IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Kebenaran (Part 5)


__ADS_3

Edik hanya terdiam saja beberapa saat dan membuka suara:


"Maaf..."


Satu kata yang mengartikan banyak hal, seketika mata Tina terbelalak.


"Hei, kamu bercanda, kan?" Tanya Tina untuk memastikannya sekali lagi.


"Itu semua benar, sayang..."


Saat mendengar itu, seketika tubuh Tina melemas sembari mengeluarkan air matanya.


"Kenapa... kenapa kamu melakukan ini? Kenapa!!" Sembari mendorong Edik hingga mundur.


Seketika perut Tina sakit dan Sarah beserta Siti segera menghampirinya karena khawatir.


"Bu, tolong tenanglah," pinta Sarah.


Melihat hal itu sontak langsung mendekati Tina, karena naluri seorang suami yang sangat khawatir terhadap istrinya membuatnya tergerak.


Tapi...


"Kamu jangan mendekat! Menjauhlah dariku! Aku tak ingin disentuh oleh tangan kotormu itu... agh...!"


Perut Tina semakin kesakitan dan Sarah serta Siti semakin khawatir, bukan hanya itu Edik pun yang terlihat lebih khawatir tapi... perbuatannya lah menyebabkan dia harus menjauh dari Tina, walau wajahnya terlihat sangat sedih melihat istrinya bersikap begitu padanya, tapi dia tidak punya alasan untuk membela diri atas perbuatannya.


Melihat ini aku tak tega hubungan mereka hancur di depan mataku, mengingat mereka teman dekatku dan aku tak hubungan mereka hancur karena perbuatan orang ini (Adithya).


"Jujur saja aku geram melihat ini," kataku. "Tapi, karena kita sudah lama berteman, aku punya hak untuk memperbaiki hubungan kalian. Tina, sebaiknya kamu menenangkan diri, itu demi kesehatan janinmu."


"Janin?" Sembari memegang perutnya, seketika air matanya keluar. "Aku... aku hamil, aku akhirnya bisa punya anak lagi..."


Melihat ini membuatnya semuanya terharu, di sisi lain ada wajah-wajah penyesalan.


"Tina, Edik melakukan ini karena terpaksa," kataku.


"Terpaksa?" Sembari melihat suaminya. "Apa itu benar?"


"Iya sayang, itu karena..."


"Aku yang memaksanya...," potong Adithya. "Aku mengancam dia, bahwa kamu akan menjadi tumbal ku selanjutnya jika dia tidak memenuhi permintaanku maka anakmu dalam kandungan itu akan jadi tumbal ku berikutnya, akhirnya dia menyetujui semuanya demi keselamatanmu dan calon anakmu itu."


Tina terkejut mendengar ini, kami pun juga sangat terkejut mengetahuinya. Ya... walau aku sudah menduganya dari awal sejak aku pergi ke halaman belakang villa itu, aku juga mengetahui Tina hamil semenjak dia tiba-tiba lemas sembari memegang perutnya, saat pembunuhan Jasmin di aula.


Dilihat dari raut wajahnya, tampak dia tidak menyadarinya bahwa dirinya hamil dan hanya Edik serta Adithya tahu bahwa Tina hamil, jadi pada akhirnya Adithya memanfaatkan ini untuk menekan Edik memenuhi keinginannya.


Ini juga menjelaskan anak mereka dua tahun lalu yang aku lihat dari foto sosial media mereka yang di unggah waktu itu, aku bisa menebak apa yang terjadi pada anak mereka sebelumnya, mungkin sebaiknya tidak menanyakan hal-hal masa lalu menyedihkan seseorang.


"Pak... kenapa anda melakukan ini pada kami, padahal selama ini kami sangat mempercayai bapak," ucap Tina.


"Maaf, aku juga harus melakukannya demi cintaku pada istriku, cinta disertai kehilangan kadang membuat seseorang mengambil tindakan nekat, agar bisa bertemu dengan sang pujaan hatinya lagi," terang Adithya.


"Tapikan, Tuan Bagaskoro, kamu bisa langsung memberitahukan mereka semua bahwa Iwan sudah mati saat dibawa ke rumah sakit," ucap Fu.


"Aku tidak bisa melakukannya atau lebih tepatnya tak sanggup melakukannya, karena... Siti sedang berusaha belajar dan sekolah di tempat terbaik demi mewujudkan cita-citanya menjadi Dokter juga, kalau aku langsung memberitahukan bahwa adiknya mati... itu hanya menambah beban hatinya karena dia sudah kehilangan seluruh keluarganya ditambah Iwan satu-satunya keluarganya tersisa," terang Adithya.

__ADS_1


"Iwan! Kak Adit, di mana Iwan, kumohon kembalikan adikku...," pinta Siti dengan air mata berlinang.


"Jangan khawatir, dia ada di dalam sana."


Siti langsung bergegas berlari ke toko bunga itu.


"Fu, temani dia."


Fu hanya mengangguk saja dan berlari menyusul Siti.


Setelah beberapa saat, Fu dan Siti keluar dari sana dan terlihat Fu sedang menggendong seseorang yaitu tubuhnya Iwan yang sudah terlihat sangat pucat.


"Sebaiknya kalian menguburnya segera, sebab dalam waktu dua jam tubuh mereka akan terurai dengan cepat dan membusuk," jelas Adithya.


Aku melihat Sarah mendekati tubuh Desi yang sudah dingin dan kaku, terlihat dia menatap tubuh dingin itu cukup lama dan tanpa sadar dia mengeluarkan air matanya.


