
Dengan berbagai macam pertanyaan dibenak kami pun menaiki mobil yang oleh Tina dan untungnya para BWG tidak mengejar kami sepanjang perjalanan.
Kami sudah sampai di lokasi tujuan terlihat bangunan besar dan megah.
"Kita sudah sampai ini adalah Villa Raja," kata Tina.
"Jadi ini Villanya ya, benar-benar besar dan luas," lontar Fu.
"Bagaimana menurut kalian, besar dan nyaman kan?"
Aku melihat-lihat sekitar Villa tersebut dan aku melihat sebuah ekskavator di sana.
"Tina, Villa ini... apa ada yang sesuatu mau diperbaiki ya?" Tanyaku.
"Iya, memang ada sesuatu yang mau di bangun dibelakang Villa itu."
"Mau bangun apa?"
"Tidak tahu juga kata Pak Bagas dia hanya ingin membangun sebuah rumah kecil dibelakang Villanya saja. Oke semuanya mari masuk."
Tina mengundang kami masuk saat melewati pagar masuknya aku terkejut melihat halamannya bukan hanya luas tapi ada banyak melati disekitar sini yang ditanami.
"Sepertinya Adithya semakin terobsesi dengan melati ini, padahal dulu waktu aku berkunjung kesini tidak sebanyak ini," ucap Miranda.
"Tidak tahu juga kenapa Pak Bagas sangat menyukai melati, aku dan suamiku juga terkejut saat pertama kali datang kesini melihat melati tumbuh subur disini, tapi dia pernah bilang bahwa melati ini kesukaan dari mendiang istrinya," terang Tina.
Kami sudah sampai di pintu utama Villa ini sambil asyik mengobrol. Tina memencet bel di samping pintu tersebut.
Gerbang besar Villa itu terbuka. Baru saja melangkah masuk, sudah ada seseorang yang menuggu di sana.
"Ah, Botak!," panggil Tina.
"Kamu sangat telat sayang. Aku benar-benar salah mempercayaimu untuk meminta menjemput tamu," kata Pria itu.
"Kami telat karena keadaan darurat! Tidak ada yang salah denganku, jadi berhentilah menyalahkan ku," jelas Tina dengan nada kesal.
__ADS_1
"Hehe, tenang saja Tuan Edik, Tina benar-benar melakukannya tugasnya dengan baik aku bisa menjaminnya," ucap Miranda.
"Tuh dengar Botak!"
Pria yang berkepala plontos itu mengabaikan Tina. Dia menoleh ke kami dengan ekspresi biasa saja.
"Perkenalkan namaku Edik Thomas aku adalah suami dari wanita api ini. Lalu selain Nona Miranda ada satu orang yang sangat tidak asing bagiku, jadi apa kabar Ray?" Tanya Edik.
"Eh? Kamu kenal aku?"
"Ayolah saat melihatmu pertama kali aku langsung tahu itu kamu, kurasa Tina juga sudah mengetahuinya."
"Siapa yang tidak tahu si Murung yang suka melakukan berbagai hal aneh dengan teori hayalan-nya," ledek Tina.
"Aku baru ingat dia juga salah teman kampusku ditambah lagi dia juga sering mengerjai Tina.," batinku
"Aku pikir kamu tidak mengenaliku Tina dan aku tidak menyangka bahwa kamu menikah dengan Edik, padahal dulu kalian sering saling bertentangan saat kita kuliah dulu. Oh iya hampir lupa ini perkenalkan temanku dia Fu Chen."
"Senang bertemu denganmu Tuan Edik," sapa Fu.
"Hah?!"
"Ya itu sangat menyenangkan. Tapi dia tidak pernah menyadarinya sama sekali."
"Eh?"
Melihat wajah kebingungan Tina. Edik dan Miranda tersenyum, ya sudah dari dulu dimana Edik sering mengerjainya waktu kita di kampus. Dilihat-lihat juga Miranda Jasfi memiliki hubungan yang sangat akrab dengan sang pemilik Villa ini.
