
Tuan Thomas mengikuti tatapanku ke Dokter yang berbicara dengan Tina penuh keakraban, terlihat senyum langka di balik wajah datar pria ini.
"Orang yang penuh empati sangatlah langka, saat melihat kalian berdua sepertinya aku salah. Kalian memiliki hubungan yang sangat baik, jagalah itu dengan baik," ucap Edik dan langsung melanjutkan kembali langkahnya menuju lantai atas.
Setelah beberapa saat, terdengar bunyi telepon di villa ini dan Tina pergi mengangkatnya. Sesaat setelah telepon itu diangkat Dokter langsung memanggilku, dan kelihatannya ini sudah saatnya melaksanakan bagian ku.
"Ada apa Dokter?" Tanyaku
"Apa kamu bisa menemani Tina pergi menjemput Pak Bagas di stasiun?"
"Kenapa harus aku kamu kan yang paling ingin bertemu dengan Tuan Bagaskoro."
"Ayolah kamu yang paling kuat diantara kami. Apalagi ada para BWG diluar sana jadi soal kawal mengawal kamu yang paling pas disini."
"Kamu benar-benar tahu cara memanfaatkan orang ya Dokter, baiklah aku terima."
"Sekarang kamu jangan khawatir lagi seorang master yang akan mengawal kamu sekarang."
Tina menghela nafasnya lalu berkata:
"Terserah kamu, mohon bantuannya Tuan Chen."
"Tina sayang~. Apa kamu butuh pengawal lagi, dengan senang hati aku akan pergi denganmu~." Ucap Miranda sembari tersenyum.
"Tidak perlu, terima kasih!"
"Aku akan mengawal Tina. Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu saat aku tidak ada disini...."
"Serahkan saja dia padaku Tuan Chen. Jangan khawatir, aku akan menjaga dia dengan baik~."
"Kalian berdua ini... meski aku terlihat seperti ini, aku tidak selemah yang kalian kira. Aku telah banyak berlatih beladiri darimu Fu, jadi percayalah dengan sahabatmu ini."
"Hehe, Tuan Chen terlihat dingin dari diluar, tapi sebenarnya protektif juga ya, itu terlihat sangat menawan bagiku," terang Miranda.
"Aku rasa kamu salah paham Nona. Sebenarnya kalau dia mati walaupun kasus ini selesai aku hanya mendapatkan setengah bayarannya, dan dia juga memiliki banyak hutang dariku, jadi dia tidak boleh mati dengan cepat sebelum seluruh hutangnya lunas."
"Eh! Jadi selama ini kamu khawatir dengan itu."
Miranda tertawa mendengar pernyataan dariku.
"Ehem."
Tina tiba-tiba berdehem sembari mengangkat tangannya dan menunjukkan jamnya mengisyaratkan bahwa waktu sudah banyak terbuang dari obrolan kami.
Yang ku khawatirkan adalah wanita bernama Miranda Jasfi ini, sejak pertama kali bertemu aku sudah merasakan aura yang sangat gelap darinya dan kurasa itu sebuah ancaman. Sejak itu juga dia selalu nempel dengan Dokter seolah-olah sudah kenal lama, hanya saja pertemuan kami dengan dia suatu kebetulan atau kesengajaan yang sudah di rencanakan?
Satu hal yang pasti dia perlu di waspadai.
__ADS_1
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik!" Kataku.
Kami berdua langsung pergi dan menjemput sang Tuan rumah di stasiun kota ini.
•••
Pukul 19.25
Saat diperjalanan sebuah mobil dengan kecepatan sedang menuju arah stasiun kota diiringi guntur dan kilat serta derasnya hujan, membuat pandangan orang yang membawa mobil itu kesulitan.
"Aduhhh...!! Karena hujan begini aku kesulitan melihat!"
"Tenanglah Tina, kamu harus fokus pada jalan, karena hujan deras begini siapa yang tahu ada sesuatu dijalan yang kita tidak lihat."
"Iya aku tahu! Yang ku khawatirkan adalah mereka sudah sampai di stasiun dan para BWG sudah ada di sana juga!"
Yang dikatakannya masuk akal juga, kita tidak tahu kapan para BWG itu keluar dan mengintai setiap sudut kota ini.
"Hanya Tuan Bagaskoro saja kan yang kita jemput?" Tanyaku.
"Tidak, Dia tidak sendirian, dia bersama seseorang."
