
"KYAA!!! TIDAK...! Tidak mungkin, Bibi Jasmi sudah...," ucap Siti yang tidak menyelesaikan kata-katanya langsung memalingkan wajahnya dan tubuhnya gemetaran.
"Coba dipastikan dulu," ucap Adithya sembari mencoba menenangkan Siti.
Aku dan Fu segera mendekat ke Jasmin yang sedang terbaring di sana, aku membungkuk untuk memeriksa tanda-tanda vitalnya.
"Dia sudah meninggal," kataku.
Saat mendengar perkataan ku itu semuanya langsung pucat dan Rama tambah histeris dia mencoba membenturkan kepalanya di dinding, akan tetapi Adithya langsung menghampiri dirinya dan mencegah melakukan tindakan sembrono itu.
"Rama...! Tenangkan dirimu, Rama!"
"AAAA...!!! JASMIN...!!! KENAPA!!! KENAPA INI HARUS TERJADI KEPADAKU!!! KENAPA...!!! Putriku sedang diculik dan sekarang Istriku sudah tiada, kenapa ini harus terjadi... kenapa ini harus terjadi kepadaku, wahai Tuhan!!!"
Saat ini, Tina dan Edik kembali mereka berdua bergegas kemari karena mendengar teriakan dari dalam.
"Apa yang sedang terjadi!" Kata Edik.
"Tidak mungkin! Itu... itu Jasmin kan?!" Saat mengatakannya Tina tiba-tiba merasa lemas dia hampir pingsan, Edik yang melihat keadaan Tina dia langsung membawanya duduk di sofa.
"Kamu baik-baik saja, sayang?" Tanya Edik yang merasa khawatir.
"Aku baik-baik saja. Hey murung, jelaskan semuanya."
"Kamu yakin baik-baik saja, kamu terlihat sangat pucat." Kataku.
"Aku baik-baik saja, bodoh. Aku hanya sangat khawatir saja, melihat anak-anak polos terlibat dalam situasi gelap dan kejam seperti ini apalagi saat melihat orangtuanya sudah tidak ada di sisinya. Aku tidak bisa membayangkan wajah Sarah saat melihat Ibunya sudah tidak ada disini," ucap Tina diiringi air mata berlinang di kedua pipinya yang membuat suasana menjadi hening terkecuali Rama yang terus menangis di sana.
Aku tak menyangka dia memilik jiwa keibuan yang sangat besar, aku yakin dia akan jadi sosok Ibu yang sangat baik tidak heran kenapa Edik begitu mencintainya.
"Baiklah, kalau kau memaksa," kataku.
Aku menceritakan semuanya ke Tina sembari Fu dan Adithya membungkus mayat Jasmin. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku, Edik, dan Miranda pergi menyelidiki korban-korban pesan darah ini mulai dari gudang bawah tanah hingga ke perpustakaan, dan serta insiden mati lampu dimana Sarah jadi target pembunuh itu lalu sesuatu yang dijatuhkan pembunuh itu dari atas.
"Aku tak menyangka dia senekat itu. Mungkin pembunuhnya masih ada disekitar wilayah villa ini, seperti yang dikatakan Pak Bagas bahwa pembunuhnya menjadikan anak kecil sebagai sandra saja," jelas Edik.
"Kalau dia memang ada di sekitar sini, menurutku dia mungkin adalah salah satu orang yang sudah lama berada disini," terang Fu.
"Tunggu dulu," sela Miranda. "Kalau memang pelakunya orang-orang yang ada di villa ini tapikan cuma kita semua saja yang ada disini, sedangkan semua pelayan disini sudah di pecat semua oleh Adithya terkecuali Rama dan Jasmin masih tetap disini."
Yang mereka semua katakan masuk akal juga, saat aku datang orang-orang yang di kumpulkan Edik sudah semuanya ditambah datangnya Adithya dan Siti.
__ADS_1
"Kakak...! kamu sudah pulang," teriak seseorang dari atas, kami semua langsung menoleh ke atas.
"Iwan!" Balas Siti.
Karena semangat Iwan berlari menuju kemari, Adithya yang khawatir dengan kesehatannya dia meminta Edik untuk membantunya turun kemari. Saat sudah berada di lantai bawah Iwan langsung memeluknya Kakaknya Siti, terjadi reuni hangat antara Kakak dan Adik.
"Aku sangat senang Kakak sudah pulang," ucap Iwan yang penuh gembira.
"Kakak juga senang bisa pulang, kamu tidak nakal kan selama kakak tidak ada dan selalu menuruti semua perkataan Ibu Tina."
"Eh! Ibu?!"
