
14-06-2005
Pukul 07.56
Sesaat di klinik...
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!"
Seseorang membuka pintu dan terlihat seorang pria dengan pakaian seorang Pastor.
"Ah, Pastor Moris," sapaku.
"Dokter Wolfa, apa anda belum menemukannya?" Tanya Moris dengan wajah khawatir.
"Anda sebaiknya tenang dulu, Tuan Ramza. Kita sudah tahu di mana pencuri itu menyembunyikan benda curiannya," jelas Fu.
"Begitu ya, syukurlah kalau begitu, kuharap Tuhan memberikan semua Rahmat-nya kepada kalian. Amin."
"Memang kita sudah menemukan lokasi dia, hanya saja kita ketahuan olehnya bahwa yang kita incar adalah barang dia curi itu," jelasku. "Tapi, kamu jangan khawatir, kita akan membawa barang itu untukmu sekarang."
"Baguslah, saat kalian sudah mendapatkan barang itu, tolong jangan dilihat isinya ya, soalnya aku sangat malu jika seseorang melihatnya termasuk anda berdua," ucap Moris.
Aku hanya mengangguk saja dan Pastor Moris keluar dari klinik sembari pemisi.
"Hei, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dari kita," kataku.
"Kamu benar, tapi kita hanya menerima permintaannya untuk membawa kembali barang itu ke pemiliknya dan ada tambahan permintaannya, yaitu jangan melihat isi dari benda yang dicuri itu," ucap Fu.
"Kamu benar," kataku sembari bangkit dari kursi. "Baiklah, saatnya kita pergi ke rumah itu.
•••
Sesaat di luar klinik...
Aku dan Fu berjalan menuju rumah biarawati bernama Melina. Sesaat aku sudah sampai di sana, terlihat wanita itu mengurus semua tanaman hiasnya dengan teratur.
"Permisi Nona Melina," sapaku.
__ADS_1
Seketika wanita cukup terkejut dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah pagar rumahnya.
"Ya Tuan, apa ada perlu denganku?" Tanya Melina. "Anda kan, tamu dari Bapak Moris."
"Ya benar, aku akan terus terang, anda kan yang membantu pencuri itu?" Tanyaku.
Seketika mata dia terbelalak dan langsung menghela napas.
"Sudah ketahuan ya, sebelum kalian menangkapku sebaiknya kalian masuk dulu akan aku ceritakan semua kebenarannya."
Melina mengajak kami masuk ke rumahnya, aku dan Fu mengikuti permintaannya itu lalu masuk ke dalam rumahnya.
•••
Sesaat di dalam rumahnya...
Saat di dalam rumahnya aku sudah tahu semua barang-barang ini, sebab aku pernah menyelinap ke sini.
"Kalian silahkan duduk dulu, aku akan menyiapkan minuman dulu."
Aku dan Fu duduk di sofa lalu dia pergi ke arah dapur untuk menyiapkan minuman. Pandanganku sangat terpaku pada potret wanita di sana, sebab sangat tidak asing bagiku.
"Tak kusangka kamu tertarik dengan potret itu," ucapku.
Melina kembali sembari membawa nampang dengan gelas kaca di atasnya berisikan teh.
"Silahkan dinikmati," sembari memberikannya kepada kami, lalu dia duduk di seberang kami.
"Baiklah, katanya kamu ingin menceritakan semua kebenarannya, kebenaran tentang apa itu?" Tanyaku.
"Iya, aku ingin menceritakan semua kebenarannya, sebelum itu aku lihat 'Dokter' sangat terpaku memandang potrer itu," sembari mengarahkan pandanganny ke arah potret itu.
Aku cukup terkejut mendengarnya, sebab dari mana dia tahu profesiku, apa dari teman pencurinya itu?
"Kamu tidak perlu kaget, sebab aku tahu kamu seorang Dokter dari kakakku, dan orang yang di potret itu adalah kakakku namanya Merlina."
Seketika mataku terbelalak dan sangat terkejut mendengarnya, aku langsung memandang serius wajah gadis di potret itu.
"Ternyata benar, ternyata dia Merlina!"
__ADS_1
"Apa kamu kenal dengan gadis itu, Dokter?" Tanya Fu.
