
Pukul 01.19
Aku, Fu dan Miranda berlari menuju halaman belakang villa, sesaat sampai di sana... entah kenapa aku merasa ada seseorang sudah lewat sini.
Aku langsung menuju pintu belakang...
"Sudah kuduga, inilah yang membuatku bingung," kataku.
"Ada apa, Dokter?" Tanya Fu.
"Bagaskoro bilang bahwa kuncinya ini hanya duplikat kan, tapi sebenarnya kunci ini duplikat sama sekali, melainkan kunci asli--satu-satunya kunci untuk pintu ini," jelas-ku.
"Jadi, kunci yang dipegang oleh Tina saat mengira kuncinya macet, berarti masih kunci yang sama saat digunakan oleh Tuan Edik," ucap Miranda.
"Iya, sebenarnya kunci ini..." sembari memutar ujung atau mata kuncinya. "Lihat berubah kan."
"Aku baru ingat kunci semacam ini sering digunakan kampung halamanku, alasannya demi keamanan melindungi barang berharga dari orang yang sudah meninggal, di suatu tempat yang memiliki kunci bentuk kunci yang sangat rumit," ucap Fu.
Mata dari kunci ini aku bisa bentuk menjadi lima bagian, dan setiap bentuknya memiliki simbol yang berbeda saat dibentuk. Tapi, handle gagang pintu terlihat sangat antik ini memiliki lubang kunci yang muat bisa masuk setiap bentuk mata kuncinya.
Aku mencoba bentuk pertama yang sudah digunakan oleh Edik untuk membuka pintu ini dan...
"Hm?!"
Saat memasukkan kuncinya dan memutarnya ternyata macet yang seperti dikatakan Tina, aku juga mencoba menggoyangkan kenop nya dan ternyata tidak bisa bergerak sama sekali.
Aku mengganti matanya ke bentuk kedua dan mencoba menggunakannya ke pintu itu, ternyata tidak bisa seperti yang pertama.
Terus berlanjut ke bentuk ketiga dan tidak bisa juga, lalu bentuk keempat hingga bentuk kelima yang ternyata...
Crack!
"Terbuka!"
Tapi, aku menutup pintu itu lagi dan mengunci kembali dengan bentuk sama dan ternyata tidak bisa diputar sama sekali. Aku menggantinya ke bentuk lain dan ternyata bisa diputar.
Di sini aku berpikir ada semacam hal lain dari kunci serta pintu ini, aku langsung melirik ke rumah kecil itu yang berhadapan tepat dengan pintu dengan pintu belakang villa ini.
Aku berjalan ke sana mengikuti susunan keramik yang sejajar sebagai jalan ke rumah kecil itu, sebagai pijakan jalan terhubung antara pintu dan rumah kecil ini.
Saat sampai di sana, aku dibuat bingung lagi sebab pintu rumah ini terkunci dengan terlihat seperti kunci otomatis dengan memiliki simbol aneh sebagai kode untuk membukanya.
"Simbol aneh, ini wajar sih... agar bisa membuat bingung orang yang ingin membukanya," kata Fu. "Tapi, aku penasaran benda apa yang dirahasiakan dan bahkan menjadikan rumah ini sebagai tempatnya?"
"Miranda, apa kamu tahu apa yang ada di dalam rumah ini?" Tanyaku.
__ADS_1
"Maaf, Dokter, jangankan aku orang luar yang tidak tahu sama sekali, bahkan orang-orang yang sudah lama ada di villa ini bahkan tidak ada yang tahu sama sekali ini dari rumah ini. Adithya memperingatkan keras semua orang, jangan pernah mendekati rumah ini," jelas Miranda.
Aku mengelilingi sementara rumah kecil ini dan hanya melihat di belakang rumah ini, hanya pesan darah sebelumnya yang ditinggalkan oleh pembunuhnya.
"Pesan darah... mungkinkah..."
Aku langsung bergegas kembali ke depan dan kembali melihat simbol-simbol itu.
"Ada apa Dokter~, kamu terlihat tergesa-gesa begitu?" Tanya Miranda.
"Aku sudah tahu bagaimana caranya. Fu, ambil kunci ini dan dengarkan instruksi ku..."
