IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Hubungan (Part 5)


__ADS_3

Rama pikir tidak ada wanita yang seperti Desi selama ini dia temui, dengan keberaniannya ia akhirnya menyatakan perasaannya dengan Desi dan Desi hanya menanggapinya dengan tersenyum lalu hanya mengangguk saja.


Selang beberapa waktu, bibit cinta yang mereka tanam akhirnya semakin tumbuh dan membesar hingga melahirkan buah hati yang manis dengan nama Sarah.


Mereka berdua sangat bahagia atas kehadiran buah hatinya, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.


Karena selama ini Rama lupa bahwa bahaya terus mengejar dirinya sebagai tentara bayaran, karena tak ingin membahayakan Desi akhirnya dia pergi meninggalkannya dan membawa putrinya.


Selang beberapa tahun berlalu, hidup dalam kekosongan dan sendirian. Pria yang dicintainya tega melakukan hal ini padanya dan membawa bayinya begitu saja.


"Oh iya, Adithya datang di daerah itu."


"Memangnya dia mau ngapain di sana?"


"Katanya dia punya pelanggan yang membeli obatnya."


Adithya yang berada disebuah bar menunggu pelanggannya, terjadi pertemuan tak sengaja dengan Desi dan Adithya. Adithya yang melihat Desi, tiba-tiba dia langsung keceplosan dan langsung menyebut nama Sarah saat melihatnya.


Nama yang selama ini tak didengar olehnya lagi kini kembali membuatnya sadar dari kegelapan kesedihan yang membelenggunya, saat mendengar itu Desi langsung meminta dan mendesak Adithya untuk dipertemukan dengannya dengan Sarah.


Adithya yang bingung dan meminta dia untuk tenang, Desi menceritakan semuanya ke Adithya bahwa Sarah putrinya dari hasilnya dengan Rama. Adithya terkejut mendengarnya, sebab Rama adalah pelayannya apa lagi sudah menikah dengan perempuan lain.


Disisi lain dia juga prihatin melihat Desi sangat terpuruk begini, akhirnya dia memenuhi permintaan desi untuk bertemu dengan putrinya. Dipikiran Adithya akan jadi reuni terburuk diantara mereka.


"Kamu pasti tau kan, apa yang terjadi setelah mereka bertemu."


"Saat mereka bertemu akan menjadi pukulan terberat bagi Desi, melihat prianya serta putrinya sudah di bawah asuhan wanita lain. Untuk bisa lebih dekat dan mengawasi putrinya, dia meminta Adithya agar membiarkannya bekerja di sini."


"Tepat sekali, Dokter~."


"Kalau diperhatikan etos kerjanya berdasarkan ceritamu, bukannya kerjaan dia sangat rapi ya, kenapa dia dibilang paling ceroboh di sini?"


"Sebenarnya dia tidak ceroboh sama sekali, melainkan dia yang paling sempurna mengurus villa ini, tidak hanya bersih-bersih dia juga hebat memasak."


"Kata Tina, dia selalu kena marah dari ketujuh orang ini (korban) bahkan Adithya sendiri juga pernah memarahinya."


"Soal Adithya memarahinya itu tindakan wajar, sebab Desi pernah membersihkan meja serta barang-barang peninggalan istrinya di meja perpustakaan itu kan."


"Lalu ketujuh orang ini?"


"Sebenarnya, ini sangat menyedihkan untuk diceritakan bahkan aku tak mendengarnya sendiri saat dia menceritakannya. Tapi, aku akan mengatakan intinya langsung dan kamu boleh menafsirkan apa pun kata-kata- yaitu, pelecehan dan penyiksaan."


Dokter berdiam cukup lama. Aku mendengar desisnya yang tampaknya sangat marah saat mengetahui fakta itu.


"Maaf Miranda, kamu pasti menunggu lama."


"Tidak apa-apa, ekspresikan lah dan luapkan semua emosimu selagi sendirian."


"Aku sudah berjanji dengan diriku untuk tidak melibatkan perasaanku dalam menyelidiki sebuah kasus."


"Kamu terbawa emosi itu berarti kamu orangnya sangat manusiawi, munculnya perasaan pribadi saat bekerja itu memang cukup menganggu, tapi dengan munculnya perasaanmu disaat bekerja akan membuatmu bisa tenang sedikit dan dapat dengan mudah memahami orang-orang di sekitarmu. Jadi, pertanyaan selanjutnya?"

__ADS_1


"Mengenai pesan dengan tulisan darah, bagaimana menurutmu?"


"Sudah jelaskan untuk balas dendam kepada korbannya, tapi disisi lain aku menanggapinya dengan lain."


"Apa itu?"


"Malahan ini terlihat semacam ritual dari pembunuhnya dan mengingatkanku dengan syair di salah satu buku yang aku baca kalau gak salah begini bunyinya:


(Dia memiliki mimpi seumur hidup... mimpinya menjadi yang teratas, mimpi yang membuatnya bertekad.)


(Dia berjalan diantara persimpangan... menyerahkan dirinya ke tujuh jalan, dan menetapkan semua perbuatannya kepada tujuh jiwa.)


(Berdiri diantara tujuh jalan, dan menyerahkan semuanya kepadanya.


Tetesan kehidupan dari tujuh jiwa, telah menuntunnya ke jalan menuju puncak.)"


"Kalau dimaknakan syair itu, maka seseorang telah mengorbankan dirinya beserta orang-orang disekitarnya untuk mencapai tujuan diinginkan."


"Benar sekali, Dokter. Menurutku Desi tidak akan punya alasan untuk balas dendam ke mereka."


"Hah, bagaimana kamu bisa yakin, berdasarkan ceritamu tadi..."


