
"AAAA!!! Semuanya cepat lari dari sini! AAAA!!!"
DOR DOR DOR
Suara tembakan ada dimana-mana hujan timah panas terus menghujani orang-orang yang sedang lari.
"Kalian mau lari kemana! HAHAHA!!!"
DOR DOR DOR
"Hiks... hiks... Mama... Mama..."
Suara teriakan orang yang ketakutan, tangisan, dan amarah, suara-suara itu bercampur dengan tumpahnya darah dimana-mana. Abu hitam membuat langit terlihat gelap, kobaran si jago merah terus melahap rumah-rumah yang ada disekitarnya.
"Apa-apaan ini! Dimana aku sekarang?!"
Ray yang baru sadar dari lelapnya dan berada ditempat yang sangat asing baginya.
"Hehe! Hey disini masih ada tersisa loh,"
"Langsung habisi saja," pria-pria bersenjata ini menodongkan senjatanya ke arah Ray.
"Tu-tunggu dulu! Aku bukan berasal dari sini!"
"Banyak omong!"
DOR DOR DOR
Ray langsung menutup pandangannya dengan kedua lengannya akan tetapi...
"Eh?!" Tidak merasakan sakit Ray langsung melihat tubuhnya yang tidak terluka sama sekali.
"Cih, tidak seru sama sekali menembak bocah-bocah ini,"
Saat mendengar itu Ray langsung menoleh kebelakang, betapa sangat terkejutnya dia melihat pemandangan yang menyedihkan ini. Dua orang anak kecil kira-kira berusia empat atau lima tahun, satunya lagi seorang pria remaja yang memeluk erat kedua anak kecil ini kemungkinan dia adalah kakaknya.
"Hey ayo ke sana, kayaknya mereka lagi bersenang-senang katanya mereka dapat banyak gadis aduhai."
"Sial! Mereka tidak menungguku."
Ray membungkuk ke tiga anak itu walau gak bisa menyentuh mereka dia mendoakan ketiga anak itu.
"Maaf, aku tidak bisa berbuat apa-apa tapi kuharap kalian bisa tenang disisinya."
Ray kembali berdiri dan menjauh dari tiga mayat anak itu. Sesaat di perjalanan yang ia lihat adalah sebuah pesta pernikahan yang cukup mewah sekarang terlihat porak-porandakan, di kiri dan kanan hanya terlihat rumah-rumah habis terbakar dan hanya tersisa kan kerangkanya saja.
"KYAAA!!! Sakit!!! AAAA!!! Kumohon hentikan! Ini benar-benar sakit!"
"Hehe, awalnya memang sakit sayang nanti lama-lama enak kok."
"Kumohon... hiks... hentikan! Ini sakit sekali!"
"Woi brengsek, cepat dong aku sudah tidak tahan nih..."
"Yaelah, disitu kan masih banyak kenapa harus kemari, aku belum puas bersenang-senang."
"Kumohon... tolong... aku..." suara perempuan itu semakin melemah sekeras apapun ia berteriak semuanya tidak di hiraukan. Pria-pria kekar dan berotot semakin liar menjamah tubuh gadis yang ditangkapnya.
"Sial! Kenapa aku harus melihat pemandangan menyedihkan ini."
__ADS_1
Perasaan yang bercampur aduk marah, sedih, dan tak berdaya melihat semua ini. Ray kembali melanjutkan perjalannya, terus berjalan dengan tatapan kosong ia merasa seperti hantu yang hanya bisa melihat saja.
Jalanan yang dilalui sudah seperti sungai darah dan banyaknya mayat-mayat di sekitarnya, Ray terus berjalan dan menginjak-injak mayat yang di lalui-nya walau semuanya hanya tampak ilusi gambaran dari masa lalu.
"Haruskah aku mencari kebenaran dari masalah ini?" Dia menghentikan langkahnya dan tatapannya semakin kosong semua pemandangan yang ia lihat samar-samar semakin gelap.
"Sarinande~... putri sarinande..."
"Eh? Siapa? Siapa yang bernyanyi?"
"Mengapa tangis~... matamu bengkak..."
"Kenapa? Kenapa ada orang bisa bernyanyi di situasi seperti ini?"
"Aduh mama~..., aduhlah papa..."
"Tapi lagu ini, sangat menyentuh," ucapnya sembari melihat kedua tangannya yang tampak transparan samar-samar mulai menghilang serta merasakan jatuhnya air mata ke pipinya... "Sial! Apa yang kulakukan disini."
PLAAKK
Ray langsung menampar kedua pipinya dengan keras, semua pandangannya kembali normal dan ia merasa harus bergegas keluar dari mimpi buruk ini.
"Sadarlah wahai Murung, kita lagi sedang di permainkan, bodoh," ucapnya kepada dirinya sendiri.
"Lah... asap api~masuk dimata..."
"Suara nyanyian ini berasal dari dalam hutan," ucapnya sembari masuk dan menelusuri asal suara itu.
Beberapa saat berjalan disertai hujan dia menemukan seorang gadis yang terbaring di tanah yang basah. Gadis itu memakai gaun pengantin yang seharusnya terlihat cantik dan anggun, sekarang telah ternodai oleh lumpur dan... Darah.
Ray tiba-tiba terkejut karena gadis itu mengangkat tangannya keatas dan mengatakan sesuatu ke bulan.