"Baiklah kita kembali topik awal, jadi ada alasan apa kami dipanggil kesini oleh Adithya Bagaskoro? Lalu orang berjubah hitam diluar sana sebenarnya mereka apa?" Tanyaku.
"Maaf, Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Edik.
"Sepertinya dia tidak tahu apapun," batinku.
"Biar aku yang jelaskan. Saat diperjalanan kami diserang BWG itulah penyebab kami telat datang dan ada alasan Pak Bagas memanggilmu kesini itu karena beberapa orang yang menginap di Villa ini menghilang tiba-tiba, Botak ini hanya diberitahu oleh Pak Bagas bahwa ada tamu khusus akan datang di Villa dan selebihnya hanya aku saja yang dimintai oleh Pak Bagas," jelas Tina.
__ADS_1
"Apa! kamu tidak apa-apa kan sayang?"
"Jangan khawatir aku baik-baik saja. Hanya beberapa luka kecil dan sudah di obati."
Tampak ekspresi yang sangat cemas dari wajah Edik. Kurasa dia benar-benar mencintai Tina dan sekarang mereka benar-benar terlihat pasangan serasi.
"Oke pertanyaan ku yang pertama terjawab lalu yang kedua?"
"Biar Botak ini yang menjawab pertanyaan mu yang kedua."
"Aku benar-benar tidak tahu mengenai permintaan mendatangkan seorang detektif padahal Pak Bagas sendiri melarang kami memanggil detektif datang kesini, sekarang dia memanggil seorang detektif swasta datang lalu dia pergi disaat orang dia panggil datang," ucap Edik.
"Memangnya Tuan Bagaskoro pergi kemana?" Tanyaku.
"Dia pergi menjemput adik iparnya yang berada disebelah kota, dia sekolah di sana saat ini dia sedang libur jadi dijemput langsung oleh Pak Bagas. Maaf aku terlalu banyak bicara, aku akan menjawab pertanyaan mu itu."
"Silahkan."
"Ini bermula saat aku dan Tina baru datang kesini. Awalnya baik-baik saja kami datang, selang beberapa waktu kami mendengar teriakan dari gudang bawah tanah. Orang berteriak itu salah satu pelayan disini, dia melihat temannya (sesama pelayan) mati di gudang tersebut."
"Lalu, setelah itu?"
"Setelah itu kami dan semua orang di Villa ini membuat kremasi sederhana untuk korban, tapi hal aneh mulai terjadi abu korban itu berterbangan dan warnanya tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat yang bentuknya menyerupai manusia. Tiba-tiba angin kencan berhembus dengan kuat disekitar kami padahal lagi diruang tertutup, abu hitam itu langsung menyerang kami sudah berbagai senjata dikerahkan makhluk itu tidak mempan juga. Makhluk itu menangkap dua pelayan Villa dan langsung masuk ke tubuh pelayan tersebut lalu coba tebak apa yang diinginkan makhluk tersebut?" Tanya Edik sesaat ingin menyambung ceritanya.
"Wadah?" Balasku.
"Tepat. Makhluk itu menginginkan wadah baginya agar bisa hidup, tapi yang terjadi pada dua pelayan itu tubuhnya gak dikendalikan sama sekali melainkan merusak seluruh tubuh bagian dalamnya sehingga dua pelayan itu mati dan seketika tubuh pelayan itu terbakar hingga menjadi abu lalu membentuk menyerupai makhluk itu lagi."
"Jadi bagaimana kalian bisa selamat dari makhluk hitam itu?" Tanya Fu.
"Kami selamat karena Pak Bagas," jawab Tina.
Bagaimana cara Bagaskoro mengalahkan mereka terlebih lagi makhluk yang mereka ceritakan mungkin sama yang kami temui dijalan.
"Jadi... orang-orang berjubah hitam itu, apa mereka makhluk hitam juga tapi kenapa mereka tak mengambil tubuh manusia sebagai wadahnya?" Tanyaku.
__ADS_1