IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
EX. Pastor panik (Part 2)


__ADS_3

"Kalau boleh tahu, 'benda' apa yang kamu maksud?"


"Benda itu... adalah beberapa foto dan satu kaset rekamanku, isi semua gambarnya adalah diriku yang lagi di masa kelam, diriku yang maniak dengan hal-hal maksiat. Tapi itu dulu! Sekarang aku sudah tobat sepenuhnya, jika pencuri itu menyebarkannya di publik bisa-bisa reputasiku tercemar."


"Begita ya, aku mengerti, aku akan memberitahukan semuanya pada Dokter, anda tidak perlu khawatir dengan masalah anda bocor kepada orang lain, kami selalu menjaga ketat informasi klien kami."


"Baiklah, terima kasih, mohon bantuannya ya, kutunggu kabar baiknya! Setelah masalah ini selesai, usaha kalian akan dihargai pembayaran yang setimpal dan pelayanan dariku yang setulus hati."


Pria kacamata itu hanya mengangguk saja dan sang pastot pamit, lalu berjalan menuju pintu keluar ruangan ini.


"Kelihatannya kasus ini akan sangat aneh jadinya," sembari mengambil surat itu. "Kurasa juga, Dokter, tidak akan menolak permintaan ini."


•••


Pukul 20.49


Seorang pria dengan jas putih panjang tidak lain adalah seorang Dokter, dia berjalan ke sebuah ruangan di kliniknya, sesaat sampai di sana dan membuka pintunya.


"Heh!"


Dia terkejut melihat seseorang sudah ada dalam di ruangan itu, tampak seorang pria dengan kacamata duduk dengan santai sambil membaca sebuah koran, dan meminum sesuatu.


"Ah, akhirnya kamu selesai juga, aku menunggumu cukup lama di sini," sembari meletakkan korannya di meja.


"Fu! Aku pikir kamu sudah kembali ke Tiongkok. Awalnya aku tidak percaya yang dikatakan Santi, bahwa kamu ada di sini."


"Sebenarnya aku pulang kemarin, tapi istriku menghubungi tepat pada saat itu, katanya dia ingin datang ke sini memastikan buku itu dan sekalian juga dia ingin jalan-jalan di sini, mumpung ada kesempatan libur katanya."


"Istrimu tahu cara mengambil kesempatan dengan baik ya, tapi di mana buku itu sekarang?"


"Buku itu masih dijaga ketat oleh orang-orangku, jadi aku tidak khawatir untuk sementara ini."


Dokter itu duduk di sebelah temannya dan mengambil teko berisikan teh herbal, lalu menuangkannya di sebuah gelas kaca.


Srup...


"Hah*...," hela napas. "Seperti biasa teh ini bikin tenang, tolong kirim lebih banyak teh semacam ini kepadaku, soalnya persediannya mau habis."


"Aku akan mengirimkannya, kalau sudah kembali," sembari meminum segelas teh.


"Hm?"


Dokter itu melihat sebuah surat dan mengambilnya.


"Surat apa ini?"


"Oh itu," sembari meletakkan gelasnya. "Itu surat dari klien-mu."

__ADS_1


"Klien? Oh! Jadi orang yang dimaksud Santi," sembari membaca isi surat itu.


Kepada Pastor yang akan datang:


...Tak kusangka kamu memiliki penampilan yang mengejutkan ini, dan aku sangat khawatir bahwa ini tidak akan diterima banyak orang saat ini. Jika ini tersebar ke publik, tentunya akan berdampak buruk pada reputasimu....


...Aku harap kamu akan membayar jumlah yang setimpal dalam waktu tiga hari agar foto dan rekamanmu ini akan menghilang selamanya dalam bayang-bayang kegelapan. Pertimbangkan baik-baik tawaranku, aku berdoa dengan tulus untuk kesejahteraanmu....


^^^M.J^^^


Dokter itu membaca semuanya dengan seksama.


"Bagaimana menurutmu? Apa kamu ingin menerima permintaannya?"


"Hmm," sembari meminum segelas teh. "Pertama-tama yaitu... aneh dan janggal."


"Sudah kuduga kamu akan berkata begitu."


"Keanehannya adalah ada pada surat ancaman dari pencuri ini, kenapa dia harus memberitahukan tindakannya kepada pastor itu, apakah dia benar-benar menginginkan sesuatu dari pastor itu? Maka jawaban pertanyaan pertama itu ada di pertanyaan kedua..."


"Apa itu?"


Dokter meminum tehnya lalu melanjutkan kembali penjelasannya:


"Kenapa pastor itu repot-repot mau menungguku hanya sebuah kasus pencemaran nama baik, yang mana kasus ini bisa ditangani oleh polisi, kenapa dia mau hanya melaporkan masalah ini kepada kita saja yang mana hanya seorang detektif biasa saja? Jawabannya hanya ada satu..."


"Jawabannya ada pastor itu sekaligus yang ada di belakang pastor itu," sembari meminum teh.


"Bagaimana kamu yakin bahwa pastor itu memiliki sebuah rahasia?"


