IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Kebenaran (Part 1)


__ADS_3

Kami semua bergegas ke bagasi mobil dan ternyata, kami dikejutkan saat datang di sana.


"Apa! Mobilnya..."


"Aku tak menyangka, dia sampai segitunya tak ingin dikejar," kataku.


Mobil-mobil yang kami ingin kendarai ternyata telah dihancurkan oleh Adithya.


"Apa ada kendaraan lain bisa dipakai?" Tanya.


"Tidak ada, cuma mobil ini kendaraan kita punya," jawab Edik.


"Kalau kita terlambat, maka kak Adit akan membawa Iwan sejauh mungkin," ucap Siti.


Kami semua berpikir bagaimana mengejar mereka dan pergi arah mana Adithya membawa Iwan dan semua makhluk eksperimennya itu.


"Aku pikir Adithya tidak akan bisa menjauh dari kota ini," ucap Miranda.


"Apa maksudmu?" Tanyaku. "Apa ada tempat lain yang dituju olehnya di kota ini?"


"Ya, saat itu Adithya pernah membawaku ke tempat pembuatan obatnya," jawab Miranda.


"Sekarang tempat itu ada di mana?" Tanyaku lagi.


"Kalian tahu air mancur yang ada di tengah kota kan, di situ ada sebuah toko bunga yang mana sekaligus laboratorium pembuatan obatnya," jawab Miranda.


"Berarti... kita harus menuju ke sana dan memakan waktu 10 menit lebih karena jaraknya sangat jauh dari sini, dan jaraknya sangat dekat dengan stasiun yang kita datangi sebelumnya," ucap Fu.


Yang dikatakan Fu benar, air mancur di tengah kota berdekatan dengan stasiun saat kita datang ke kota ini, berarti kita harus berlari cukup jauh ke sana.


"Tidak ada jalan lain, kita harus bergegas ke sana sembari menghadapi para BWG itu," kataku. "Aku tidak yakin apa kalian sanggup?"


Kataku sembari menatap dua orang gadis kecil ini.


"Jangan khawatir, Tuan, kami sangat sanggup," ucap Siti.


"Hm," lanjut Sarah sembari mengangguk saja.


"Baiklah kalau begitu, kita harus bergegas sebelum Adithya menghilang lagi," ucapku.


Kami pun berlari menuju ke sana sesuai apa yang diucap oleh Miranda.


•••


•••


Di sisi lain...


"Padahal tinggal selangkah lagi jika wanita licik itu tidak mengacaukannya, mungkin sudah berhasil sedari tadi."


Seorang pria berada di sebuah ruangan yang tampak penuh dengan peralatan laboratorium.


"Grrgh..."


"Ada apa? Apa mereka sudah datang?"


Makhluk aneh itu hanya mengangguk saja dan pria ini mengerti apa yang dimaksudnya.


"Aku tak ingin mereka mengacau lagi, kalian bertujuh keluarlah dan sambut mereka, sedangkan kalian berdua tetaplah di sini."


Ketujuh makhluk eksperimennya ini langsung pergi dan meninggalkan pria ini.

__ADS_1


"Persiapan sudah siap semuanya, tinggal sekarang aku butuh wanita dengan jiwa keibuan yang kuat serta orang dengan energi spiritual yang seimbang."


•••


•••


Saat di luar...


Terlihat lima orang dewasa dan dua orang gadis kecil, yang terlihat sangat lelah.


"Kalian... apa kalian ada yang terluka?" Tanya Tina.


"Hm," dua gadis kecil ini menggelengkan kepalanya.


"Jangan khawatir, semuanya tidak ada yang terluka," kataku.


Kami sangat kesulitan saat menuju kemari sebab seperti yang kami duga, bahwa para BWG itu bermunculan dan menghadapi kami, dan untung saja ada Fu dan Miranda yang sangat lihai bertarung sehingga kami berhasil ke sini dengan cepat.


Kami pun berjalan menuju air mancur di tengah kota itu, terlihat ada banyak toko-toko yang sedang tutup.


"Itu dia tokonya," tunjuk Miranda.


"Itu ya... kalau begitu kita harus menangkap dia," kataku.


Kami langsung berlari ke toko bunga itu, sesaat menuju ke sana, seketika muncul sesuatu dari atas dan melompat ke arah kami.


"Semuanya awas!!" Teriak Fu.


