IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Akhir dari sebuah kisah (Part 1)


__ADS_3

05-05-2005


Seluruh penjuru media telah dihebohkan mengenai kebenaran yang terjadi pada kota "Lautan Api", semua orang pada terkejut mendengar berita ini sekaligus tak menyangka, bahwa dalang di balik pembantaian serta orang-orang yang hilang adalah seorang Dokter.


Adithya Bagaskoro dialah pelaku utama di balik insiden ini, dia kenal salah satu Dokter yang paling dermawan dan suka mendonasikan obat-obatan gratisnya.


Semua warga dari kota "Lautan Api" tak menyangka bahwa Dokter mereka telah ingin menyakiti mereka, sebab mereka tidak ingat sama sekali apa yang terjadi pada diri mereka.


Polisi setempat meminta seluruh keterangan ku yang sudah menyelidiki kasus ini, aku tidak memberitahukan kebenaran mengenai hal-hal supranatural, sebab hal itu akan sulit dipercaya.


Aku mengatakan pada mereka bahwa, semua orang di kota ini telah mengonsumsi semacam obat yang telah diberikan oleh Adithya dengan alibi sebagai obat penguat imun tubuh, tapi yang sebenarnya mereka diberikan obat psikedelik dengan efek halusinasi paling kuat.


Mereka bertanya lagi alasan Adithya melakukan pembunuhan ini, aku sudah bertanya pada Adithya mengenai apa yang harus aku beritahukan pada polisi nanti jika mereka bertanya mengenai alasan dia membunuh banyak orang.


•••


"Kamu hanya perlu mengatakan, bahwa aku telah melakukan perdagangan gelap dengan menjual organ tubuh manusia."


"Apa! Kamu ingin aku mengatakan itu?"


"Tentu saja, kamu tak ingin mereka mengetahui mengenai keganjilan ini, kan. Terutama ruang bawah tanah itu, hanya orang-orang seperti kita mengetahui hal-hal supranatural bukan orang biasa seperti mereka. Lagian, tidak ada bedanya tindakanku ini dengan menjual organ tubuh manusia."


•••


Setelah mendengar itu semuanya sangat masuk akal, dan untuk ruang bawah tanahnya, Fu dan seluruh anggota organisasinya yang akan mengurusnya.


Aku mengatakan pada mereka bahwa semua ini dilakukan dengan alasan perdagangan manusia serta penjualan organ tubuh manusia.


Polisi itu terkejut mendengarnya dan menerima semua ucapan ku ini, akhirnya Adithya dibawa di pengadilan negeri dan dihadiri banyak orang serta para reporter. Mereka tak menyangka bahwa Adithya orang yang dikenal sebagai Dokter dermawan, ternyata seorang iblis yang bersembunyi di balik topengnya.


Adithya tidak sendiri dibawa tapi dia bersama Edik, orang yang membantunya melakukan semua tindakan jahatnya, Tina yang melihat suaminya dibawa pihak berwenang menangis histeris dan tak sadarkan diri akibat stres berlebihan.


Aku meminta salah satu kenalanku yang mana dia seorang Dokter bidang, dia yang akan mengawasi dan merawat Tina sementara ini.


Saat mereka berdua dibawa ke pengadilan, terjadi keributan hebat dari para warga, mereka mencaci dan mengutuk tindakan mereka berdua.


Tak... Tak... Tak...

__ADS_1


Suara palu hakim memukul berapa kali...


"Harap tenang semua...," sembari melihat sekitar. "Saudara Adithya Bagaskoro, kamu telah melakukan kejahatan terbesar dan sulit dimaafkan di mata masyarakat dan hukum, hilangnya banyak nyawa orang serta memperdagangkan mereka juga dan dengan ini kamu telah terkena undang-undang pasal 297 dan 340, yang berbunyi mengenai pembunuhan yang telah direncanakan serta perdagangan manusia, dengan ini kamu telah dijatuhi pidana hukuman mati."


Tak... Tak... Tak...


Ketika beberapa kali palu hakim memukul, seketika semua orang di ruangan itu bersorak hebat dengan suara keras.


Tak... Tak... Tak...