"Jawabannya sederhana, yaitu ada pada surat ancaman ini. Pencuri itu sudah mengetahui sesuatu dari pastor itu dan ia curi mungkin memang sebuah foto dan rekaman, tapi bukan isi dari pastor itu melainkan sebuah hal lain yang benar-benar bisa menghancurkan hati banyak orang. Jika itu benar-benar gambar dan video maksiat dia, maka pastor itu tidak perlu terlalu khawatir sebab pencemaran nama baik melalui sebuah gambar file bisa dimanipulasi oleh orang kebanyakan, bisa editan atau pastor itu bisa memberikan penjelasan masuk akal apalagi dia seorang pengkhotbah yang bisa menyakinkan para umatnya, bahwa setiap manusia memiliki masa kelam yang sesat."


"Masuk akal sekali, Dokter. Jadi, kamu akan menerima permintaan dia?"


"Kurasa kasus ini sudah terlalu dalam untuk diselidiki, jika semakin dalam maka hanya ada kegelapan dan kegelapan itu menyimpan banyak misteri. Jadi, menurutku kita harus menerima permintaannya sekaligus kita akan menyelidiki kebenaran yang tersembunyi ini."


"Sudah kuduga kamu akan berkata begitu. Tapi, bukankah ini akan melenceng dari permintaan klien?"


"Jangan khawatir, Fu. Kita hanya perlu mencari tahu saja, apakah ini menyimpang dari masyarakat atau tidak. Jika, benar-benar ada tak beres dari ini, maka kita bisa serahkan sisanya pada polisi nanti."


Sesaat berbincang-bincang mereka berdua menikmati waktu santai mereka sembari meminum teh herbal.


Tok... Tok... Tok...


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk," balas Dokter itu.

__ADS_1


"Permisi, Dokter."


Seorang wanita dengan pakaian suster memasuki ruangan.


"Hah, Santi, aku pikir kamu sudah pulang?"


"Sebenarnya aku mau pulang langsung, tapi aku melihat ada banyak berkas keluhan pasien yang harus Dokter lihat," sembari memberikan berkas itu.


"Oh, begitu ya," sembari mengambil berkas itu. "Lalu, kenapa kamu hanya diam di sini, kamu bisa pulang sekarang."


"Alasan aku masih ada di sini karena penasaran apa yang Dokter akan lakukan dengan kasus dari Pastor itu."


"Jangan khawatir, kami masih mempertimbangkannya."


"Begitu ya," balas Santi. "Tapi, kalau Dokter, tiba-tiba pergi menangani sebuah kasus maka klinik akan tutup besok, dan para pasien akan datang besok secara tiba-tiba karena tidak ada kejelasan dari Dokter, itu bisa membuat mereka bingung nantinya."


"Yang dikatakannya benar, kamu harus membuta keputusan dengan cepat," ucap Fu.


Dokter itu hanya diam sembari menatap surat yang dipegangnya.


"Benar-benar merepotkan juga ya," sembari menghela napas beratnya. "Baiklah, aku akan tutup klinik ini selama tiga hari dan Santi hubungi setiap keluarga pasien untuk pergi ke rumah sakit sebagai pemeriksaan lanjutan mereka, aku akan menghubungi temanku di sana untuk mengurus sementara pasienku ini."


Suster itu hanya mengangguk dan dia berbalik siap meninggalkan mereka, tapi langkahnya terhenti tiba-tiba karena teringat sesuatu.


"Oh iya, Dokter, tiba-tiba aku ingat siapa Pastor itu, dia orang yang khotbah saat orang-orang ramai mendatangi gereja dan salah satunya aku ada di sana juga."


Seketika Dokter itu sedikit terkejut dan minumannya hampir tumpah akibat kaget.


"Lalu apa yang kamu lakukan di sana setelahnya?" Tanya Dokter itu dengan mata tajam.


"Yang kulakukan di sana hanyalah ibadah yang biasa dilakukan. Hah! Aku juga seorang sukarelawan di sana juga."


"Sukarelawan? Kegiatan apa yang kamu lakukan saat di sana?" Tanya Fu.


"Aku mengajukan diri karena melihat para kakak Biarawati itu kesulitan mengurus para jemaat saat itu. Jadi, aku bertanya salah satu dari kakak Biarawati di sana dan aku sangat terkejut saat melihat kakak Biarawati yang aku temui saat itu," jawab Santi.


"Memangnya apa yang terjadi pada Biarawati itu?" Tanya Dokter.


"Aku terkejut karena bukan takut padanya, tapi aku sangat terkejut sekaligus terpesona melihatnya. Sebab wajah dia sangat cantik seperti model yang sering kulihat, aku pikir dia juga seorang relawan sepertiku karena aku tak pernah melihat dia di sekitar gereja itu."


Seketika Dokter itu terdiam tanpa suara sedikit pun.


"Aku rasa kamu menyadari sesuatu," kata Fu.


"Begitulah, besok kita harus mengunjungi gereja itu untuk melihat semuanya secara langsung."


Pria kacamata itu hanya meresponnya dengan menaikkan kedua bahunya secara bersamaan, dan Santi permisi kepada mereka berdua lalu pulang.

__ADS_1


__ADS_2