IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
EX. Tersangka seorang wanita (Part 1)


__ADS_3

13-05-2005


Pukul 11.06


Kemarin aku kedatangan seorang klien yang tampak panik dan klien itu adalah seorang Pastor, dia memintaku untuk membantunya mencari foto dan rekaman pribadinya yang hilang.


Sesaat sampai di sebuah gereja di tengah kota...


"Tak kusangka kamu menemukan tempatnya dengan cepat," ucap Fu.


"Tentu saja, aku tak sengaja melewati gereja ini pada saat para jemaat ramai juga di sini. Tapi, aku tak menyangka siapa orang yang berani melakukan pemerasan terhadap seorang Pastor ternama, bahkan gereja ini memiliki keamanan yang sangat ketat pada saat itu," jelasku.


"Begitu ya, jadi... apa kita akan masuk?" Tanya Fu.


"Iya, kita akan masuk untuk mencari informasinya secara langsung dari lokasi kejadiannya," jawabku."


Setelah percakapan singkat itu, akhirnya kami masuk ke gereja besar itu.


•••


Sesaat di dalam gereja, kami disambut oleh salah satu biarawati di sini.


"Selamat datang, apa anda berdua datang ke sini untuk memanjatkan doa atau pengakuan dosa?"


"Kami datang ke sini atas permintaan tuan Moris Ramza, apa beliau ada di sini?" Tanyaku.


"Ah, jadi kalian tamu yang dimaksud, Bapak Moris ya. Kalau begitu, mari ikut saya, dia ada di dalam ruangannya."


Aku dan Fu mengikuti Biarawati itu dari belakang, sembari berjalan aku mengarahkan pandanganku berbagai arah di tempat ini.


Tampak struktur bangunan dalam gereja ini seperti era pada saat Romawi, terlihat ada banyak umat berdatangan di sini untuk beribadah.


Setelah beberapa langkah kami berjalan, akhirnya kami sampai di depan pintu sebuah ruangan.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Biarawati itu mengetuk beberapa kali pintu itu.


"Masuk!"


Terdengar suara dalam yang mempersilahkan masuk, lalu Biarawati itu membuka pintunya.


"Bapak..., tamu anda sudah datang."


"Mereka sudah datang ya, cepat suruh mereka masuk."


Biarawati itu langsung berbalik dan mempersilahkan kami memasuki ruangan ini, sesaat memasukinya biarawati itu menutup kembali pintunya dari luar.


"Syukurlah, puji Tuhan, aku sangat khawatir semalam, aku pikir kalian akan menolak permintaanku," ucap Moris dengan wajah sedikit lega.


Bapak Moris menyuruh kami duduk dan dia juga sedang menyiapkan sebuah minuman teh kepada kami juga.


"Apa anda bisa menceritakan awal mulanya benda-benda pribadi anda dicuri?" Tanyaku.


"Baik..."


Para jemaat berbondong-bondong datang ke gereja seraya memanjatkan doa dan rasa syukur mereka pada hari itu. Saat itu juga, Bapak Moris yang memimpin para jamaah dan khotbah di depan mereka semua.


"Setelah aku meninggalkan ruangan ini, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan aku langsung masuk mengecek ruangan ini," jelas Moris.


"Dan pada saat itu, anda kehilangan foto dan rekaman anda," ucap Fu.


"Iya, padahal aku sudah mengunci pintu ruangan ini, tapi kenapa bisa terbuka?"


"Anda tidak keberatan menunjukkan letak penyimpanan foto dan rekamannya?" Tanyaku.


Bapak Moris hanya mengangguk lalu berdiri dan menunjukkan letak benda itu di simpang.


"Aku menyimpannya di sini," sembari menarik salah satu laci meja itu. "Tapi, laci ini aku selalu kunci, karena ada banyak data keuangan dari hasil sumbangan sehingga aku selalu mengecek berkas itu setiap harinya."


"Kenapa barang pribadi sepenting itu diletakkan di sini?" Tanya Fu. "Kan bisa disimpang di rumah anda sendiri, itu jauh lebih aman."

