
"Saudara Edik, apa itu benar?" Tanya sang Hakim.
"Itu benar, Yang mulia, saat itu aku lupa mematikan alat perekam itu saat menyalakannya, sebab aku hanya mencoba alat itu apa masih berfungsi atau tidak, saat ingin mematikannya tiba-tiba Tuan Bagaskoro mengetuk pintu kamarku dan katanya ingin berbicara empat mata denganku di sini."
"Sebenarnya Yang mulia, rekaman ini aku dapatkan saat aku masih menyelidiki villa itu, dan tak sengaja menemukan alat perekam ini di kamar saudara Edik," jelas-ku.
Semua orang di ruang sedang ini bingung, sebab apa mereka harus menerima pengakuan dari Edik sebagai salah korban juga atau tidak.
Terlihat hakim juga mempertimbangkan apa yang harus diputuskan.
"Diantara saudara-saudara di sini, apa yang ingin menunjukkan atau memberitahukan sesuatu?"
Semuanya hanya terdiam.
"Baiklah, dengan ini saya putuskan bahwa saudara Edik Thomas dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, berdasarkan kesaksian bukti serta keterangan dari saksi yang menemukan bukti tersebut."
Tak... Tak... Tak...
Suara ketukan palu dipukul berapa kali dan semua orang-orang di ruangan ini mulai ribut kembali, serta Adithya dan Edik dibawa ke ruang tahanan.
•••
Setelah itu, aku langsung kembali ke villa Adithya, yang mana ada Siti, Sarah, Tina yang lagi lemas dan Susan, dia adalah kenalanku dan profesinya seorang Dokter kesehatan sepertiku sekaligus dia juga seorang bidan.
"Bagaimana keadaan dia, Susan?" Tanyaku.
"Untuk kesehatan janinnya, baik-baik saja. Hanya saja, dia tidak boleh stres dan terlalu capek menjalani aktivitasnya."
Setelah mendengar itu aku langsung masuk ke kamar Tina, aku melihat Sarah dan Siti berusaha menjaga keadaan Tina agar dia baik-baik saja serta calon anaknya itu.
Aku melihat Tina berbaring di kasur dengan lemas dan terlihat mata dia sangat bengkak, kemungkinan dia menangis terlalu berlebihan.
"Sebaiknya kamu jaga baik-baik kandunganmu itu," kataku.
Tina langsung membuka matanya dan langsung menatapku dengan air mata masih keluar.
"Kamu... aku baik-baik saja, hanya saja dia... sangatlah bodoh!" Ucap Tina dengan kesal dan air mata masih keluar terus.
Aku prihatin melihat keadaan dia dan menghela napas dengan berat lalu berkata:
"Kamu jangan khawatir, Edik sekarang baik-baik saja," kataku.
Tina terkejut mendengar itu dan bertanya:
"Apa maksudmu?"
"Dia selamat, sekarang dia akan menghabiskan 10 tahun hidupnya di penjara," jawabku.
__ADS_1
Seketika air mata Tina semakin deras jatuh, dan kali ini bukan air mata kesedihan melainkan rasa bersyukur.
"Syukurlah... aku pikir... hiks... kemarin adalah terakhir kalinya aku melihat dia," ucap Tina dengan isak tangis.
Setelah mengucapkan itu, aku ingin langsung meninggalkan mereka karena sebab Tina tidak akan sedih untuk sementara ini.
Tetapi...
"Tuan..."
Siti tiba-tiba memanggilku dan aku meresponnya.
"Ada apa?"
"Itu...," tampak Sit ragu-ragu mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia mengatakannya. "Apa kak Adit dia juga..."
Aku sudah menduga dia akan bertanya seperti dan aku langsung menjawabnya:
"Maaf."
Satu kata yang membuat dia sudah mengerti sepenuhnya.
"Begitu ya...," sembari menundukkan pandangannya dan tampak dia sangat sedih mengetahuinya.
Setelah itu aku langsung pergi dan keluar dari kamar ini.
"Bagaimana Dokter, apa sudah selesai?" Tanya Fu.
