
"Karena buku ini banyak yang tidak suka, akhirnya penerbit ku hanya menerbitkan buku ini sedikit demi sedikit saja. Jujur saja, aku paling suka dengan kedua karyaku ini."
"Begitu ya, aku boleh mengambilnya?"
"Ambil saja, itu gratis kok. Sekalian itu rasa berterima kasihku karena sudah membantuku menyelesaikan kasus itu dan sudah ada tanda tanganku di dalamnya."
"Baiklah, aku akan pergi dari sini, terima kasih sudah meluangkan waktumu."
"Ya, terima kasih juga."
Miranda langsung berjalan ke arah pintu dan keluar lalu menutup kembali pintu.
Tlak...
"Fiuh*..., akhirnya selesai juga. Kalau diperhatikan... dia terlihat manis juga, apa saatnya aku harus segera menikah ya? Aku benar-benar tertinggal oleh teman-temanku dan bahkan Fu juga sudah menikah," sembari menghela napas."
•••
Di luar klinik...
Seorang gadis cantik dan anggun sedang berjalan dengan santai di luar sana.
"Hehe~, Dokter, ekspresi mu tadi benar-benar lucu tadi dan aku... semakin menyukainya kalau semakin diingat lagi~."
•••
•••
•••
"Maafkan aku... sayang..!"
Pria itu langsung mengangkat tangannya dan di tangannya ada sebuah senjata api, yang diarahkan ke seorang wanita cantik dengan gaun pengantin yang anggunnya.
Dor! Dor! Dor!
Seketika tiga timah panas mengenai wanita itu dan jatuh terkapar dengan bersimbah darah.
"Bodoh!! Apa yang kau lakukan, ha?!!"
Seorang pria besar berdiri tepat di hadapannya dan mencengkram kerah bajunya.
"Sederhana saja..., aku tak ingin istriku yang sangat kucintai dinodai olehmu."
Pria itu dengan tenangnya menjawab pria besar itu, pria besar itu semakin geram dan berkata:
"Dasar kamu bajingan..!! Hah?! Apa ini?"
Seketika tubuhnya terhenti dan tiba-tiba muncul makhluk hitam berterbangan di man-mana.
__ADS_1
"Bereskan mereka semua!"
"A-apa! Apa kamu bilang? Aaahh!!!"
Seketika pria besar itu terangkat tinggi-tinggi ke langit.
"Hok... A-Adit... thya..."
Makhluk semakin mencekik dirinya dan tampak mata pria besar itu memutih, dan...
Krak!
Lehernya langsung dipatahkan oleh makhluk hitam dan terlihat semua makhluk hitam itu, berterbangan di mana-mana dan membunuh semua orang yang ada di sini.
"Dengan ini... kesucian Wati terselamatkan," sembari memutar pandangan ke arah gadisnya. "Apa! Di mana dia?"
Dia sangat terkejut, sebab wanita itu menghilang di tempat dia bersimbah darah akibat luka tembakan.
Pria ini melihat jejak darah mengarah ke dalam hutan.
"Tidak... sayang!!"
Pria ini langsung berlari dan mengikuti jejak darah itu ke dalam hutan.
Sesaat berlari pria ini semakin panik dengan napas terengah-engah.
"Sayang! Kumohon... berhentilah! Kalau begini terus kamu akan..."
"Tidak... sayang!!"
Pria ini langsung menghampiri wanita yang terbaring di tanah basah dan langsung memegang tangan gadis ini yang tergantung di udara.
"Aahh... kumohon bangunlah... kumohon bangunlah sayang..."
Seketika wanita itu membuka matanya secara perlahan dan tampak tatapannya mulai tak hidup lagi.
"...Ka... mu..."
"Ya... ini aku... ini aku sayang..." ucap pria itu dengan penuh air mata. "Kumohon... bertahanlah... kumohon... dan maaf... maaf..."
Pria ini menangis dan semakin menangis, tangisannya tak tampak jelas di wajahnya, sebab hujan semakin deras yang membuat semuanya basah hingga menetes dan bercampur bersama air matanya jatuh di tanah.
"Bodohnya aku... sangatlah bodohnya! Seandainya aku memberitahu dia sedari awal mungkin hal ini tidak akan terjadi!"