"Iya, aku kenal, dia salah satu pasienku dan setiap minggu dia datang untuk diperiksa keadaannya olehku. Kalau tidak salah dia ada masalah dengan rahimnya, dia selalu mengalami rasa sakit setiap diperiksa lalu aku menyarankan dia untuk diperiksa lebih lanjut ke rumah sakit, tapi katanya dia tidak bisa sebab tidak punya uang yang cukup untuk berobat di rumah sakit, jadi aku hanya bisa memberikan dia solusi penanganan dan obat pereda nyeri, aku juga mengingatkan dia untuk berobat ke rumah sakit kalau keadaannya mulai parah dan aku sendiri yang akan mengobatinya langsung di sana," jelasku.
Seketika aku melihat Melina tersedih, tampak raut wajahnya sangat sedih dan air matanya ingin keluar, tapi dia menahan diri dan aku tahu kenapa dia menahan air matanya itu.
"Kalau boleh tahu, sekarang dia ada di mana?" Tanyaku. "Tiba-tiba dia tidak kabar sama sekali selama lima bulan ini, aku juga khawatir sebab dia pasienku juga."
"Dia..., sudah tiada, sudah berada di sisi Tuhan," jawab Melina.
Seketika aku sangat terkejut, sebab aku tak menyangka dia sudah pergi begitu saja dan sesaat dadaku sakit mendengarnya sebab aku gagal menjadi Dokter menangani rasa sakitnya.
"Sial!" Gumamku.
Melina melihatku mengepalkan tangan dengan erat dan melihat wajahku yang tampak kesal sekaligus menyesalinya.
"Dokter, anda tidak perlu sekesal itu, kakakku sangat senang bisa konsultasi pada anda, sebab cuma anda yang mau mendengar keluhan sakitnya setiap waktunya, dia bilang sangat beruntung bisa berobat dengan anda di saat terakhirnya di mana dia sudah berobat di sana-sini dengan Dokter lain, tapi tidak ada yang menanggapi serius rasa sakitnya hanya karena tidak punya uang yang cukup untuk berobat," terang Melina.
"Aku tidak bisa mengabaikan orang yang butuh pengobatan, dia pernah datang kepadaku setiap saat untuk memantau rasa sakitnya itu dan itu atas permintaanku juga untuk datang setiap minggunya klinik, aku menolak uangnya sebab aku bilang padanya bahwa aku akan menerima bayarannya jika dia sudah sembuh sepenuhnya."
Fu melihatku berkata seperti itu cukup terkejut mendengarnya.
"Jadi ini alasan keduanya kenapa dia selalu dapat uang sedikit dari profesi utamanya ini sebab dia terlalu baik terhadap pasiennya. Ray, kamu belum memenuhi syarat menjadi Dokter sepenuhnya, tapi itulah salah satu yang membuatmu menarik, tidak bisa mengabaikan rasa sakit orang-orang," batin Fu.
"Penyebab dia mati apa karena penyakitnya itu?" Tanyaku.
"Bisa dibilang begitu, tapi yang sebenarnya bukan karena itu juga, dia mati karena dibunuh," jawab Melina.
Sekali lagi aku sangat terkejut mendengarnya.
"Apa maksudmu dia dibunuh?" Tanyaku masih tak percaya.
"Iya, dia dibunuh, anda pasti tahu kan berita kematian seorang wanita yang tubuhnya penuh dengan luka."
"Iya, aku tahu, tapi kejadiannya itu dua bulan lalu dan di mana lagi wanita itu diperkirakan korban pemerkosaan, itu diketahui melalu robeknya lubang alat kelamin dia," terangku. "Kamu yakin, dia korban dari pemerkosaan itu?"
Seketika air mata Melina jatuh dan sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"Kakakku... dia tidak mati seperti itu, tapi dia korban yang melakukan itu karena terpaksa dan itu dilakukannya hampir setiap hari."
__ADS_1
"Setiap hari? Alasannya untuk apa?" Tanya Fu.
"Hiks... dia melakukan itu untuk melindungiku, sebab para orang-orang busuk itu mengincarku tapi kakakku mengetahuinya dan rela menodai harga dirinya demi diriku. Ini semua karena..."