"Dia lagi sedang berdoa ya, kadang doa adalah harapan terakhir bagi orang yang sudah sekarat," ucap Ray sembari mendekat ke gadis itu dan membungkuk untuk melihat jelas wajahnya karena gelapnya hutan ini.
Beberapa detik kemudian sinar bulan menyinari bumi yang sedang menangis, disaat itu juga pria ini sangat terkejut melihat wajah yang sangat tidak asing baginya, wajah yang dilihatnya beberapa waktu lalu.
"Tidak mungkin! Apa dia Istrinya Adithya?"
Ray semakin memerhatikan wajah gadis itu, dia sulit mempercayai apa yang barusan dilihatnya.
Terdengar langkah yang sangat cepat menuju kemari, Ray menoleh kearah kiri terlihat seorang pria yang sangat dikenalnya bergegas menuju kemari.
"Adithya!" Ray kembali berdiri dan menjauh sedikit untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Aahh... kumohon bangunlah... kumohon bangunlah sayang..."
"... ka... mu..."
"Ya... ini aku... ini aku sayang..." ucap pria itu dengan penuh air mata. "Kumohon... bertahanlah... kumohon... dan maaf... maaf..."
Ray mendengar semua ucapan mereka berdua satu hal yang membuat dia bingung kenapa Adithya meminta maaf terus ke gadis yang di cintanya ini.
Gadis ini meminta kepada Adithya berjanji kepadanya untuk selalu menjaga adik-adiknya ditambah lagi dia melontarkan semua kata-katanya penuh kebencian serta dengan sumpah atau kutukan kepada Adityha.
"Bukannya mereka berdua saling mencintai, tapi kenapa gadis ini sangat membencinya ditambah lagi Adithya dengan senang hati menerima semua yang diucapnya." Ucap Ray dengan wajah terkejut.
Melihat dan mendengar semua yang diucap gadis itu hingga nafas terakhir disampingnya seorang pria yang masih memegang tangan gadis yang tubuhnya sudah dingin dan kaku, tidak terlihat jelas air mata yang di keluarkan di wajahnya apakah itu air mata atau tetesan air hujan yang membasahinya satu hal yang pasti pemandangan ini sangatlah tragis.
"Kenapa... kenapa aku mengeluarkan air mata ini, hehe...," ucap Ray sembari menghapus air matanya di pipi.
__ADS_1
Seketika pemandangan Ray mulai gelap semuanya mulai tampak samar-samar.
"Kenapa nih! Kenapa semuanya terlihat buram," ucapnya sembari mengucek matanya.
"Waktu menontonnya sudah habis sayang, saatnya kamu bangun."
"Siapa itu?!" Kata Ray sembari menoleh ke kiri dan kanan mencari sumber suara itu. "Aduh...! Kenapa kepalaku sakit begini."
Pandangannya semakin gelap Ray berusaha memerhatikan apa yang dilihatnya walau terlihat buram, tapi dia melihat Adithya menaruh tangan gadisnya setelah itu dia berdiri dan menoleh kearah kiri sembari mengucapkan sesuatu. Akan tetapi Ray samar-samar mendengar ucapannya selain pandangan semakin gelap semua inderanya yang lain juga mulai tidak terasa lagi, satu hal yang ia dengar dengan jelas dari ucapannya:
"Apa kamu bisa membantuku?"
Semuanya semakin gelap dia tidak bisa menahannya dan akhirnya jatuh.
•••
•••
•••
"Heh! Kamu sudah sadar Tuan Wolfa."
"Sudah berapa lama aku pingsan?"
"Sekitaran Dua jam dua puluh menit."
"Begitu ya," ucapku sembari berusaha bangkit dari tempat tidur. "Aku tak menyangka Tuan Bagaskoro sendiri merawat ku."
"Aku sendiri yang mau karena kamu tamu yang aku undang sendiri, jadi aku punya tanggung jawab penuh terhadapmu."
"Maaf merepotkan mu."
"Tidak apa-apa santai saja, ini teh untuk menyegarkan mu," ucap Adithya sembari memberikanku teh yang di bawahnya.
"Terima kasih," balasku. "Hem? Bau ini... bau melati."
"Iya, itu teh melati. Teh yang selalu diminum di kampung halamanku, cobalah selagi hangat."
Aku meminum teh yang ditawarinya rasanya benar-benar enak dan menyegarkan walau kepalaku sedikit pusing, tapi setidaknya teh ini menyegarkan kepalaku sedikit demi sedikit. Aku minum teh ini sembari menatap terus Adithya yang sedang membuat teh melati di meja sampingku.
"Aku rasa kamu ingin menanyakan sesuatu? Tanyakanlah dengan senang hati aku akan menjawabnya."
Dia menyadari bahwa aku memerhatikan dia sedari tadi.
"Baiklah, kamu hanya perlu menjawabnya saja tidak perlu menjelaskannya."
"Baik, tanyakan saja."
Aku diam beberapa detik untuk menarik nafas setenang mungkin, karena aku dilanda mimpi yang sangat buruk dan masih mengingat semuanya.
"Bagaimana perasaanmu saat lima tahun lalu dan setelahnya?"
Seketika Adithya berhenti mengaduk tehnya dan butuh setengah menit agar menjawabnya.
"Sangatlah buruk dan... penuh penyesalan."
"Aku turut berduka cita."
"Terima kasih."
__ADS_1