Adhitya Bagaskoro).
Kertas suratnya produk standar buatan Asia, Seharusnya kertas surat ini umum dimana-mana. Tulisannya juga sengaja sekali seperti cakar ayam, tapi masih bisa dibaca tulisan cakar ayamnya gak terlalu rusak pasti perempuan yang tulis ini.
Satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil saat ini adalah surat ini tidak ditulis oleh Adhitya Bagaskoro. Aku mengulangi puisinya mencoba untuk memahaminya ini membuatku pusing, saat ingin menghadapkan pandangan ke arah lain tanpa sadar pandanganku malah langsung tertuju pada seseorang di pojok kereta.
Dia adalah gadis yang sangat menawan dengan rambut panjang kuning terangnya serta kulitnya terlihat mulus dilihat dari tangannya bahkan wajahnya gak terlihat seperti orang lokal benar-benar gadis yang sulit dilupakan. Dia duduk di sana dengan tenang sambil membaca buku yang dipegangnya, semua kebisingan ini tidak mempengaruhinya sama sekali.
"Tak ku sangka kamu punya hobi seperti itu ya."
Tiba-tiba aku kaget karena lamunanku memandangi wanita itu terbuyar karena Fu Chen.
"Tapi, perlu ku peringatkan sebaiknya kamu jangan terlalu berurusan dengan wanita itu dia terlihat sangat berbahaya." Pesan Fu.
"Ehemm, ya... tentu saja."
"Wajahnya sangat tidak asing bagiku, gaya tenangnya serta senyum khasnya yang sangat sulit dimengerti oleh orang yang melihatnya dan kenapa dia datang ke kota ini." Kataku.
"Yang kamu katakan memang benar agak mencurigakan bagi seorang wanita lembut sepertinya datang ke kota ini." Ucap Fu.
Rekanku meletakkan korannya. Meski terlihat acuh tak acuh, tapi dia memiliki rasa penasaran yang kuat.
"Kamu bilang dia sangat tidak asing bagimu, kali ini berdasarkan apa? Wajah? Pakaian? Atau kelakuannya?" Tanya Fu Chen.
"Tangannya." Jawabku. "Pada umumnya jari yang paling lemah yaitu jari manis terutama ditangan kiri paling sering, sedangkan dia dengan mudahnya menekuk jari manis tangan kirinya tanpa jari yang lainnya tidak ikut tertekuk dia melakukannya saat membalik lembaran bukunya dengan jari manisnya itu."
"Biasanya hanya penari profesional yang terbiasa menggunakan jari-jemarinya saat menari. Dan penggunaan jari manis paling sering diperlihatkan bersamaan jari tengah, serta jari manis sebagai pengukur tempo tarian saat dipentaskan. Ini sangat hebat untuk orang yang pernah melihat tarian-tarian tersebut, aku benar-benar memperhatikan dia sedari tadi." Sambung-ku.
"Jadi begitu, kamu benar-benar memperhatikannya tak ku sangka kamu punya hobi yang aneh ya." Ucap Fu dengan nada sedikit ejekan.
__ADS_1
"Hei! Bukan begitu, sebenarnya..."
"Tidak perlu beralasan Dokter. Kamu hanya mencoba menutupi fakta atas hobi mu ini."
Seperti biasa dia pria menyebalkan dan tak kenal ampun, percuma juga menjelaskannya panjang lebar malah dia tidak mendengarkan ku sama sekali.
"Kamu belum menjelaskan sepenuhnya, silahkan dilanjutkan aku masih mendengarkan."
Aku lupa dia orangnya super penasaran baiklah aku lanjutkan.
"Ehem. Hal terakhir kenapa aku tahu semua ini karena dia seorang penari profesional."
"Kenapa kamu berpikir bahwa dia seorang penari profesional?" Tanya Fu Chen.
"Kenapa kita tidak tanya langsung pada orangnya kuharap ini tidak mengganggumu nona Miranda Jasfi?"
Wanita itu menutup bukunya dan tersenyum kearah kami sambil menyela rambutnya ke telinganya.
"Tentu saja tidak Dokter." Jawab Miranda. "Meski hanya sedikit yang tahu wajah aslimu setidaknya namamu selalu dikenal dalam novel misteri mu Dokter. Sedangkan aku hanya seorang penari kapan-kapan akan mudah dilupakan dan digantikan orang hebat lainnya."
"Ayolah anda terlalu menyanjungku." Balasku.
Pria di sebelahku ini tampak kebingungan berusaha mencerna situasinya.
"Hey kalian mempermainkan aku ya. Cara bicara kalian seolah-olah sudah kenal lama. Dan Dokter bagaimana kamu yakin bahwa dia seorang penari?"
Seketika Nona Miranda menjawab pertanyaan kawanku ini sebelum aku mengeluarkan sepatah kata.
"Oh ini mudah saja tuan," jawab Miranda. "Koran kamu pegang sekarang coba kamu baca dibelakangnya."
"Tunggu dulu, ini Serius!? Nona Miranda Jasfi secara resmi mengundurkan diri dari dunia tarian disaat pentas terakhirnya di atas panggung balai kota."
"Iya itu aku," jawab Miranda. "Izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Miranda Jasfi. Aku diundang oleh temanku yang pemilik salah satu Villa besar di kota ini. Kedepannya mohon bantuannya dan kerja samanya, Tuan Detektif dan Dokter."
"Aku Ray Wolfa kamu sudah tahukan siapa aku dan ini temanku Fu Chen.Mohon bantuannya juga dimasa depan Nona," balasku.
__ADS_1
Gadis cantik itu tersenyum dan disaat yang sama kereta mulai melambat itu menandakan hampir sampai di stasiun kereta.
Villa Raja, Kota Lautan Api sudah didepan mata.