IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Pemimpin (Part 1)


__ADS_3

"Akhirnya... kamu... berhenti juga, heh... heh... lari mu cepat juga ya. Kamu sedang lihat apa?" Ucap Tina yang mengejar ku.


Aku menunjuk sesuatu yang di atas rumah itu.


"A-apa itu?!"


Aku tahu pasti dia terkejut aku pun demikian, seseorang dengan tinggi kisaran 122 cm berdiri di atas sana sedang memandang kami, aku merasa dia tertawa melihat kami disini.


"Tina, apa itu salah satu bentuk BWG?" Tanyaku.


"Aku tidak tahu," jawab Tina. "Informasi mengenai mereka sangatlah minim, jadi kami tidak tahu kalau mereka sudah bisa bertranformasi."


Begitu ya... dia tidak seperti para BWG umumnya atau mungkin dia tidak termasuk dari mereka? Sosoknya menyerupai Iblis Imp, dengan seluruh tubuhnya berwarna hitam serta mata merah darah dan semua giginya bertaring.


Makhluk itu cekikikan lalu mengangkat sebuah benda kecil persegi panjang yang bercahaya.


"Tu-tunggu itukan!" Seketika raut wajah Tina terlihat syok seolah-olah dia melihat sesuatu yang tidak asing baginya.


"Apa kamu mengetahui benda di tangannya itu?" Tanyaku.


"Itu adalah... Handphone milik Pak Bagas." Jawab Tina.


"Apa!"


Driiinngg.... Driiinngg...


Seketika suara Handphone Tina berbunyi dan mengangkatnya...


"Kikiki... kikiki..."


Seketika wajahnya Tina memerah dan mengeluarkan sebuah pistol di tas kecilnya.


"IBLIS SIALAN...!!," DOR DOR DOR. "Kemari sini kau..." DOR DOR DOR.


Makhluk itu kabur dengan cepat diantara rumah-rumah, lalu Tina mengejar makhluk itu sembari menembaknya terus menerus.


"Tina! Tenangkan dirimu," kataku sembari mengejarnya yang dalam keadaan penuh emosi.


Makhluk itu tiba-tiba mengeluarkan suara yang sangat keras dan melengking, sontak kami berdua menutup telinga kami tapi suara itu tetap terdengar, dan suara itu juga membuat kami hampir pingsan.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku yang sedang lagi memegang kepala karena pusing.


"Maaf... kamu bilang apa, aku kesulitan mendengar mu," kata Tina yang sedang melihatku berusaha berdiri.


Selang beberapa detik pendengaran kami mulai normal kembali hanya saja...


"Chen! Di atas mu!"


Karena sinyal daruratnya aku berhasil menghindari sesuatu dari atas dan ternyata itu adalah BWG yang membawa palu raksasa.


"Aku rasa teriakan makhluk kecil itu memanggil mereka kesini," kataku sembari mengarahkan seluruh pandangan dari berbagai arah mata angin.


Serasa tenaga sudah kembali Tina bangkit dan menyiapkan pistolnya untuk melawan mereka.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku.


"Jangan khawatir, sekarang aku bisa melawan mereka," ucap Tina sembari mengambil ancang-ancang. "Apa ini hanya perasaanku saja atau memang mereka sebanyak ini?"


"Ini bukan perasaanmu saja, tapi mereka memang sebanyak ini dan malah semakin bertambah."


"Kikiki....hoarrrhhh..." teriakan yang sangat keras membuat para BWG bergerak secara serentak.


"Bersiaplah mereka datang!" Kataku.

__ADS_1


DOR DOR DOR


Tiga berhasil ditumbangkan dari tembakan Tina.


Petir yang menghantam bumi


Angin yang melewati segalanya.


Api yang membakar segalanya


Air yang berombak menghanyutkan yang ada didepannya.


"Kecepatan dan kekuatan!"


Dalam sekejap aku berhasil menjatuhkan beberapa dari mereka dengan tenagaku sekarang ini belum cukup mengalahkan mereka semua. Sudah ada 7 kami berhasil bunuh akan tetapi jumlah mereka semakin banyak.


"Hoaarrrhhh..." teriakan dari makhluk hitam kecil itu membuat para Black Wind Ghost berhenti menyerang kami.


"Kenapa mereka berhenti!" Kata Tina. "Apa bajingan kecil itu memanggil yang lebih kuat?"


"Aku juga tidak mengerti kenapa makhluk itu membuat mereka berhenti," jawabku. "Satu hal yang bisa dipastikan mungkin Iblis kecil ini pemimpin mereka."


"Kenapa mereka..." kaget Tina saat melihat para BWG pergi meninggalkan kami begitu saja.


Makhluk kecil hitam itu melayang di atas kami dengan kedua sayapnya lalu pergi juga saat teriakannya barusan.


