IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Misteri (Part 2)


__ADS_3

"Berarti mereka dibunuh berdasarkan dosa mereka," kata Fu.


"Kalau memang mereka dibunuh berdasarkan dosa mereka, tapi... kenapa harus meninggalkan pesan dengan kata yang sulit dimengerti?" Tanya Edik.


"Jawabannya sederhana, aku menemukan petunjuk ini di perpustakaan juga, ada tujuh buku bertumpuk di meja Gina sering dia pakai. Asal kalian ketahui buku-buku ini hanya berisikan sejarah dari toko-tokoh yang terkenal akan kekejamannya."


Seketika Edik terbelalak dan terkejut apa yang ku nyatakan barusan, tampaknya ia baru menyadarinya.


"Kalau diingat-ingat lagi pesan itu terasa familiar bagiku saat pertama kali melihatnya, kata yang tertera dipesan itu benar-benar lebih terlihat seperti sebuah nama," ucap Edik.


"Jadi, kamu tahukan nama-nama itu," kataku.


"Iya, VLAD nama asli Vlad Ţepeş atau biasa dipanggil 'Dracula', lalu yang kedua TOMAS nama asli Tomás de Torquemada, ketiga GILLES nama asli Gilles de Rais, keempat HOLMES nama asli Henry Howard Holmes atau biasa dikenal H.H Holmes, kelima BATHORY nama asli Elizabeth Báthory, dan yang terakhir RAS nama asli Rasputin," jelas Edik. "Tapi, aku masih kurang yakin hubungan tokoh-tokoh ini dengan tujuh dosa pokok."


"Ya memang kamu pasti bingung, tokoh-tokoh ini benar-benar ada kaitan eratnya dengan tujuh dosa itu, kalau kalian sudah mengenal atau tahu sejarah mereka. VLAD yaitu Gluttony, TOMAS yaitu Envy, GILLES yaitu Pride, HOLMES yaitu Sloth, dan BATHORY yaitu Greed, lalu yang terakhir RAS yaitu Lust," jelas-ku. "Ketujuh tokoh ini sangat berkaitan erat dengan tujuh dosa ini, tinggal yang terakhir dosa kemarahan. Berdasarkan pengamatan ku pembunuh itu akan mengincar target terakhir dari kita, dan menculik Sarah adalah skenario memancing mangsanya dengan kata lain target dia selanjutnya adalah Rama."


Sontak semuanya terkejut dan tidak percaya apa yang kukatakan barusan.


"Tunggu dulu, bagaimana kamu bisa yakin kalau Rama akan jadi target selanjutnya?" Tanya Tina yang masih ragu.


"Sama, aku juga masih belum yakin," lanjut Edik.


"Bukannya sudah jelas, orang yang paling dekat dengan sang Ayah kalau bukan putrinya. Kalau pembunuh itu mau memancing seseorang dengan mudah maka yang paling rapuh saat kegelapan yaitu Iwan, cuma dia sendirian di kamarnya. Kalau Iwan berhasil diculik maka orang yang paling reaksinya berlebihan yaitu Tuan Bagaskoro, dia akan menyuruh kita semua langsung mencarinya tanpa harus menyelidikinya terlebih dahulu. Tapi, kenapa pembunuh ini mau repot-repot menculik Sarah? Padahal Iwan adalah target yang empuk saat itu, ditambah lagi Sarah bersama Ayahnya pada saat itu juga."


"Yang dikatakan Tuan Wolfa, ada benarnya juga. Kalau Iwan yang diculik saat itu mungkin aku tidak bisa berpikir jernih, aku tidak seperti Rama yang bisa langsung tenang disaat orang disayanginya hilang satu persatu," ucap Adithya.


"Maka, asumsi Tuan Chen, bisa dikatakan benar. Sebab, aku merasakan perasaan familiar dengan pembunuh itu saat kami saling bertukar sayatan (adu pisau), ditambah lagi tinggi tubuhnya benar-benar mengingatkanku dengan Desi. Disaat itu kami pernah bertukar teknik pisau dengannya, dan jujur saja Desi bisa meniru semuanya, dan lagi pembunuh itu menggunakan semua teknik ku dengan lihai, seolah-olah sudah mereplikasikannya sejak lama," jelas Miranda.


Suasana terasa mulai hening dan sulit mempercayai orang yang selama ini di luarnya sangatlah baik, tapi di dalamnya menyimpang segudang kebencian yang sulit terbendung lagi. Tina yang sangat dekat dengan terlihat sedih dan tidak percaya bahwa teman mungilnya ini jadi pelakunya.


"Kak! Kak Adit!"

__ADS_1


Teriak seseorang dari atas yang tampaknya sangat panik. Sontak kami semua yang ada di bawah menoleh kearah suara itu, dan yang berteriak adalah Siti.


"Ada apa, kenapa kamu terlihat panik gitu?" Balas Adithya sembari bertanya.