Aku menjelaskan kepada Fu mengenai kunci ini, dia harus mengubah mata kuncinya setiap aku memintanya, kalau pintu belakang villa itu terbuka maka aku minta dia lagi menutup pintu itu lagi dengan menguncinya dengan bentuk mata kunci berbeda.
"Baiklah, aku mengerti."
Fu langsung pergi ke pintu belakang villa itu.
"Tampaknya kamu sudah mengetahuinya ya, Dokter~," kata Miranda.
"Iya, kamu lihat jalan keramik ini, kenapa cuma jalan yang berlapis tebal hanya mengarah ke rumah kecil dan pintu belakang villa," ucapku.
"Tidak tahu sih, tapi kalau diperhatikan... ada semacam penghubung antara pintu belakang itu dengan rumah kecil ini, sudah terlihat dari pegangan pintunya yang sama-sama antik."
Krak!
Seketika satu kode terputar...
"Dokter, pintunya terbuka..."
"Tahan dulu, Fu..."
Aku memerhatikan lebih dekat dan melihat kodenya berputar sedemikian...
"Sekarang Fu, putar matanya ke bentuk kelima," pintaku.
Fu menutup kembali pintunya dan memasukkan kuncinya lalu mengunci pintu itu kembali...
Krak!
"Bagus, sekarang... ubah kebentuk ketiga..."
Fu memutar mata kuncinya dan memasukkan kembali ke pintu itu dan...
Krak!
__ADS_1
Simbol ketiga terputar menjadi simbol lain...
"Sekarang ubah kebentuk kedua..."
Krak!
Simbol keempat berputar lagi...
"Sekarang ubah kebentuk keempat..."
Krak! Cek...!
Seketika pintu rumah kecil itu terbuka dan Fu bergegas kemari saat melihat pintu itu terbuka.
"Oh, kamu hebat juga ya, Dokter. Bisa mengetahui kodenya," kata Miranda.
"Sebenarnya, aku menyadarinya saat melihat pesan darah di belang rumah ini. Tiba-tiba teringat suatu hal janggal bagiku," ucapku.
"Dan apa itu?" Tanya Miranda.
"Jawabannya ada pada kematian ketujuh orang ini. Mereka mati dengan pembunuh yang berbeda-beda," terang-ku.
Mereka berdua terkejut mendengar pernyataan ku ini.
"Apa maksudmu, Dokter?" Tanya Fu.
"Kematian pertama hingga kelima meninggalkan pesan darah dengan tulisan menggunakan darah korbannya, dan lagi ditulis dengan sangat rapi dengan kata lain mereka dibunuh orang yang sama. Sedangkan kematian Jasmin dan Rama, mereka berdua dibunuh oleh orang yang berbeda. Jasmin yang kematiannya sangat janggal, sebab letak tusukan pada bagian perutnya bagian paling terawasi oleh orang pada umumnya, dengan kata lain dia bunuh orang yang setinggi anak 7 hingga 8 tahun. Sedangkan Rama sudah terlihat jelas kenapa dia mati, dia melawan seseorang dengan kemampuan tempur hebat, seolah-olah melawan orang yang sudah terbiasa dengan pertempuran jarak dekat," jelas-ku.
Kami akhirnya memasuki rumah itu dan saat memasukinya kami dibuat cukup terkejut apa yang dilihat di sini.
Terlihat ada berbagai macam barang yang khusus wanita, serta foto dan lukisan wanita cantik terpajang di mana-mana.
"Jadi... se-cinta inikah Bagaskoro terhadapnya istrinya," kataku.
"Jawabannya sudah terlihat jelas di sini," kata Fu.
Kami bertiga menelusuri setiap ruangan rumah ini dan hanya ada barang-barang untuk istrinya ini gaun pengantin, konde, sisir dan berbagai lainnya.
Aku mendekati salah satu lukisan yang menurutku sangat menarik...
"Apa lukisan ini dibuat sendiri olehnya?"
Terlihat gambar wanita pada lukisan itu, wanita duduk dengan gaun pengantin warna putih anggun dan telinganya diselipkan sebuah melati.
"Jadi, yang mati pada saat itu benar istinya dia kalau gak salah namanya... Ayudisa Wati. Aku penasaran apa yang terjadi pada mereka, apa Adithya ada hubungannya penyebab kejadian lima tahun lalu," pikirku.
__ADS_1