"Seseorang..., apa yang di maksud adiknya yang dikatakan oleh Tuan Thomas?"
"Tepat."
Selang beberapa menit menempuh perjalanan kami sudah di stasiun kereta di tiangnya bertuliskan "Selamat Datang di Stasiun Hall". Kami turun dari mobil dan mencari keberadaan Tuan Bagaskoro.
Saat dia mengatakan itu aku memerhatikan secara seksama stasiun ini, terlihat tempat ini penuh aura yang tidak mengenakkan di mataku. Semuanya terlihat aneh dan penuh kejanggalan.
"Bukankah ini terlalu sepi untuk dikatakan yang pertama," kataku.
"Pukul 18.00 tepat seluruh operasi dan aktivitas warga akan dihentikan ketika hari berdoa ini. Sedangkan kamu dan rekanmu itu menaiki kereta dengan jam operasi terakhir."
"Tapi Tuan Bagaskoro dia..."
"Pak Bagas mendapat hak khusus di kota ini, dia bebas menggunakan alat transportasi manapun."
Pengaruh yang luar biasa itulah yang ada di pikiranku.
Kami menelusuri setiap stasiun untuk menemukan Tuan Bagaskoro serta adiknya, akan tetapi kami tidak menemukan apapun.
"Apa Tuan Bagaskoro memberitahumu dimana dia tepatnya menunggu?"
"Saat kami berbicara lewat telepon dia bilang berada di Stasiun Hall, tapi tiba-tiba komunikasi putus saat ingin mengatakan sesuatu."
"Apa ada suara lain yang kamu dengar saat berbicara dengannya?"
__ADS_1
Seketika dahi Tina mengerut dan memegang dagu serta mengalihkan pandangan sebentar ke bawah. Terlihat dia sedang berusaha mengingat apa yang dia dengar dari telepon itu.
"Ada, tapi... hanya sekilas saja. Disitu aku dengar suara perempuan sedang berteriak sesaat komunikasi kami tiba-tiba terputus."
Setelah mengatakannya seketika tampak raut wajah kepanikan darinya.
"Mungkinkah... mereka...!"
"Sebaiknya kamu tenang dulu, mungkin mereka baik-baik saja dan berada tidak jauh dari sini."
Walau aku berkata seperti itu wajah kepanikannya belum memudar dia terus menggigit jarinya.
Aku menghela nafas dan berkata:
"Tidak ada cara lain ya... terpaksa menggunakan itu."
Aku maju beberapa langkah ke depan dan membungkuk lalu meletakkan satu tanganku di tanah yang basah.
"Hmm? Apa yang kamu lakukan?"
"Lihat dan perhatikan saja."
Angin yang berhembus
Di kala hari yang tenang
Angin yang terhempas
Di kala ada penghalang
"Menyebar-lah!"
Seketika angin bertiup dengan kencan disekitar stasiun Hall ini, di barengi derasnya hujan serta munculnya guntur dan kilat membuat terlihat seperti badai akan datang kapan saja.
"Eh! Apa yang... sebenarnya terjadi?! Kenapa cuacanya menjadi semakin buruk!"
Tina menampakkan ekspresi panik sedari tadi seketika ekspresi itu berubah menjadi kebingungan.
"Pria ini tidak bergeming sama sekali di cuaca buruk seperti ini," batin Tina.
Selang dua menit cuacanya kembali seperti semula dengan cuaca masih gerimis. Aku kembali berdiri dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan-nya dengan perlahan.
"Hei! Apa yang sebenarnya kau lakukan, kenapa tiba-tiba cuacanya menjadi ekstrim tadi?"
Aku tahu dia akan bertanya seperti itu, tapi aku tidak akan memberitahukannya karena ini salah satu kemampuan yang di wariskan turun temurun oleh keluargaku.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Itu... saat kau menunduk tadi tiba-tiba cuacanya berubah begitu saja! Dan kau hanya berdiam diri saja di sana saat cuaca sedang buruk tadi!"
"Yang kurasakan tadi hanya rintihan gerimis serta angin kecil yang dingin. Kalau cuacanya seburuk itu tadi seharusnya tubuhku sudah sangat basah kan, tapi lihat diriku sekarang...," ucapku sembari menunjukkan seluruh tubuh serta pakaian yang ku kenakan, hanya basah sedikit demi sedikit karena gerimis ini.