"Semuanya beres," jawabku sembari melirik Susan. "Susan, apa kamu bisa di sini sementara, sampai keadaannya pulih?"
"Tentu saja bisa, selama bayarannya sesuai," jawab Susan.
"Seperti biasa, kamu tidak pernah melewatkan hal seperti itu. Jangan khawatir, masukkan saja semuanya di tagihan ku," ucapku.
"Oke~, hehe~."
Setelah itu aku dan Fu meninggalkan Villa Raja ini dan menaiki kembali kereta menuju ke kota Pahlawan, di mana aku tinggal di sana sekaligus aku membangun klinik ku sendiri di sana juga.
"Setelah ini apa kamu mau mampir ke rumahku dulu?" Tanyaku.
"Untuk sementara ini aku rasa tidak, sebab aku harus menyerahkan benda berbahaya ini dulu...," sembari menunjukkan buku itu. "Aku akan mengirim langsung buku ke pusat organisasi kami yang berdiri di Tiongkok, sebab aku sudah menghubungi orang-orang di sana untuk datang segera ke sini mengambil buku ini secara pribadi, dan mengawalnya secara ketat agar tidak ada orang yang mengambilnya."
"Begitu ya, sayang sekali kalau begitu, padahal aku ingin merayakan keberhasilan kasus ini denganmu," ucapku.
"Lain kali saja," balas Fu.
"Okelah kalau begitu," sembari memandang kota Lautan api melalui jendela kereta ini.
__ADS_1
•••
Sesaat sampai di kota pahlawan, aku ingin langsung masuk ke rumah dan istirahat tapi pemilik rumah yang aku sewa ini datang menemui ku, sekaligus mengijinkan ku membangun klinik di kontrakannya ini.
"Dokter, akhirnya kamu kembali," ucap wanita tua itu.
"Ada apa, bu?" Tanyaku.
"Itu..., ada seseorang yang sudah menunggumu dari tadi, katanya dia adalah pasien mu."
"Pasien?!"
Aku terkejut, sebab aku tak buat janji dengan siapa pun untuk konsultasi.
"Kalau boleh tahu, dia laki-laki atau perempuan?"
"Dia perempuan, saat diperhatikan dia sangat cantik dan aku pikir dia seorang model."
Wanita? Cantik? Seperti model? Aku sangat bingung, sebab aku tak pernah bertemu wanita seperti itu dalam daftar pasienku.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih sudah memberitahukan ku."
Ibu itu hanya mengangguk dan aku langsung menuju ke klinik ku.
Sesaat sampai di depan pintu klinik, tiba-tiba aku terkejut saat memutar gagang pintu ini.
"Tidak terkunci?! Padahal aku sudah menguncinya sebelum pergi, apa jangan-jangan orang itu..."
Aku langsung masuk dan berlari menelusuri koridor panjang ini, setelah sampai tepat di depan pintu ruang kerjaku, aku mencium aroma yang sangat tidak asing bagiku.
"Bau ini... bau melati kan!"
Glup!
Aku meletakkan tanganku di kenop pintu dan memutarnya lalu mendorong pintu itu.
Sesaat pintu terbuka lebar, aku sangat terkejut sebab seorang gadis yang sangat cantik nan anggun sedang duduk dengan santainya di atas meja kerjaku, dan apa lagi dia membaca semua novel buatanku.
"Ah~ Dokter~, akhirnya kamu kembali juga."
"Miranda! Kamu masih ada di sini, kukira kamu sudah mau pulang di Belanda."
"Oh..., sebenarnya sebentar aku mau balik, tapi tidak ada salahnya kan menemui teman dulu, sekalian aku ingin ngucapin 'selamat atas berhasilnya kasus ini'."
"Ya, terima kasih," sembari jalan menuju sofa dan duduk. "Jadi, kamu punya alasan lain, selain ucapin selamat, kan?"
"Kamu benar, aku datang ke sini dengan tiga alasan dan yang pertama sudah dipenuhi, lalu yang kedua aku ingin novel mu yang dibuat secara langsung oleh penciptanya, sekalian aku minta tanda tanganmu karena aku ini salah satu penggemarmu, loh~."
__ADS_1