Edik langsung menghampiriku dan membisikkan bahwa Tina sendiri yang meminta mereka memanggilnya Ibu termasuk juga Sarah.
"Hemh... aku tidak nakal kok."
"Anak pintar," balas Siti sembari mengelus kepalanya Iwan.
Iwan sangat senang dan tersenyum saat kepalanya dielus oleh kakaknya, lalu Iwan menoleh kearah mayat yang terbungkus di sana dan berkata:
"Itu apa? Kenapa banyak darah di sana."
"Itu bukan apa-apa... bagaimana kalau kita main di kamar, Kak Adit beli mainan baru untukmu."
"Horee... mainan baru."
Siti bergegas membawa Iwan ke kamarnya dan mencegahnya selalu menoleh kebelakang.
"Tunggu dulu, boleh aku bertanya?"
"Aku tahu kamu ingin tanya apa, Tuan Wolfa," ucap Adithya.
Adithya tahu apa yang kupikirkan mengenai Iwan, dia mengatakan bahwa selama terjadi pembunuhan dan keributan di villa ini, Iwan selalu dibawah ke kamarnya dan selalu ada orang yang menemaninya bermain di kamar.
"Selama mati lampu Iwan sendirian di kamarnya," kataku.
"Hah...! Edik kenapa kau biarkan dia sendiri kalau terjadi apa-apa padanya, aku akan...," ucap Adithya yang sangat khawatir.
"Maaf Tuan Bagas, saat itu aku membawa Ray di lokasi kejadian," balas Edik.
"Tenanglah Tuan Bagaskoro, aku sendiri yang memintanya membantuku mengurus kasus ini," ucapku.
__ADS_1
Tampak wajah penuh kekhawatiran dari Adithya, Rama tiba-tiba menghampiri kami dia sudah tidak terlihat menangis lagi tapi kesedihan masih jelas di wajahnya.
"Tuan, ini bukanlah salah Tuan Thomas tapi salahku. Tuan Thomas memintaku menjaga Tuan Muda Iwan, sembari aku membawa Sarah yang ingin bermain dengannya. Saat aku mengawasi mereka berdua Tuan Muda lapar, aku pun segera ke dapur mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh Jasmin untuk Tuan Muda. Sarah ikut denganku karena dia ingin mengambil kue kesukaannya untuk dimakan bersama oleh Tuan Muda, saat tiba di dapur tiba-tiba mati lampu aku dan Sarah bergegas menuju kamar Tuan Muda. Akan tetapi aku merasa ada bahaya yang mengintai kami dalam kegelapan," jelas Rama.
"Baiklah, aku percaya padamu pergilah istirahat dulu. Untuk Istrimu kita akan menguburnya saat hujan sudah redah," balas Adithya.
"Terima kasih Tuan, kalau begitu saya permisi."
Rama pergi menuju ke kamarnya untuk menenangkan diri, disisi lain Miranda memanggilku karena dia melihat sesuatu di dinding.
"Ada apa Miranda?" Tanyaku.
"Dokter~, kamu harus melihat ini deh..."
Aku mendekat ke dinding yang ditunjuk Miranda, betapa terkejutnya aku melihat tulisan ini. Tulisan tertulis di dinding ini bukan menggunakan darah seperti sebelumnya melainkan sebuah goresan yang sangat dalam menggunakan benda tajam.
"'RAS'?! Apa maksudnya itu?" Tanya Fu.
Semua orang yang melihat ini pasti kebingungan karena sebuah tulisan yang sulit dimengerti oleh siapapun, tapi menurutku ini sebuah petunjuk yang mendekati kebenaran pahit.
Aku mendekatkan wajahku untuk melihat jelas tulisan ini tapi aku mencium sebuah aroma yang tidak asing bagiku dari goresan ini dan tiba-tiba ada perasaan yang tidak mengenakkan merasuki ku. Adithya yang memerhatikan aku sedari tadi dan memberikan ekspresi terkejut.
"Apa kamu baik-baik saja, Tuan Wolfa?" Tanya Adithya.
Perasaan ini menyebar dalam diriku, seakan menguasai tubuhku dan pemandangan di sekitarku perlahan meredup. Aku bahkan tak kuasa menahannya dan...
Gedebuk!
Semua orang sangat kaget melihat Ray Wolfa tiba-tiba pingsan.
"Hah! Ray, kamu tidak apa-apa?! Hey Sadarlah!" Ucap Fu yang sangat khawatir yang berusaha membangunkannya.
"Cepat bawa dia ke kamar," kata Adithya.
Fu dan Edik membopong Ray menuju kamar tamu.
•••
•••
•••
__ADS_1