Bur...


Berkat teriakan Fu, tepat waktu kami berhenti sebelum makhluk-makhluk itu menyerang kami.


Terlihat ada tujuh makhluk aneh dengan bentuk aneh nya juga dengan berbagai tubuh hewan dan manusia, disatukan menjadi satu dan sebutan cocok untuk makhluk aneh itu yaitu Chimera.


"Cih, kita harus menghadapi mereka," kataku.


Edik dan Tina membawa Sarah dan Siti menjauh sejauh mungkin dari sini, aku, Fu dan Miranda bersiap menghadapi mereka.


"Hoarrghh..."


Salah satu dari mereka maju dan langsung menyerang ke arah kami.


Aku langsung mengarahkan pistol ku ke arahnya...


Dor! Dor! Dor!


Beberapa tembakan beruntung dariku sehingga membuat makhluk aneh itu berhenti, ini berkat peluru yang sudah diberi mantra spiritual oleh Fu.


Sedangkan Fu sibuk menghadapi dua makhluk aneh itu dan Miranda, berada di dekat Tina dan yang lainnya untuk menjaga keamanan mereka.


Miranda terlihat menghadapi tiga makhluk eksperiment itu sekaligus.


"Aku harus membantu dia..."


Saat ingin ke sana, tiba-tiba salah satu dari mereka muncul di hadapanku.


"Sial! Jangan lagi!"


Dor! Dor! Dor!


Makhluk aneh itu berhasil menghindari semua tembakan ku.

__ADS_1


"Oh tidak, peluruku..."


Karena tidak sempat mengisi ulang, makhluk sudah ada tepat di hadapanku dan...


Crek!


Seketika kepalanya hancur, aku langsung melirik ke kiri yang ternyata itu ulah dari Fu, dia melempar sesuatu sehingga menghancurkan kepala makhluk ini. Tampak dia berhasil membantai dua makhluk lainnya dan dia langsung menghampiriku.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Fu.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawabku. "Oh iya, aku harus membantu Miranda..."


"Tidak usah..." sembari menahan pundak ku. "Lihat saja dia."


Aku bingung kenapa dia menghentikan ku, terlihat Miranda sangat lihai menghadapi ketiga makhluk aneh itu sekaligus, sembari melempari sesuatu ke arahnya.


"Terlihat dia melempar sesuatu, apa itu?" Tanyaku.


"Jarum," jawab Fu.


"Jarum!"


Aku melihat Miranda seketika terdiam dan mengangkat satu tangannya lalu menjentikkan jarinya.


Tlak!


"Haarrhh...!!!"


"Apa!"


Seketika ketiga makhluk itu terbakar dengan api kebiruan, karena hal ini sudah biasa aku lihat maka aku tidak terlalu terkejut.


"Aku tak menyangka, Miranda, bisa menggunakan semacam mantra juga," ucapku.


"Tentu saja, sudah dari awal aku mengetahuinya," ucap Fu.


Jadi ini alasan Fu mengatakan kepadaku untuk berhati-hati dengan Miranda, terlihat ketiga makhluk aneh itu terbakar habis dan menjadi abu.


"Harrrh..."


Aku dan Fu berbalik yang ternyata makhluk eksperimen yang aku tembak sebelumnya masih bergerak.


"Oh, jadi tinggal satu lagi ya..."


Fu maju ke makhluk aneh itu dan...


Crak!


Seketika kepalanya hancur akibat injakan darinya. Aku tak perlu kaget lagi, sebab aku sudah melihat dia bersikap begini semenjak menghadapi makhluk-makhluk hal semacam ini, sejak kami menerima kasus aneh.


Terlihat semuanya sudah beres di sini kami langsung mau menuju ke toko itu.


Tapi, terlihat sesosok pria yang selama ini kami kejar dan sekarang menampakkan dirinya.


"Wah, wah, ternyata kalian berhasil mengalahkan semua makhluk buatanku ya," ucap Adithya.


"Kak Adit, tolong kembalikan Iwan... Kakakku pasti sedih melihat ini," ucap Siti diiringi dengan air mata.


"Woi! Dokter gila, apa kamu tega melakukan eksperiment terhadap keluargamu sendiri!" Ucap Tina dengan nada kesal.


Adithya hanya terdiam beberapa saat dan akhirnya dia buka suara:

__ADS_1


__ADS_2