__ADS_1


"Soal itu...," tampak dia ragu-ragu memberitahukannya. "Aku tinggal di sebuah desa yang jaraknya sangat jauh dari kota ini dan lagi, desa itu selalu rawan pencuri di mana-mana dan bahkan rumahku yang di sana beberapa kali dibobol oleh mereka. Jadi, kupikir lebih baik membawanya bersamaku sebelum dicuri di rumah itu, tapi tetap saja nasib sial menimpaku walau aku sudah berada di rumah Tuhan sekaligus."


Aku melihat ekspresi dia sangat sedih mengingat nasibnya itu.


"Kenapa kamu tidak menghapus atau menghilangkan benda itu selamanya dari muka bumi ini?" Tanyaku.


Seketika wajah terkejut terpampang dari wajahnya dan matanya terbelalak.


"Aku maunya begitu, tapi... kamu pasti mengerti karena sesama pria, kadang aku membutuhkan foto dan rekaman itu untuk hal 'Itu' jika sudah sendiri, walaupun aku terlihat bersih dari luar tapi aku juga tetap seorang pria yang membutuhkan namanya kebutuhan pemuas sendiri," jawab Moris dengan sedikit malu.


Aku dan Fu terkejut mendengarnya, sebab pria yang terlihat bersih dan dipuji banyak umatnya, tampak tidak jauh berbeda dengan orang pada umumnya. Jadi, pada akhirnya manusia tetaplah manusia, tidak ada yang bisa berdiri di satu sisi.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi, aku dengar anda meminta para jamaah untuk membantu para biarawati?" Tanyaku.


"Oh, kalau itu memang aku meminta diantara para jamaah untuk membantu para sister kami, untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk para jamaah yang lainnya," jawa Moris. "Tapi, dari mana anda tahu itu?"


"Aku punya teman, dia juga orang yang melakukan relawan itu," jawabku.


"Begitu ya."


"Tapi, ada satu yang membuatku bingung darinya, saat bertemu salah satu biarawati di sini. Katanya dia melihat seorang biarawati yang sangat cantik."


"Kalau soal standar kecantikan menurutmu kami di sini yaitu, selama mereka memiliki hati yang bersih dan mudah mengendalikan emosinya, itu sudah sangat cantik menurut kami."


"Soal itu aku sudah tahu, tapi menurut temanku ini, dia melihat biarawati itu seperti seorang model dengan wajah putih serta kulit mulus, dan tubuh ramping lalu memiliki tahilalat di kanan bawah mulutnya."


Pastor Moris terkejut mendengar dan mencoba mengingat ciri-ciri itu diantara para sister-nya.


"Kalau soal body mereka aku sulit mengingatnya, sebab mereka harus memakai pakaian yang selalu menutup aurat mereka. Tapi, soal wajah aku selalu mengingatnya, Tuan bilang bahwa dia memiliki tahilalat di kanan bawah mulutnya tapi diantara sister tidak ada yang memiliki tahila...," seketika wajah dia terkejut dan panik. "Mungkinkah dia pelakunya?!"


"Dokter, aku rasa pelakunya seorang wanita, sebab tidak ada yang bisa memainkan peran ini selain wanita saja, apalagi dia tahu betul ruangan ini dan letak benda itu," jelas Fu. "Apa mungkin diantara sister di sini ada yang membantunya?"


Seketika wajah terkejut terlihat jelas dari Moris.


"Tidak mungkin..! Aku tak pernah punya masalah dengan para sister di sini, kalaupun mereka bermasalah aku hanya selalu menasihati mereka dengan baik tanpa maksud menyakiti hatinya."

__ADS_1


"Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi yang dikatakan Fu bahwa ada campur tangan dari orang dalam sehingga pencuri itu tahu betul letak barang pribadimu itu," terangku. "Tapi, mustahil kan kamu mau menunjukkan aibmu pada mereka begitu saja."


__ADS_2