"Kadang mendengar penderitaan seseorang memang akan membawa emosi kita, tapi apa kamu tau bahwa sebuah kisah yang diceritakan dengan menyedihkan akan menonjolkan kebohongannya, dan sebaliknya dengan kisah penuh kebahagiaan. Saat Desi menceritakannya aku merasa ada yang terlalu disembunyikan dari kisahnya itu."


"Masuk akal sih, kadang sebuah kisah kebenarannya akan ditampilkan kurang dari 30% sisanya hanya karangan semata. Kalau dipikir lagi, wanita sekuat dirinya mana mungkin mau direndahkan begitu saja."


"Kelihatannya kamu telah mengeluarkan Desi dari kandidat tersangka."


"Bisa jadikan Desi yang melakukannya."


"Iya, tapi...berdasarkan apa yang dikatakan Fu, dia melihat dua jejak kaki dengan ukuran sama di satu tempat, yang pertama orang yang bertarung dengan Rama lalu yang kedua ada sebuah jejak berlari dari samping gang menuju masuk ke rumah ini. Ditambah lagi, dengan tulisan darah yang ada di samping Rama, aku hanya melihat kurang dari satu menit saja bahwa terlihat tulisan itu seperti ditulis menggunakan jari, tapi... kenapa temboknya ikut tergores hingga ke dalam sehingga membentuk tulisan 'JACK' bersamaan menggunakan darah."


Aku menyesuaikan posisi tubuhku untuk bisa berbicara lebih tenang.


"Kalau begitu kita urut kan, balas dendam--ini hanya motif dari sang pembunuh untuk menyibukkan dirimu agar rencananya berhasil."


"Iya, ini memang semacam pengalihan untukku, tapi apa alasannya?" Sebenarnya aku tak ingin memasukkannya tapi... sudah terlibat masuk dalam kasus ini."


"Dan apa itu?"


"Ini mengenai hal-hal supranatural, makhluk-makhluk tak dikenal bermunculan dan menjadi tersangka dalam pembunuhan ini, maka hal ini sudah aku sudah masukkan dalam pembunuhan biasa yang aneh."


"Bisa jadikan, selama ini makhluk itu pelakunya juga."


"Aku pernah bilang bahwa ada seseorang yang telah membantu pembunuh itu kan?"


"Iya, dan menurutmu ada berapa orang?"


"Satu, jika diasumsikan kalau pembunuh yang menculik Sarah adalah Desi, maka si Desi tidak akan punya waktu leluasa mengejar targetnya."


"Jadi, orang yang membantunya ini..."

__ADS_1


"Ya, dialah yang membunuh lima orang itu dan dua orang sisanya pembunuh yang menculik Sarah. Ini juga menandakan pembunuh serta orang yang membantunya sejak awal mereka tidak sembunyi sama sekali."


"Oh... menarik sekali, Dokter~. Jadi, kamu sudah tau siapa yang punya alibi terkuat untuk membantu pembunuh itu?"


"Sudah ada, yaitu Adithya."


"Oh~, alasannya?"


"Ini berdasarkan lima tahun lalu, kata Edik istrinya meninggal pada waktu itu dan mungkin ini sulit dipercaya, Adithya ingin membangkitkan istrinya dari kematian."


"Masuk akal dan cukup aneh, karena hal-hal supranatural sudah terlibat dalam kasus ini maka tak wajar lagi, itu juga memperkuat dugaannya sih. Bisa dilihat Adithya sangat sensitif terhadap peninggalan istrinya serta menanam semua kesukaan istrinya di villa ini."


"Hehe..., memang benar-benar aneh, sesuai syair barusan sangat cocok dengan deskriptif liar ini."


"Kamu yakin, hanya memasukkan Adithya sebagai kandidatnya saja? Kamu melewatkan satu hal loh..."


"Apa itu?"


"Kalau berdasarkan kejadian lima tahun lalu, maka Siti bisa termasuk dalam tersangka mu."


"Hah! Apa maksudmu?"


"Mungkin dia terlihat seperti gadis biasa pada umumnya, tapi sebenarnya dia cukup gila. Aku melihat dengan tenang memutilasi dua ekor kucing hidup-hidup, dan menggambar sebuah pentagram dengan darah, hal itu dilakukannya tepat di belakang rumah kecil itu. Aku tak menyangka dia sangat tertarik dengan hal-hal supranatural juga."


Saat ini, aku mendengar suara napas panjang dari ponsel ini, tampak Dokter mulai semakin kebingungan.


"Hehe~, menghela napas kelelahan itu tidak seperti layaknya seorang detektif."


"Ya... begitulah, ini tidak seperti dalam dunia novel, di mana banyak sekali celah diantaranya."


"Oh iya, Dokter~. Satu hal lagi, kenapa kamu tidak memeriksa isi rumah kecil itu."


Dokter terdiam cukup lama, tampaknya dia menyadari sesuatu.


"Miranda... kamu telah memberikan satu kepingan puzzle untukku, tinggal yang terakhir."


"Hehe~, senang mendengarnya, Dokter~."


"Dokter..."


Terdengar suara tak asing bagiku dibalik ponsel ini dan itu adalah Fu Chen.


"Sarah sudah siuman, apa kamu ingin memeriksanya?" Tanya Fu.


"Sudah sadar ya, baiklah aku akan segera ke sana. Miranda aku tutup dulu."


"Oke."


Aku berdiri dari bak mandi dan mengambil handuk untuk menutupi diriku.


Aku rasa sebentar lagi kasus ini selesai deh, hehe~.

__ADS_1


Karena seseorang telah melanggar perjanjiannya sejak awal.


__ADS_2