
Sarah menundukkan kepalanya, dan wajahnya ke samping. Tubuhnya gemetar hebat dan meremas selimutnya sekuat mungkin, di belakang aku merasa ada hawa amarah yang siap memukulku kapanpun.
"Setelah... orang itu keluar, dia kembali... mem..."
"Cukup, kita lewatkan bagian yang itu saja," kataku.
"Baik... setelah itu aku tak sadarkan diri. Seseorang menepuk pipiku dengan lembut dan aku tersadar karenanya."
"Dan orang itu..."
"Orang yang membangunkan ku adalah bibi Desi..."
Kami semua terkejut dengan fakta ini, jadi benar Desi bukan pelakunya, tapi...
"Bibi Desi berhasil melepaskan ku dan aku langsung memeluknya sembari menangis, bahkan bibi Desi juga ikut menangis. Bibi langsung ingin membawaku pergi tapi..., orang itu tiba-tiba muncul dari belakang bibi."
Tanpa sadar aku menahan napas ku, sebab yang ceritakan selanjutnya pasti sangatlah penting.
"Dengan cepat bibi Desi menendang orang itu hingga menjauh dari kami, bibi Desi melawan orang itu dengan tangan kosong dan orang itu memakai belati. Tapi, bibi Desi berhasil memojokkan orang itu hingga tersungkur jatuh dan tak sadarkan diri. Aku belum pernah melihat bibi Desi se-marah itu."
Sesuai dikatakan Miranda bahwa Desi sangat lihai dalam hal beladiri, tidak heran kenapa dia begitu kuat.
"Lalu? Setelah itu apa yang kamu lihat?"
"Aku melihat... ada sesuatu dibalik tubuh orang itu, tiba-tiba muncul sesuatu yang sangat panjang dan besar. Lalu secara tiba-tiba datang kepadaku, bibi Desi langsung memelukku dan... dan..."
Karena tak sanggup mengatakannya, tiba-tiba pipinya dibanjiri air mata yang lama terbendung.
Secara tiba-tiba Tina masuk...
"Baiklah! Sudah cukup main tanya-tanyanya, pasien butuh istirahat sekarang!"
Kami semua terkejut melihat dia tiba-tiba masuk begitu.
"Jangan khawatir, kami sudah selesai," kataku. "Sarah, kamu tidak perlu sedih. Sebentar lagi kami akan menangkap pelakunya."
Aku, Fu dan Miranda langsung ke luar dan kembali ke kamar masing-masing.
•••
Saat di dalam kamar...
"Ah... akhirnya bisa berbaring dengan tenang."
"Kamu yakin akan sesantai ini?" Tanya Fu.
"Tidak, tapi... kenapa kamu tidak kembali ke kamarmu?" Tanyaku.
"Aku ada di sini menjagamu, selama kamu melakukan penyelidikan."
"Ah, penyelidikan... penye...lidikan... apa..."
Zzzzz
"Sudah kuduga, kemampuanmu ini akan aktif jika sesuatu mengganjal pikiran belum lepas. Jangan khawatir, aku ada di sini jika kamu dalam masalah di sana."
•••
__ADS_1
•••
•••
Seketika semuanya menjadi gelap, Fu yang ku temani bicara tiba-tiba menghilang. Di depan mataku hanya ada sebuah bayangan.
"Tolong... hentikan... Adithya..."
"Siapa itu?!"
Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dan tampak ada sebuah cahaya besar mengarah kepadaku.
"Egh... apa ini!" Kataku sembari menghalangi cahaya itu dengan kedua tanganku.
Seketika aku langsung berada tempat yang sangat asing bagiku. Aku berada di sebuah taman kecil dekat dengan sungai mengalir dengan tenang.
Saat berjalan semuanya tampak indah dan aku melihat seorang gadis duduk di tepi sungai, tampak ia duduk dengan tenang sembari menulis sesuatu dibalik kecilnya itu.
Merenda sebuah tali kasih
Ku Simpul menjadi satu hati
Gambaran jiwa yang terluka
Bagai langit meratap sendu
Kala bias cinta menghilang
Sakit itupun datang tanpa permisi
Bersama malam, ku dekap lirih arti kerinduan
Kesendirian.
Tiba-tiba dia membaca sebuah puisi, puisi yang pernah kudengar sekaligus membacanya.
"Hehe, kuharap Adithya senang mendengar puisi ini."
