IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Awal Petualangan (Part 4)


__ADS_3

Suara tembakannya semakin jelas ditelinga kami yang berarti orang yang menembak itu sudah dekat. Saat ingin menuju ke sana para orang berjubah itu muncul lagi dihadapan kita kali ini jumlah mereka bertambah menjadi sepuluh orang dan anehnya orang yang membawa palu besar itu gak ada.


"Hey, gak usah menahan diri lagi bunuh saja mereka langsung," kataku.


"Kamu yakin?!" Tanya Fu.


"Iya," jawabku. "Bunuh saja, karena mereka bukan manusia. Kuharap perkataan ku barusan tidak mengganggumu Nona Miranda."


"Tenang saja Dokter, malahan aku akan berada di sampingmu untuk menjagamu," ucap Miranda.


"Justru ucapan mu barusan yang menggangguku seolah-olah harga diriku dipertaruhkan disini, aku hargai ketulusan mu itu," batinku.


"Ekspresi Mu yang sangat serius barusan saat mengatakan 'bunuh saja' itu terlihat keren, aku semakin menyukaimu Rai, Hehe~~," batin Miranda.


Fu yang sudah siap dengan kuda-kudanya untuk kali ini dia menampakkan ekspresi yang tidak ditunjukkan selama ini.


"Kenapa dia tersenyum begitu ditambah lagi sorot matanya sangat menusuk, itu membuatku semakin tidak nyaman berada didekatnya," terang Miranda.


"Aku tahu kamu akan berkata begitu saat melihatnya pertama kali, aku pun juga merasakan hal yang sama saat melihatnya pertama kali dan ternyata aku masih bisa melihatnya lagi."


"Lagi?!"


"Kejadiannya sudah lama sekitar dua tahun yang lalu saat itu aku berangkat menuju Hong Kong karena dipanggil olehnya untuk menyelidiki sebuah kasus pembunuhan berantai. Selebihnya aku gak bisa ceritakan karena dia sangat sensitif atas kejadian itu dan kejadian itu juga membuatnya menjadi seperti sekarang."


"Hmm, begitu ya."


Disaat pembicaraan singkat ini Fu langsung menerjang para orang berjubah itu dihadapannya. Satu dari mereka terhempas sangat jauh dan terbentur ditembok bangunan dibelakangnya, mereka semua langsung maju menghadapi Fu tapi jumlah yang dilawan Fu hanya delapan orang saja termasuk yang terlempar di sana dia sudah mati.


Aku fokus mencari dua orang itu tiba-tiba salah satunya muncul dibelakang Miranda.

__ADS_1


"MIRANDA!!!"


Instingnya yang kuat atau karena sinyal darurat kuberikan padanya dengan refleksnya yang cepat Miranda berhasil menghindari serangan dari belakang lalu menangkap tangannya dan membantingnya ke tanah dengan cepat Miranda menusuk kepalanya.


Miranda tiba-tiba menarik tanganku lalu dia langsung menghadapkan kepalaku di dadanya dan dipeluk erat olehnya, seketika itu juga Miranda mengambil pistol yang ku genggam dan terdengarlah suara tembakan beberapa kali dibelakang ku.


"Kamu tidak apa-apa Dokter?"


Dia bertanya sambil tersenyum kepadaku sebelum menjawabnya aku berbalik dan ternyata orang berjubah yang hilang barusan mereka berdua tiba-tiba muncul dibelakang kami berdua.


"Iya aku gak apa-apa, terima kasih."


"Sama-sama~~."


Dan sepertinya Fu sudah selesai di sana dia dengan brutal menghabisi mereka dan tidak sedikit pun goresan luka didapatnya.


Kami bertiga bergegas menuju ke sana selang tidak berapa lama berlari kami melihat orang yang dimaksud di sana ternyata dia masih menembak seseorang, ternyata orang-orang berjubah itu dan salah satunya yang membawa palu besar dengan cepat Fu lari dan menendang orang berjubah membawa palu besar itu lalu aku menembak yang satunya lagi dia berhasil menghindarinya dan mereka berdua kabur meninggalkan lokasi.


"Fiuh... aku benar-benar takut sampai-sampai sulit bernafas, kirain aku akan mati, aku sangat berterima kasih atas bantuan kalian. Maaf kalau lancang aku akan bertanya terlebih dahulu 'kalian ini siapa?'" Tanya orang itu.


Aku mengamati wanita di hadapanku ini. Wajah sangat tidak asing bagiku kayak kami pernah bertemu di suatu tempat, dengan sikapnya agak keras dan sikapnya begitu percaya diri ditambah lagi kacamata yang dipakainya membuatnya semakin gak asing di mataku.


"Sudah lama ya Tina," sapa Miranda ke wanita itu.


"Eh! Nona Miranda, anda ada disini," balas Tina.


"Tunggu dulu, Tina?! Tina Lahita! Teman sekampus aku. Pantas saja dia begitu tidak asing," batinku.


Dilihat-lihat Tina sangat menjaga jarak dengan Miranda terlihat dia sangat tidak nyaman dengannya lalu ia menatapku dengan seksama dan berkata:

__ADS_1


"Jadi begitu ya, jadi kalian orang yang dimintai datang oleh Pak Bagaskoro. Izinkan aku memperkenalkan diri namaku Tina Lahita aku orang yang seharusnya menjemput kalian di stasiun tapi ada masalah saat diperjalanan."


"Aku Ray Wolfa lalu pria di sampingku ini adalah Fu Chen dan kamu sudah mengenal Miranda kan kebetulan tujuan kami sama dan dia memandu kami menuju Villa tersebut."


"Ngomong-ngomong Nona Tina..."


"Tina saja!" Potong Tina.


"Maaf. Aku ingin bertanya mengenai orang berjubah hitam itu sebenarnya mereka itu apa?" Tanya Fu.


"Mereka itu Black Wind Ghost," jawab Tina.


"Black Wind Ghost?"


"Kami menamai itu karena mereka seperti sekumpulan balon yang berjalan dengan kedua kakinya ketika kita memukulnya pasti merasa memukul samsak tinju berisikan udara."


"Oh iya Dokter, kamu bilang tahu tentang orang-orang ini kan," ucap Fu.


"Semuanya sudah dijawab oleh Tina tapi aku akan menambahkannya, saat kita membunuh orang berjubah hitam itu aku melihat ada sesuatu yang keluar dari tubuh mereka semacam asap berwarna hitam pekat, apa kamu tahu apa itu Tina?" Tanyaku.


"Itu udara yang sudah dikaitkan dengan energi hitam yang sanga pekat. Kalian pasti sulit mempercayainya aku pun juga begitu saat suamiku membuktikan semuanya langsung di mataku."


"Dia sudah menikah ya jadi penasaran pria yang tahan dengan wanita ini," batinku.


"Sebaiknya kita bergegas dari sini sebelum mereka kembali dengan jumlah yang banyak. Aku yang bawa mobil jadi tenang saja," ucap Tina.


"Kok perasaanku gak enak begini ya," batinku.


Kami bertiga berhasil ketemu dengan orang seharusnya menjemput kami di stasiun dan bergegas menuju Villa Raja dimana nama pemiliknya adalah Adithya Bagaskoro, ini akan menjadi hari yang sangat panjang buatku.

__ADS_1


__ADS_2