"Muncul dari mana mereka sebanyak ini?!" Tanya Tina dengan sangat kesal. "Lalu bajingan kecil itu dari tadi sudah membuatku kesal!"


"Sebaiknya kamu tenangkan dirimu dahulu," kataku. "Kita hampir saja dibunuh oleh mereka ditambah lagi kepalaku rasanya mau pecah."


"Kota ini benar-benar sudah seperti kota hantu," kata Tina. "Semenjak kemunculan makhluk-makhluk ini membuat semuanya jadi kacau sampai sekarang."


"Sudah ada keributan dimana-mana, tapi aku tidak merasakan sedikitpun kehidupan diantara rumah-rumah ini?" Tanyaku.


"Jadi militer disini masih beroperasi ya," lontar-ku.


"Tentu saja," balas Tina. "Karena ini perintah langsung dari pemerintah setempat mengungsikan separuh warga itu dilakukan untuk minimalisir korban yang akan jatuh, apalagi tidak ada cara membunuh mereka."


"Tapi... peluru mu itu seharusnya..."


"Soal ini kata Pak Bagas cuma asistennya yang tahu, tapi sayangnya Pina salah satu korban sekarang," jelas Tina.


Sebenarnya aku tahu kenapa Tuan Bagaskoro berbohong ke Tina, karena setiap mantra ditanamkan ke peluru ini banyak menguras tenaga. Jadi sebaiknya aku tutup mulut mengenai ini karena orang-orang seperti kami akan selalu tersembunyi dari mata publik.


KYAAAHHH!!!


Seketika terdengar teriakan seseorang dan itu membuat kami terkejut, tanpa pikir panjang aku dan Tina bergegas menuju sumber suara itu...


DOR DOR DOR


Terdengar suara tembakan dari sumber yang sama...


"Itu kan... mereka!" Kata Tina.


Dengan cepat aku langsung menghampiri mereka...


"Kak Adit... hiks... tanganmu..."


"Tetaplah dibelakang ku."


"Tapi gara-gara aku... hiks... kamu terluka..."


BUK...

__ADS_1


BWG yang ada dihadapan mereka seketika terlempar sangat jauh.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanyaku.


"Terima kasih, kami tidak apa-apa."


Walaupun dia berkata begitu tapi tangan kirinya terluka dia butuh pertolongan pertama cepat.


"Siti!"


"Ibu Tina...!" Gadis muda ini langsung memeluk Tina dan menangis dengan kencang, Tina berusaha menenangkannya.


"Kamu tidak apa-apakan? Apa ada yang terluka?" Tanya Tina dengan khawatir ke Siti.


"Aku tidak apa-apa tapi... Kak Adit terluka," kata Siti.


Tina melirik pria terluka ini dan segera mengeluarkan beberapa obat dan perban.


"Kemari kan sini cepat tanganmu!" Kata Tina lalu melakukan pertolongan pertama dengan cepat.


Disisi lain para BWG sudah berkumpul, tapi aku tidak melihat makhluk hitam kecil itu dimana makhluk ini yang memanggil para BWG, sekarang ia menghilang kemana?


"Sebaiknya kita harus bergegas mereka akan berkumpul disini," kataku.


Tanpa berpikir panjang mereka bertiga langsung bergegas berlari menjauh dari sini...


"Hei! Kenapa kamu diam saja disitu," kata Tina.


"Kalian duluan saja," kataku. "Aku akan menjaga dari belakang."


Mereka bertiga langsung berlari dan tak menoleh kebelakang sedikitpun. Disisi lain para BWG malah menargetkan mereka akan tetapi...


BUK...


Beberapa dari mereka terlempar sangat jauh akibat dari pukulan yang ku lontarkan ke mereka.


"Di mata kalian aku ini bukan manusia, hah!"


Mereka semua langsung menyerbuku, walau fisik kuat tapi tenagaku sudah terkuras banyak akibat melawan mereka sebelumnya.


"Sial! Kalau begini terus aku yang akan mati."


Dalam keadaan terdesak aku teringat sebuah mantra yang sangat kuat kata kakekku mantra ini adalah mantra kuno, mantra yang sering dipakai leluhur kami. Tapi mantra ini hanya bisa digunakan oleh orang yang memiliki hati yang kuat, hati yang teguh menolong orang-orang.


"Mau bagaimana lagi, aku harus menggunakannya kalau tidak berhasil nyawaku taruhannya."


Aku mulai merapal kan mantra:


Ficar ael sig itrat u awau ete anim mes


Ficar flane vnti ene corl mu qud ripu


O qod Eurus, ngem hid eo


(Setiap udara yang masuk ke tubuhku adalah jiwaku)


(Setiap hembusan udara menerpa tubuhku adalah hidupku)


(Wahai sang dewi angin, mohon tuntunlah aku)


"Rasanya tubuhku jadi ringan, bersiaplah kalian semua!"


•••

__ADS_1


__ADS_2