Aku pun mendekatinya dan berkata:


"Ada apa, Sarah?"


"Eh, Tuan...," Sarah langsung menghapus air matanya. "Ini... bibi Desi, dia orangnya sangat baik. Dulu dia sangat memperhatikan aku bahkan mengurus semua keperluanku, dia sudah seperti ibu bagiku... hiks..."


Seketika Sarah menangis mengingat semua kenangannya bersama Desi, walaupun jauh tapi... batin seorang ibu terhadap anaknya akan selalu terikat. Sarah belum mengetahui sebenarnya bahwa Desi adalah ibu kandungnya sebenarnya, mungkin kebenaran ini akan terungkap jika dia sudah dewasa nanti.


"Sebaiknya kita harus mengubur dia segera, agar Desi juga bisa tenang di sana," ucapku.


Sarah hanya mengangguk saja dan menjauh dari Desi.


Tapi...


Adithya tiba-tiba menepuk pundak ku.


"Baiklah."


Aku membiarkan dia mengurus Desi dan tampak Sarah sangat membenci Adithya, sudah terlihat dari tatapannya.


Setelah semua sudah selesai, kami pun kembali menuju villa.


"Dokter~, kenapa kamu masih berdiam di sini?"


Miranda menyadarkan ku karena melamun.


"Eh, kamu ya..., aku tak menyangka aja, bahwa aku bisa sampai di sini, padahal aku pikir kasus ini sudah di luar kemampuanku untuk menanganinya dan mencoba mundur."


"Dan kamu tidak bisa mengabaikannya begitu saja, kan?"


"Iya, entah kenapa aku terlahir dengan rasa simpati yang besar," sembari menghela napas.


"Hehe~."


•••


Pukul 03.13


Akhirnya kami berhasil menyelesaikan kasus ini, di mana Adithya Bagaskoro dalang dibalik semua kejadian janggal di sini.

__ADS_1


Adithya sudah membatalkan semua mantra pengendali pikirannya terhadap semua orang di kota ini, dan tentu saja mereka bingung apa yang terjadi sebenarnya di sini.


Di sisi lain, kami semua masih berkumpul di villa itu, guna melakukan pemakaman layak terhadap Jasmin, Rama, Desi dan Iwan. Tampak suasana duka yang sangat dalam dari pemakaman ini bagi orang yang sangat dekat dengan mereka.


Kami berempat aku, Fu, Miranda dan Adithya sedang berkumpul di perpustakaan villa ini.


"Tuan Bagaskoro, buku mengenai peninggalan kakek anda bisa diserahkan padaku, ini demi mencegah terjadinya kasus yang sama."


Fu meminta buku yang di maksud oleh Adithya, dan Adithya hanya mengangguk lalu pergi mengambil buku itu.


"Dokter, kamu pasti tahu mengenai buku itu, kan?" Tanya Fu.


"Samar-samar sih," jawabku. "Kamu bilang buku itu semacam benda mistik yang memiliki energi supranatural yang sangat kuat."


"Iya benar, benda hal semacam itu harus segera disita, dan aku akan langsung mengirimnya ke organisasi kami, yang mana tujuan mereka mengumpulkan benda-benda mistik yang membahayakan hidup manusia, dan menyimpannya di tempat yang aman. Di sisi lain ada organisasi gelap yang mana memiliki tujuan sama dengan kami, tapi mereka menggunakan benda-benda mistik ini untuk tujuan gelap mereka," jelas Fu.


Adithya kembali sembari membawa buku yang dimaksud itu dan memberikannya kepada Fu.


Fu mengambilnya dan membuka setiap halamannya.


"Hm, tidak ada tulisannya sama sekali," ucap Miranda.


"Tentu saja, buku ini hanya diperuntukan ke orang yang sudah terikat dengannya," sambung Fu.


"Masa tidak ada tulisannya, coba aku lihat."


Aku mengambil buku itu dan melihat isinya juga.


"Serius kalian tidak melihat tulisannya?" Tanyaku. "Di sini sangat jelas tertulis satu kata dengan huruf besar semuanya yaitu CARIUNGURIP."


Setelah berkata begitu, aku melihat semua raut wajah kaget mereka.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"


"Dokter..., serius kamu bisa membacanya?" Tanya Fu yang kurang yakin.


"Tentu saja, aku bisa membacanya dengan jelas, sebenarnya ada apa, Sih?"


"Alah~, tak ku sangka ada orang yang bisa membacanya selain pemiliknya sendiri," ucap Miranda.


"Eh? Tuan Bagaskoro, apa maksud mereka?"


Aku bertanya kepada Adithya karena mereka berdua membuatku bingung.


"Sebenarnya Tuan Wolfa, buku itu hanya aku saja yang boleh membacanya, dan di situ sudah tertulis bahwa orang yang sudah terikat akan bisa membaca semua isinya," jelas Adithya. "Aku tidak tahu kenapa kamu bisa membacanya, tolong kemari kan sebentar..."


Aku memberikan buku itu kepadanya dan terlihat dia membalik-balik setiap halaman buku itu.


Setelah membacanya beberapa saat, Adithya memberikannya lagi kepadaku.


"Tuan Wolfa, kalau kamu bisa membacanya, tolong jangan pernah membaca setiap isinya, itu kemungkinan mantra dalam buku itu bisa aktif setelah dibaca dan bisa saja mencelakakan orang terdekatmu," jelas Adithya.


"Begitu ya..."


Aku langsung memberikan buku itu lagi ke Fu, karena aku tak ingin berurusan dengan benda-benda aneh seperti ini.

__ADS_1


"Hehe~."


__ADS_2