"Adikku... mereka..."
"Mereka baik-baik saja, dan mereka berada di tempat yang aman." Jelas pria itu. "Kamu juga akan segera membaik... jadi, bertahanlah kumohon."
Bahkan harapan itu membuat gadis sekarat dalam kesendiriannya tersenyum dengan tulus.
__ADS_1
"Kenapa dia tersenyum? Apa karena mendengar adik-adiknya baik-baik saja, syukurlah keputusanku sangat tepat memberikan mereka obat tidur terus membawa mereka berdua di tempat aman."
"Kondisiku... aku tahu sendiri..." ucap gadis ini dengan suara lemah. "Sudah sampai sini... aku... tidak mungkin lagi..."
"...Maaf... seandainya aku... maaf...," dia menundukkan wajahnya sembari memegang tangan gadisnya ini, dia tak berani menatap wajah dia lagi. "Walaupun aku membawa dia dengan cepat, tapi dengan luka ini... sial!"
"Kamu... tidak perlu meminta maaf... aku... tidak akan memaafkan mu..." ucap gadis itu dengan suara lemah penuh ketajaman. "Terhadap kamu... masa lalu... sebanyak apa kepercayaan ku... sekarang... sebanyak itu pula kebencian ku..."
"Tapi... kalau kamu benar-benar ingin maaf dariku... berjanjilah padaku..." lanjut gadis itu. "Lindungilah adik-adikku... jagalah mereka..."
"Aku janji," sembari berpikir. "Aku tahu dia akan sangat membenciku, tapi... aku sendiri juga tak akan memaafkan diriku sendiri, padahal aku sudah menemukan kebahagiaanku sendiri dan pada akhirnya aku sendiri juga mengakhirinya dengan mengenaskan."
Jawaban tanpa ragu-ragu, jawaban penuh ketulusan dari hatinya.
"...Ingat janji itu... dan... ini adalah kutukan... kutukan bagimu juga..."
"Iya aku berjanji." Jawab pria itu. "Sekalipun harus mengorbankan jiwaku, aku pasti selalu menjaga mereka hingga akhir hayat ku. Aku janji."
Seolah meyakinkan dirinya pria itu mengulanginya lagi. Tekad turun bersama turunnya hujan, bahkan air di wajah itu entah air hujan atau air mata penuh penyesalan.
Hanya saja pemilik tangan yang dipegangnya telah terlelap di keabadiannya dan tak bersuara lagi.
"Hiks... kenapa... kenapa takdir begitu kejam terhadapku! Aku hanya ingin mencari kebahagiaanku sendiri, dan aku sudah menemukannya. Tapi, tapi kenapa... aku harus mengalami penderitaan ini lagi setelah dia tiada."
Pria itu menatap ke arah bulan dengan air mata terus mengalir ke pipi yang bercampur hujan.
"Jika kamu memberikan aku takdir yang kejam ini, maka... aku akan menentang takdirmu!" Sembari menatap gadis yang terbaring dingin di tanah basah. "Aku akan mengembalikan mu di pelukanku lagi, aku menghidupkan mu kembali dan menjalani kehidupan kita dengan normal lagi. Aku janji dan ini sumpahku juga padamu!"
•••
•••
•••
Sesaat di dalam sel penjara...
Terlihat seorang pria memakai pakaian narapidana berwarna jingga, pria itu tertidur dan tiba-tiba mata dia terbuka secara perlahan.
"Mimpi itu lagi, entah kenapa mimpi itu terus datang. Apa aku benar-benar melanggar janjiku sendiri atau ada memang yang aku lupakan?"
Seketika suasana terasa semakin dingin dan membuat bulu kuduk merinding dengan cepat.
Tak... Tak... Tak...
Terdengar suara langkah menuju ke arah pria yang sudah berada dalam sel, terlihat seseorang berdiri dengan tenang dengan seringai di seberang jeruji besi ini.
"Tak ku sangka, kamu datang menemui ku sendiri, Miranda."
"Yah... aku hanya ingin melihatmu terakhir kalinya dan kedatanganku kali ini, aku ingin membantumu~."
__ADS_1
"Membantu..., membantu apa! Terakhir kali kamu yang sendiri melanggar janjimu padaku dan mau tidak mau aku juga melakukannya."