Tampak gadis itu sangat senang dan langsung memeluk bukunya itu.
"Ayu, Ayudisa Wati, kamu di mana...?"
"Iya... aku datang!"
Gadis itu langsung bangkit dari duduknya dan bergegas menuju orang yang memanggilnya. Sesaat berlari dia melewati ku begitu saja dan aku terkejut melihat wajahnya yang sangat tidak asing.
"Bukankah dia... istrinya Bagaskoro."
Seketika semuanya tampak gelap dan muncul cahaya besar itu lagi menghampiriku.
"Sekarang apa! Egh..."
Aku terbengong tiba-tiba berada di tempat baru lagi dan kali tempatnya disebuah gang sempit yang kotor. Tampak ada orang-orang menyeramkan berkeliaran di sini dengan para PSK-nya.
Aku berjalan menelusurinya dan melihat seorang pria tidak asing bagiku, dan langsung mengikutinya. Pria itu berjalan dengan santai dan memasuki sebuah rumah kecil diantara gang sempit ini.
"Bukankah rumah ini tempat Sarah disekap dan orang itu berarti..."
__ADS_1
Aku langsung mendekati rumah itu sekaligus pria itu juga.
"Yo, Adithya gimana rencananya, apa lancar?" Tanya seorang pria berbadan kekar dikelilingi oleh wanita-wanita sexy."
"Jangan khawatir, semuanya lancar kok. Apa Aku boleh meminta sesuatu?"
"Ya silahkan, untuk anggota termuda kita ini."
Tampak pemandangan cukup seram dan mengerikan di mana orang-orang berpenampilan tidak moral dalam pandangan masyarakat berkumpul di sini, dan lagi mereka dengan bebas melakukan "itu" dengan wanita-wanita sewaannya di sini.
Aku tak menyangka Adithya bergabung dalam kelompok mereka.
"Itu... tidak banyak hanya satu. Aku ingin kau melepaskan satu orang untukku dan biarkan dia hidup tenang."
"Oh, dan orang itu siapa?"
"Orang itu... Ayudisa Wati..."
"Hah! Coba katakan lagi..." sembari mendekat ke Adithya.
"Kumo..."
Blam!
Satu pukulan melayang dari orang besar itu dan mengenai tepat di wajahnya Adithya serta kacamata terlempar jauh.
Semuanya yang ada di sini tertawa melihatnya.
"Hahaha, lihat anak baru ini, dia mencoba mengambil wanitanya bos."
"Aw~, bos, kamu harus pelan-pelang ke dia, takutnya nanti sudah tiada loh~." Ucap wanita sexy itu.
"Jangan khawatir sayang, aku tidak memukulnya terlalu keras," katanya sembari membangunkan Adithya dan memegang kerah bajunya. "Ingat satu hal, siapa yang selama ini merawat mu... dan maka balas berkali lipat semua perbuatan baikku, mengerti!."
Setelah berkata begitu dia langsung menjatuhkannya, terlihat Adithya mimisan dan segera pergi meninggalkan tempat ini. Semua yang ada di sini semakin meriah dan mengatakan sesuatu hal.
Pemimpin mereka berdiri dan berpidato:
"Baiklah semuanya, sebentar lagi kita akan mendapatkan semua yang kita inginkan uang, kekayaan dan wanita. Malam ini akan menjadi pesta besar untuk kita," setelah berpidato dia langsung meneguk birnya dalam satu kali tegukan.
"Hahaha, kamu hebat bos! Hidup bos!"
Semuanya tampak senang dan gembira, tapi... apa yang mereka rencanakan hingga malam tiba.
Seketika semuanya menjadi gelap lagi dan kali ini muncul cahaya besar itu lagi, kali ini aku dibawa kemana lagi.
"Ini di mana?"
Kali ini aku berada disebuah taman kota pada malam hari, aku melihat Adithya yang tampak kebingungan di kursi panjang taman ini, dia duduk dengan penuh tekanan yang ada di kepalanya.
"Argh!! Apa yang harus kulakukan?!" Sembari mengacak-acak rambutnya.
Tak... Tak... Tak...
"Siapa itu?"
Tampak seorang wanita cantik nan anggun berjalan di malam yang sunyi dengan lampu taman sebagai salah satu panggung kecantikan untuknya. Dia berjalan dengan santai dan menghampiri pria yang tampak kesusahan itu.
__ADS_1