"Paman... Paman Rama mau melompat dari jendela!"


Kami semua terkejut dan Tuan Bagaskoro segera menyuruh Edik mengecek ke kamarnya apakah dia benar-benar mau melompat dari jendela kamarnya.


"Tuan Bagaskoro, anda bilang bahwa dia 'mantan tentara bayaran', aku rasa melompat dari ketinggian 10 meter lebih tidak akan melukainya sama sekali," terang Fu.


Dikatakannya ada benarnya, aku juga melihat Miranda melompat dari ketinggian yang sama dan itu tidak melukainya sama sekali.


"Yang kamu katakan ada benarnya, Tuan Chen, tapi kenapa dia harus melompat dari jendela dengan setinggi itu," ucap Adithya. "Apa Rama mencoba bunuh diri?"


"Mungkin saja dia..."


Seketika Edik bergegas turun kemari bersama Siti dan Iwan.


"Pak, dia benar-benar melompat dan aku mencoba menghentikannya, tapi tetap saja dilakukan sekarang ia berlari menuju ke gerbang utama, kurasa dia tidak tahan lagi sehingga nekat mau mencari Sarah sendiri," jelas Edik.


"Aku rasa harus ada yang mengejarnya dari belakang kalaupun dia kuat, mungkin tidak akan sanggup menghadapi 'mereka' (BWG) semua," ucapku.


"Kalau begitu aku yang akan mengejarnya," ucap Edik yang mengambil inisiatif duluan. "Aku tak ingin membahayakan Istriku lagi terhadap makhluk-makhluk itu."


Tampak wajah tersipu malu dari Tina, baru kali ini pikirnya melihat Suaminya sangat serius sudah tampak dari wajahnya.


"Baiklah, kalau begitu biarkan aku ikut juga," kataku.


"Tidak usah, biar aku saja dan... aku butuh Tuan Chen ikut denganku juga," ucap Edik.


"Bagaimana Fu, apa kamu tidak keberatan?" Tanyaku ke rekanku ini.

__ADS_1


Tampak raut wajah biasa-biasa saja dan mengiyakan begitu saja permintaan Edik, terlihat dia tidak keberatan sama sekali dengan itu malahan, aku melihat ia benar-benar ingin keluar lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat menjemput Adithya dan Siti.


"Sebaiknya kamu tetap di sini saja, Dokter. Kita tidak tahu kapan makhluk-makhluk brengsek itu akan datang kesini!" Ucap Fu dengan nada sedikit kesal.


Eh...jadi benar, terjadi sesuatu saat dia keluar sehingga ia terlihat marah begitu, walau ekspresi datar dari kata-katanya barusan terlihat sangat kesal.


"Botak... jaga dirimu baik-baik," pesan Tina yang terlihat khawatir.


"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja dan aku bersama Tuan Chen, jadi semua akan aman," balas Edik sembari mengelus rambut atas Istrinya itu.


Setelah itu mereka berdua pergi dan bergegas menyusul Rama, agar dia tidak menjadi korban selanjutnya.


"Sekarang tinggal kita yang tersisa, aku akan melakukan penyelidikan di sekitar halaman belakang villa serta rumah kecil itu," ucapku. "Apa anda tidak keberatan, Tuan Bagaskoro?"


"Sama sekali tidak, silahkan melanjutkan tugas anda, aku akan membawa Siti dan Iwan di kamarnya," jawab Adithya. "Dan Tina sebaiknya kamu bersama Tuan Wolfa, siapa tahu dia butuh bantuan penjelasan."


Tina hanya mengangguk saja tidak bersuara sedikit pun dan Adithya segera menuju ke atas bersama adik-adik iparnya.


Disisi lain tampak wajah khawatir dari sang Istri, aku tahu dia sangat cemas padahal situasi dia jauh lebih buruk sebelumnya saat Edik tidak mengetahui sama sekali.


"Kamu jangan khawatir, dia bersama Fu aku yakin semuanya akan baik-baik saja," ucapku berusaha menyemangatinya sembari menepuk pundak kirinya.


"Tenang saja, aku tidak khawatir sama sekali dan... tolong bisa jauhkan tanganmu itu, rasanya pundak ku terbakar."


"Eh, maaf."


Wajah terlihat semangat lagi, terlihat sudah seperti Tina yang kami kenal yang berapi-api.


"Apa kamu perlu kehangatan, Sayang. Sini dengan senang hati aku peluk," goda Miranda.


"Tidak! Terima kasih," balas Tina sembari menjauh satu langkah. "Murung, kamu ingin ke belakang kan. Sebaiknya bergegas kita tidak tahu hal buruk apa yang akan terjadi nanti."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, ayo."


Kami bertiga bergegas menuju halaman belakang, keanehan dan keganjilan apa yang akan aku temui di sana.


__ADS_2