"Semuanya harap tenang dulu..., kita akan melanjutkan ke saudara Edik Thomas," sembari menyusun berkasnya. "Karena saudara Edik telah menjadi kaki tangan sebuah kejahatan besar, maka dengan ini anda juga akan di pidana hukuman ma..."


"Tunggu dulu!"


Semua orang langsung tertuju ke suara orang yang teriak itu dan yaitu aku sendiri.


"Maaf mengganggu proses persidangannya," sembari maju ke depan dan dilihat oleh mereka semua. "Aku ingin mengajukan sesuatu, apa boleh, Yang mulia?"


"Silahkan Tuan, aku persilahkan."


Aku mengeluarkan sebuah recorder--sebuah perekam suara dan meminta seseorang untuk menyambungkan suara rekaman ini ke speaker.


Aku memutarnya agar semua orang mendengar percakapan mereka.


•••


"Tuan Bagaskoro dan Edik, bisa ikut aku sebentar?"


Mereka berdua hanya mengangguk saja dan mengikuti ku begitu saja.


"Dokter, kamu mau ke mana?" Tanya Fu.


"Jangan khawatir Fu, aku hanya ingin ngobrol sebentar dengan mereka."


Aku pun berjalan menuju salah satu kamar kosong villa ini.


"Kurasa di sini cukup. Aku meminta kalian melakukan sesuatu dan mungkin ini juga sangat memberatkan mu, Tuan," ucapku sembari menatap Adithya.

__ADS_1


"Begitu ya, aku mengerti, kamu melakukan ini untuk membantu Edik, kan," terang Adithya.


Edik terkejut mendengar itu.


"Tidak, aku tidak melakukan ini untuknya, tapi aku melakukan ini untuk Tina, sekarang dia hamil dan bisa saja terjadi apa-apa pada calon anaknya ketika stres berlebihan."


"Terima kasih, Ray," balas Edik sembari tersenyum.


Aku tahu itu senyum tulus, dan dia sangat menantikan kehadiran calon buah hatinya.


"Sekarang aku ingin kalian melakukan sandiwara di sini," kataku sembari meletakkan alat perekam suara.


Mereka berdua melihatnya dengan seksama dan mengerti apa yang aku maksud.


"Ray, kalau kita melakukan ini..., maka hanya memperburuk keadaan, Pak Bagas," jelas Edik.


"Ya aku tahu, cuma ini yang bisa kulakukan," kataku.


"Jangan khawatir, Edik. Lagian, seluruh kejahatan ku akan terungkap dan mungkin aku akan dijatuhi hukuman mati, dengan sandiwara ini juga bisa sangat membantumu."


Edik terlihat sedih, padahal dia salah satu korban di sini dan kenapa dia harus merasa kasihan pada orang yang mencoba menyakitinya beserta orang tersayangnya.


"Padahal bapak, sudah melakukan banyak hal, bapak sudah melakukan banyak kebaikan, orang-orang di luar sana pasti sangat berterima kasih pada bapak, sebab anda telah membantu mereka selama ini..."


Aku terkejut mendengar fakta ini, bahwa Adithya selama ini melakukan kegiatan amal di mana-mana seperti membantu anak yatim piatu di panti asuhan dan menyekolahkan mereka hingga mereka kuliah.


Membantu orang-orang kesusahan dan menampung mereka di rumah khusus yang dibangun untuk mereka, agar siap bekerja dengan pekerjaan yang diberikan oleh Adithya.


Serta melakukan berbagai sumbangan amal berupa lahan, rumah dan berbagai macam.


"Kamu gak usah bersedih, lagian tindakanku ini jauh melebihi semua tindakan baikku itu."


"Baiklah, kalian sudah siap?" Tanyaku. "Edik, sebaiknya kamu menunjukkan suara dengan nada marah dan kesal, serta Tuan Bagaskoro harus melakukan sebuah ancaman kepadanya."


•••


Semua orang yang di ruang sidang sangat terkejut mendengarnya, sebab terdengar percakapan dua orang dari rekaman itu. Dari rekaman itu terdengar Adithya melakukan sebuah ancaman berupa seluruh keluarganya beserta istrinya akan dalam bahaya, dan Edik terdengar sangat marah dari rekaman itu dan terpaksa harus menyetujui semua keinginan Adithya karena terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2